Rabu, 20 Mei 2009

Belajar Bijak di Jalan Raya



Mau gak mau, nDaru musti ngaku klo di jalanan, nDaru bukanlah pengendara yang baek. Baek pas naek motor maupun nyetir mobil. nDaru sama aja kek pengendara2 laen yang kadang suka ngiris tempe, nylonong kanan nylonong kiri, nyrobot lampu merah (sepukul dua pukul doang kok :p), klo pas naek motor suka zig-zag diantara mobil2 yang berbaris rapi ngantri lampu merah. Prestasi termutakhir nDaru adalah menghantam spion Innova karena ternyata baru tahu klo setang supra itu 2 Cm lebih panjang daripada setang F1ZR dan celah antara 2 mobil yang ngantri gak cukup lebar untuk selisih 2 cm itu. Dengan mobil, nDaru pernah menghantam pantat Angkudes mo masuk ke jalan abis naekin penumpang dari tepi jalan.

Dulu, nDaru adalah pengendara motor yang tertib. Tapi toh ternyata, jalanan yang kejam dan semrawut tanpa sadar membuat nDaru terseret arus ikut2an sistem yang ngaco. sistem ngaco yang kemudian menjadi 'wajar'. Adalah aneh kalo biker gak berjalan zig-zag di lampu merah, kita bakalan di klakson dari blakang klo pas lampu kuning kita brenti. Ini memberikan pelajaran penting buat nDaru, untuk gak menganggap remeh sistem yang kacau dan berharap kita bisa memperbaiki tu sistem, salah2 kita yang keseret dalam sistem kacau itu.

Semua itu membuat nDaru semakin sabar dalam menghadapi kesemrawutan lalu lintas di jalanan. Klo ada orang yang nyonong seenak jidat, nDaru gak langsung mencet klakson secara sporadis, paling cman senyum sambil mbatin 'sareh..sareh..sareh!!' nDaru gak berusaha mengumpat ato meludahi pengendara yang ngawur itu, karena bisa aja besok2 nDaru jg kek dia.

Senin kmaren, nDaru balik kerja naek mobil, di sebuah perempatan, di lampu merah ada tanda, belok kiri jalan terus, klo nDaru mau jalan lurus, sebenernya nDaru musti ambil jalur tengah. Pas nunggu lampu merah, nDaru ambil jalur kiri sambil jalan pelan2 n nungguin lampu hijau karena biasanya tu lampu gak lama, dibelakang mobil nDaru, ada mobil Avanza silver menyalakan riting kirinya, meraung2kan mesin sambil menyalakkan klaksonnya, karena kebiasa naek motor, kuping nDaru udah kebal denger suara klakson. Mo ganti klakson paling kenceng se-planet bumi jg nDaru gak bakal dengerin :p

Sialnya, udah nyampe baris paling depan lampu merah gak kunjung hijau juga, nDaru musti brenti, di blakang mobil Avanza silver masih membunyikan klaksonnya ditambah meraung-raungkan mesinnya tambah kenceng, jalannya kehalang mobil nDaru hibah dari babe yang body-nya emang lumayan gede.

Gak lama kemudian, menyala lah lampu hijau nan ditunggu2. nDaru denger orang treak " woooi...Loe punya otak gak sih?"......ternyata pengemudi avanza di belakang udah menurunkan kacanya. Bapak2 sekitar umur 40 tahunan. nDaru buka kaca mobil sambil melambaikan tangan, minta maap maksudnya, tapi nDaru tau, lambaian tangan nDaru pasti dianggep lambaian paling menyebalkan buat tu bapak.

Wah, Ndaru jadi heran. Apa yang menyebabkan kita begitu mudah naik darah di jalan? Kesalahan pengendara lain seakan sangat merugikan kita sehingga kalau perlu ia dicegat, di tempeleng, dimaki mpe puas, dan ditonjok kalau perlu. Di jalanan, berbagai orang dengan bermacam ragam latar belakang, temperamen, pendidikan, dan tingkat ketololan, bercampur menggunakan jalan yang sama. nDaru bilang tingkat ketololan karena, orang sebijak wakil rakyat pun bisa jadi orang tolol ketika pegang stir mobil. Sebagian besar pengguna jalan adalah orang-orang pemarah. Makanya kek yang nDaru bilang tadi, sebaiknya kita belajar dan tetap berusaha untuk tidak terseret arus. Tetap berusaha menjadi pengendara yang baik dan santun.

