Jumat, 16 April 2010

Seperti dalam cerita "Bukan Pasar Malam"


Tulisan ini merupakan kelanjutan dari gamblehan nDaru tentang pengalaman seseorang di Universitas Nganu, tepatnya di Program Setudi Pendidikan Guru Sekolah Mbelgedes yang sudah Ndaru posting bulan lalu. Kalok liyat judulnya, itu nDaru ambil dari novelnya Pramoedya Ananta Toer. Soalnya, kisah seseorang ini hampir sama dengan alur cerita novelnya mBah Pram itu.

Pada awalnya, kami berduwabelas datang berduyun-duyun seperti rombongan penikmat pasar malam yang selaluh datang bergerombol. Sebelas asisten dan satuh tenaga administerasi. Sayah masih ingat hari ketika kami mengikuti orientasi Asisten Program Setudi Guru Sekolah Mbelgedes. Layaknya orang baru, kami saling berkenalan dan seperti satu visi buwat bekerja demi kebaikan guru-guru sekolah negeri inih. Sayah endak menangkap sedikitpun bayangan keserakahan ato ambisi pribadi tertentu di mata sebelas orang lainnya yang duduk mengitari sayah.

Kami pun menempati satuh ruangan besar yang merupakan bekas tempat orang bereksperimen. Ruangan ituh cukup luas, tetapi meja-meja dan kursi-kursinya tidak mirip seperti kantor sungguhan. Ndak papalah, yang penting bekerja sajah. Tempat itulah yang jadi sangkar sebelas asisten, termasuk sayah, tempat kami saling mencurahkan segala kekuwatiran dan kebungingan menjalanken peran kami sebagai asisten. Ada kalanya, kami inih melebihi dosen. Lha mosok di perkuliahan Program Setudi Jarak Jauh Banget (PJJB), ada satu kelas yang sayah asisteni, semuaaaa sayah yang bekerja. Dari menyelesaikan ngajar materi kuliyah, mbikin materi buwat mahasiswa, ngoreksi tugas mereka, laluh menentukan nilainya. Eh, yang dapet duwit di akhir perkuliyahan ya dosennya. Cen a** tenan kok! Tapi, ada kalanya jugak, kami endak lebih dari babu para dosen yang harus menjalankan tugas-tugas administerasi mereka.

Di masa-masa awal ituh, layaknya dunia pasar malam dimana orang-orang berduyun-duyun datang, kami juga berduyun-duyun bekerja bareng-bareng, saling menopang satuh sama lain, membuat gerakan saling mendukung. Semua ituh dikerjakan karena kami mulai gerah dengan keberadaan kami yang ternyata tidak dikehendaki oleh oknum-oknum tertentu. Pernah, kami diusir dari rapat program setudi oleh seorang pembesar di sana dengan alasan kasar, “Lha kaliyan ituh siapa?”. Sistem penggajiyan yang tidak jelas memang membuat kami marah, tapih kami sama2 sepakat buwat bersabar. Kami sama-sama marah ketika ada satu asisten yang sakpenake dewe, seperti kerja di tempat simbahnya. Kemudiyan, kami merancang kantor kami sendiri, mengubah laboratorium usang menjadi tempat yang (agak) layak untuk dihuni segerombolan manusiya yang katanya punya tugas mengajar ratusan kepala calon guru. Semua berjalan seperti dunia pasar malam, berduyun-duyun tertib mengisi daptar absen, berduyun-duyun saling melengkapi.

Tapi, selanjutnya, ketika dinamika dan godaan datang, terbuktilah perkataan novelis legendaris Indonesiya tercinta, Pramoedya Ananta Toer, bahwa manusia ituh bukan pasar malam, tidak berduyun-duyun lahir lalu berduyun-duyun mati. Semakin jelaslah siapa yang menyimpan ambisi tertentu dan menjadi sakpenake dewe. Mereka yang ternyata hadir di kantor itu karena hubungan darah yang tak terbantahkan semakin congak mengambil segala jenis pekerjaan dan proyek, merasa aman dengan posisi yang sudah dipatoki pring sama bapak-bapak mereka. Lalu, endak ada lagi empati ke teman-teman lain, termasuk sayah yang dicap sebagai saingan terberat meski sayah juga ndak mudeng sayah perlu menyaingi mereka dalam hal apa. Ada diantara kami yang memilih untuk menjadi babu sejatinya para dosen, mengerjakan apapun yang mereka minta sampek harus opnam di rumah sakit, kekeselen. Ada yang diam-diam berusaha menjilat bokongnya petinggi dengan mengikuti program beasiswa yang katanya “bisa menjadi jalan buwat andah masuk ke sinih”. Ada yang mutung, tapih tetap tidak bisa menunjukkan ketidakberdayaannya sehingga masih manut-manut sajah.

Sayah sendiri? Sejak awal, sayah memang sudah seperti anjing sayah di rumah yang sensitif sama orang-orang ato bau-bau yang endak bener. Sayah kukuh bilang endak terhadap segala peraktek yang merugikan moralitas sayah sebagai pengajar calon guru. Saya ndak tau itu cuma idealisme semata, tetapi sayah mantap menjalaninya. Sebagai konsekuwensi, sayah berjalan sendiriyan, menjadi pengangguran di kantor yang lebih