Jumat, 15 Mei 2009

Andai Hidup Sesimpel Cerita Sinetron


nDaru tumbuh sebagai anak bontot dan satu2nya cewe' di keluarga nDaru, itu kenapa mungkin babe ma mami nDaru agak canggung ketika mendidik nDaru, karena mereka terbiasa mendidik anak2 cowo'. Sedari kecil udah dicekokin doktrin2 bergaul a la cowo'. Jadi orang gak boleh cengeng, jadi orang musti bertanggunjawab, klo brantem musti menang (ini tambahan ndaru sendiri :p) dan segambreng nasehat2 yang mungkin klo didenger lebih cocok buat anak cowo'. Tapi toh doktrin2 dari ortu ndaru inilah yang sekarang menjadi berguna banget dalam bergaul dan menjalani peziarahan nDaru sehari-hari, secara, idup eni pan gak kek sinetron SCTV yang selalu hepi ending (entah setelah berapa ratus episode). Ada episode-episode tertentu di hidup kita yang musti kita sikapi dengan legowo, nrimo, dan sabar.

Andai semua kisah hidup ini berakhir bahagia kek cerita di sinetron, kali gak ada yak bapak2 senior (tua) minta-minta di pinggir jalan, ato Rumah Sakit Jiwa nyediain ruang buat para caleg yang stress. Hidup di dunia nyata ini lebih kompleks dari sekedar siapa menanam dia memanen. Ada faktor2 dan variabel2 yang memungkinkan si penanam gak bisa memanen, begitu pula sebaliknya, kita gak nanem tapi kita yang panen..seenggaknya pedoman ini berlaku di jangka waktu yang pendek. Toh alam semesta dan Tuhan bekerja secara misterius dan gak di duga2..kebaekan yang kita tanem buat seseorang belon tentu seseorang itu yang bales.

Di dunia nyata gak ada orang yang bener2 baek ato bener2 jahat, nDaru adalah penganut kepercayaan mazhab bahwa setiap orang jahat juga mempunyai peluang dan kemungkinan buat berbuat baek, begitu pula orang baek, pasti deh seenggak2nya dia pernah berbuat salah. Perjalanan hidup yang maha panjang inilah yang sebenernya memungkinkan kita untuk memperbaiki semua yang salah, bahwa ada pengampunan dan kesempatan buat berbuat baek kepada siapa aja seblon akhirnya perjalanan maha panjang ini berakhir. Toh gak ada yang abadi di dunia ini. Semua toh pasti berakhir, sinetron Tersanjung itu meski udah ratusan episode toh jg slese kan? Begitu pula hidup kita di dunia ini, alangkah bijaksananya klo kita niru2 para raja Mesir kuno yang rame2 bikin piramida buat kuburan dia tar klo game over. Membangun piramida2 kebaikan yang nanti mungkin bisa kita pake di kehidupan setelah mati.

Dari panjangnya episode2 sinetron Indonesia, meskipun dengan jalan cerita bermutu pas-pasan, toh kita bisa belajar bahwa segala sesuatu yang baek butuh proses yang panjaaaaaaaaang. Dan bahkan ada diantaranya yang prosesnya sulit, kek apa yang dialami sodara ndaru kemaren. Dia musti nulis skripsi dalam jangka waktu yang lama, tapi toh banyak hal yang bisa dia petik, bukan cman dari skripsi itu doang, Tapi dari proses itulah yang kemudian bisa kita ambil pelajarannya.

Kamis, 14 Mei 2009

Sistem



Liburan Waisak maren, Ndaru kedatangan sepupu Ndaru dari Surabaya. Ndaru pernah nyritain sodara sepupu Ndaru eni di salah satu postingan blog dulu. Ndaru ajakin dia touring2 naek motor ziarah ke Jogja dan sekitarnya, sambil jalan sambil ngobrol. Hehehe. Kalo dulu sepupu Ndaru ini bete curhat soal kekmana ortu dia memperlakukan dia ma kakaknya secara berbeda, maren dia curhat soal kekmana dia (akhirnya) berhasil melewati ujian skripsi yang udah dinanti sejak setaun yang lalu. Syukur deh, sepupu Ndaru itu lulus meski dia bilang, “Lulus dengan hinaan Ru, bukan dengan pujian.”

Ndaru jadi tenggelam dengan cerita sepupu Ndaru ini soal kekmana dia berproses dengan barang bernama skripsi. Ujian skripsi yang dia jalanin ga seperti yang dia bayangin. Area pengetahuan yang udah dia siapin nyatanya engga disinggung, malah area laen yang sebenernya bukan bagian besar dari skripsi dia. Sepupu Ndaru ini pun kelabakan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari satu dosen penguji cewek. Sambil nyengir dia crita kalo dia bisa-bisa lupa tentang bagian yang ditanyain tu dosen, padahal udah blajar. Dia ngaku grogi setengah mati karena dia punya beban musti lulus. Dan dia jadi kecewa karena benang merah dan jalur utama penelitian dia engga disinggung, malah ditafsir beda sama dosen-dosen penguji.
Sepupu Ndaru mengakui kalo kans dia lulus dari ujian maren 30%-70%, yang berarti 30% lulus dan 70% ga lulus. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang ga memberi dia kesempatan secara luas buat mengeksplorasi area penelitiannya, sepupu Ndaru ngerasa jadi orang tolol yang tiba-tiba harus nulis skripsi. Tapi toh, sepupu Ndaru entu lulus dengan syarat harus menulis revisi yang demikian banyak. Dan, dia bilang bahwa disinilah keadilan yang dinantikannya selama setaun lebih proses skripsi itu datang kepadanya.

Sepupu Ndaru ini sempet stres karena ga tau musti ngapain dengan skripsinya. Dia mulai nulis skripsi ini bulan Februari 2008. Ide yang dia sodorin tergolong seger dan langka buat program studinya. Tapi, dalam perjalanan, dosen pembimbing dia membelot. Kasih feedback koreksian lama, sekali datang isinya cuman komentar soal penulisan teknis tapi ga kasi komen sdikitpun soal isi skripsinya. Tiap kali sepupu Ndaru tanya selalu semuanya soal ‘terserah kamu, kamu kan mahasiswanya.’ Akhirnya, sepupu Ndaru ini keliling ke orang-orang yang bisa diajak diskusi. Dia pun ngubah konsep kesana-kemari, datang ke dosen pembimbing cuman sebagai formalitas buat memuluskan acc.

Sampai akhirnya, sepupu Ndaru ini capek dan memutuskan buat manteb maju dengan konsep yang seadanya. Dia pun mulai meneror dosen pembimbingnya buat ngasih koreksian cepet dan minta maju ujian secepatnya juga. Tentu aja itu ga gampang. Kalo ga dikibulin, dicuekin, yaa sepupu Ndaru ini diomelin kek anak kecil yang ngrusuhi emaknya yang lagi kerja. Dia bahkan sampai curhat ke ketua program studinya tapi toh si bapak ga bisa membantu dia, ato bahkan meneliti sebenernya sampai sejauh mana kredibilitas si dosen sebagai dosen pembimbing skripsi.
Mungkin, saking malesnya diteror ma mahasiswi ingusan, si dosen pembimbing akhirnya mengabulkan keinginan sepupu Ndaru buat maju ujian pendadaran. Dan, malangnya, di ujian itu konsep penelitian yang udah di-acc sama dosen pembimbing disalahin ma dosen-dosen penguji yang datang dari program studi yang sama. Sepupu Ndaru ini malah kek bola yang dimainin dosen-dosen. Sekarang, dia musti mengubah keseluruhan skripsi dalam jangka waktu yang pendek.

Tapi toh meski kecewa dengan posisi sebagai korban dari sebuah sistem, sepupu Ndaru ini menerima dengan legowo. Dia kecewa sih karena sebagai mahasiswa yang (seenggaknya) serius ngejalanin kuliahnya dia ga dapet fasilitas memadai untuk mengeksplorasi idenya di perjalanan akhir studinya. Dan, dia kecewa kekmana dia kelihatan sebagai orang bego yang diprotes sana-sini cuman karena dia harus nurut pada oknum-oknum tertentu. Terlepas dari kekecewaan itu sepupu Ndaru ini bilang kalo Tuhan engga tidur. Nyatanya, dia diluluskan. Nyatanya, ada orang yang dikirim Tuhan buat memberi dia kesempatan revisi. “Ya kalo lulusnya dengan pujian malah aneh Ru, udah dari awal skripsi gue ga beres.” Toh, dengan skripsi yang amburadul dia lulus. Lulus, paling engga jadi hak atas apa yang udah dia kerjakan dan usahakan selama ini.

Sekarang, perkaranya bukan masalah nilai A, B, atau bahkan C. Sepupu Ndaru ini bersyukur atas proses skripsi yang melelahkan dan membuatnya bete ini karena dia bisa belajar banyak hal. Dan, dia engga mau menukar semuanya dengan apapun, sekalipun dengan nilai A atau dosen pembimbing yang lebih baek dan bener-bener berkompeten di bidangnya.

Kita memang idup dalam lingkup sosial yang punya sistem. Dimana-mana kita harus ngikutin sistem yang dimiliki oleh mereka yang menciptakan sistem. Iya si, kadang emang ga enak dan serba salah saat harus berhadapan dengan sistem. Tapi toh, kadang sistem itu juga yang ngebuat kita jadi lebih memijak bumi, bahwa semuanya ga bisa dikerjakan dengan idealisme kita, bahwa ada alur yang harus kita ikutin tanpa harus meninggalkan kekuatan kita sebagai sebuah pribadi yang utuh.


gambar di ciduk dari sini

Kamis, 30 April 2009

Commercial Advertisement


Still discussing social phenomena around us, my silly thinking goes to commercial advertisements existing in this country. You might find them in television, streets, radio, or magazines. My friend says we cannot live without seeing any commercial advertisement wherever we are. Let’s say, in a morning journey to the office, we can find more than ten commercial advertisements displayed in every corner of the street. Then, when watching television for only an hour, have you ever counted how many advertisements appear?

It seems to me that all marketers are competing each other, attempting to perform the best product they’ve ever had. When certain marketer declares that their product is able to change the skin into white, another proclaims their product does not only whiten the skin but also makes the skin healthy, though we don’t know the limitation of being ‘healthy’ itself, though genetically Indonesian people mostly have brown skin. Let’s see another silly advertisement. Many shampoo producers claim that only their products that are able to make super-duper hair.

As usual, marketers display good-looking people in their advertisements. Let’s see, are there any ugly, fat, or short women who become the role model for skin product advertisement? Most of the advertisement stars are tall, white-skinned, and (better) Indonesian-German, Indonesian-English, or Indonesian-France. Those are the people that are performed as the figure-you-have-to-wanna-be.

Consequently, the world (even life) is seen from marketer’s point of view. You are happy because you are white-skinned. A woman can find her true love because her ex-boyfriend is impressed by her new beautiful appearance. An ordinary university student becomes popular among the guys in the campus because her face is (suddenly) white, shinny, and (perhaps the term) beautiful. The world seems to get close to the end of the day because you have acne right on your nose. All beautiful things belong to those who are physically perfect.

I just wanna say that be careful, perhaps so many views from commercial advertisements are influencing the way of our thinking.


Sabtu, 25 April 2009

Balada Sinetron Kita


Kantor Ndaru ada fasilitas baru, tipi 14 inch. hehe bukan barang mewah sih, tapi lmayan bisa buat nonton si Doel tiap pagi, ma sekali2 nonton gosip hehe..beberapa hari ini ndaru hobi banget nyambi kerjaan sambil nyambi nonton ne sinetron jadul. Dulu ndaru hobi banget ma ne sinetron, ceritanya unik, gak mengumbar mimpi. Skenarionya kek bener2 ada di sekitar kita,.klo ndaru bilang sih ne sinetron adalah masterpiece-nya sinetron indonesia. Blon ada yang nyaingin ide cerita ne sinetron. Ndaru gak asal nggacor, cman kadang klo pas sorean gitu di rumah, klo anime-nya global tipi lagi ada iklan, ndaru iseng mindah2 channel tipi..dan hampir semua setasiun nayangin sinetron. Na dari iseng2 males liat iklan ini, ndaru liat beberapa sinetron di sebuah stasiun tipi suwasta yang lambangnya rajawali. Berturut2 ne stasiun nayangin sinetron berjudul " Sekar", "Alisa", "Rafika", pola cerita dalam 3 sinetron ini sama, yaitu peperangan antara yang baek dan yang jelek.

Na, entah sengaja ato engga', tokoh2 utama yang bernuansa ketimuran (Sekar, Alisa, Rafika) digambarkan sebagai tokoh yang baek dan karakter2 yang namanya bernuansa kebarat-baratan digambarkan sebagai karakter yang jahat (Karina, Natasha, Febby). Sekilas dari nama2 di sinetron itu, orang sepertinya diajak untuk menarik kesimpulan bahwa yang Timur itu serba baek dan patut dicontoh sedangkan yang Barat itu serba jelek dan musti dihindari. Padahal klo kita mau jujur, sampai hari ini, budaya barat, mulai dari makanan mpe orientasi pendidikan, gak henti2nya di tiru dan dikagumi orang. Anak2 lebih suka merengek nangis minta diajak ke konter ayam goreng ato hamburger daripada ke lapak gado2 ato Nasi tumpang Koyor. Banyak ABG yang lebih bangga pake sepatu pierre cardin daripada pake selop bikinan cibaduyut. Ibu2 ma bapak2 lebih milih pake LEA's daripada baju batik. Belon orang2 yang bejibun ngantri beasiswa dari AUSaid FullBright ato yayasan beasiswa luar negeri yang dari Amrik ato Ostrali. Dan seterusnya.

Nama tokoh sentral yang bernuansa barat di sinetron2 itu ditampilkan sebagai orang yang egois, iri hati, dengki, licik, gak punya kasian, pinter nepu dkk. Tapi di sela2 sinetron ada iklan yang gak berhenti2 menawarkan gaya hidup barat. Kita dapat mengartikan sinetron2 tersebut sebagai ajakan buat lebih memberi apresiasi pada sejumlah sifat yang diwakili oleh "tokoh2 ketimuran" itu sebagai orang yang lembut, pandai menyimpan perasaan, hormat pada ortu, gak dendam, dan berbagai sikap baek laennya. Sekar, Alisa, dan Rafika mengajarkan ke kita bahwa keunggulan dan kebaikan itu bukan instan..Kebaikan itu gak jatuh dari langit. Kita musti membayar harga yang gak murah, dan perjalanan yang panjang,. makanya sinetron itu musti panjang2 dan gak selesai2 biar pemirsanya bisa nyanthel akan pesan2 yang mau disampein.

Na, dari sinetron itu pula kita bisa belajar bahwa hidup ini adalah perjalanan panjang. Perjalanan yang kadang menuntut kita menemukan sebuah jawaban. Soal dari jawaban itu gak perlu dicari2. Pekerjaan, Tugas2 harian, Panggilan, yang musti kita jalani sehari2 inilah yang stiap hari melahirkan sebuah pertanyaan buat dijawab. Alisa dan tokoh2 di sinetron itu ada dalam setiap konteks kehidupan kita masing2. Panggilan buat terlibat dalam pertempuran abadi buat melahirkan serta mengasah sikap buat nrimo, bertanggunjawab, hormat ke ortu, dan sikap2 baek laennya yang diwakili oleh tokoh2 ketimuran di sinetron itu.


Rabu, 22 April 2009

Humanisme vs Cyber world


Hehe..long time no blogging..banyak banget kerjaan kantor yang bikin otak ndaru mampet. Ide sih ada, cman ketika nulis di blog, kok jadi ilang yak..Mo nulis soal pemilu kok keknya udah banyak yang ngarti. :p Udah gitu, gara2 kerjaan sedabrek, jadi jarang maen, jarang jalan2 jadi gak bisa liat hal2 unik dan menarik yang mungkin kejadian di sekitar ndaru. Na baru kali ini ndaru dapet ide dan penulisan yang ndaru anggep layak buat ndaru share di blog ndaru.

Kmaren ndaru ngantre bayar listrik di ATM, kebetulan ATM t4 ndaru bayar listrik ini satu gedung ma sebuah warung internet yang ramai dikunjungi user. Dari user2 warnet ini, klo diliat dari pakean mereka, ndaru bisa nebak klo mereka adalah mahasiswa2 yang kuliah di t4 ndaru kerja. Tepat di teras warnet tersebut, ada seorang simbah2 putri yang udah sepuh banget menjajakan makanan kecil n gorengan ke orang2 yang datang n mo pergi dari warnet itu. Klo ndaru taksir sih tu simbah usianya udah 70 tahunan. Karena cukup lama ngantre, ndaru ckup tau klo si embah ini keknya capek banget nawarin dagangannya ke orang2, sementara gak ada pengunjung warnet yang tertarik ma makanan yang dijajakannya. Gak brapa lama, OP warnet kluar trus nyuruh si embah pindah dari sono. Akhirnya si embah pindah ke parkiran warnet. Di pojokan sambil ngaso.

Betapa berat hidup si embah, di usianya yang udah gak muda lagi, usia yang sebenernya dia bisa ongkang2 kaki di rumah, ngaso dari perjalanan hidup yang panjang, dia musti bergulat dan berpikir makanan apa yang bisa didapet hari ini, jangankan besok, hari ini aja mungkin dia bakal puasa karena dagangannya gak laku. Sementara orang2 yang masih muda, yang NGAKUnya peduli sesama..malah melenggang nyantai masuk warnet. Ya sih mungkin ke warnet buat bikin tugas dari dosen. Tapi apa iya sih bikin tugas? ini masa liburan. Paling2 jg ke warnet cman mo upload Friendster/Facebook ato chatting.

Sepengetahuan ndaru, banyak banget orang ikutan forum2 di dunia cyber. dari forum yang emang bener2 bermutu, sampai forum yang cman penyaluran hobi kapiran yang mungkin gak sempat kita kerjain di dunia real. Yang penghijauan lah, yang save the earth lah...yang pokoknya klo ndaru bisa menarik kesimpulan, tujuannya adalah untuk membuka hati kita peka akan keadaan sekitar kita. Lalu buat apa kita join aneka forum itu klo kita gak bisa ngelihat sesama kita yang nyata2 butuh bantuan? Klo dihitung dari segi ekonomi, 1 jam tarif warnet sebesar 4rebu rupiah. Dalam sejam itu berapa prosentase chatting, join forum dan bikin tugas? mana yang lebih banyak? Taruhlah prosentasenya sama, barti yang untuk chatt dkk ma join forum misalnya 2/3-nya sekitar 2.500 perak..dari join forum n chatt apa yang kita dapet? bandingkan dengan duit segitu dikasih si embah buat beli jajan dia! Minimal bisa bantuin ni simbah balik modal buat makan sekali. Gak ada salahnya kan menjadi berkat buat sesama walo kecil?

Di satu sisi, dunia cyber telah membantu kita untuk peduli pada sesama, dari chatt room misalnya, kita dapet info bahwa ada penggalangan dana buat situ gintung, ato dari forum di facebook kita bisa bantuin selamatin hewan langka. Tapi apakah itu sepadan dengan ketidak pedulian kita pada sesama yang nyata2 didepan mata kita, sedang butuh bantuan kita? Pertanyaan inilah yang menuntun kita kepada satu sisi lain dari dunia cyber, yaitu telah membunuh kepekaan kita terhadap sesama. Kita terlalu sibuk ndaptar Greenpeace di internet, ikutan selamatin paus Minke Kerdil di Laut Bering, tapi gak liat ada orang butuh bantuan di depan mata kita. Ndaru emang gak hobi ikutan forum, ikutan kopdar, ato ikutan mailist, ato berlomba2 dapetin teman sebanyak2nya dari facebook. Ndaru juga gak gitu care ma image ndaru di dunia cyber. Toh ada image yang lebih nyata yang lebih bisa ndaru bela daripada cman image di cyberworld, yaitu image kita dihadapan Yang Diatas, Yang Maha Tahu. Image yang nantinya bisa kita pakai untuk menentukan t4 disono setelah kehidupan di dunia fana ini selesai.

Senin, 23 Maret 2009

kadang konyol

Dulu, jaman ndaru kuliah, pas mo ujian sekripsi, ndaru musti ngumpulin syarat2, diantaranya fotocopy ijazah SMA yang di legalisir. Pertanyaannya adalah? Buat apa? orang yang mo ujian skripsi pan tentunya udah melewati masa kuliah yang cukup lama, tarohlah 3 tahun paling cepet, orang mo kuliah jg musti lulus SMA kan? jadi klo dia udah kuliah, pas masup kuliah kan dia ngasih ijazah SMA? Napa musti ditanyain lagi pas mo ujian skripsi? Berkesan tolol bukan?

Lagi,kmaren ndaru liat di tipi, cman gara2 honor gak keluar, para pegawai honorer di KPU yang bertugas ngelipat surat suara yang mo dipake buat pemilu besok mogok kerja. Hehe..Pak Dirman ma Panglima Polim pasti nangis darah klo tau anak2 cucu yang dia perjuangkan cman mentingin perut n isi kantong mereka sendiri. Gak ada lagi istilah heroisme dan mementingkan kepentingan umum, yang ada kepala sendiri untung duluan. Trus ditengah rusuh2 persiapan pemilu yang masih carut marut, eh para petinggi KPU malah piknik ke luar negeri dengan alasan sosialisasi pemilu di negara laen. Mang KPU gak punya koneksi internet buat telekonpren apa? Berkesan tolol bukan?

(kategori: artikel terpendek tanpa gambar) :p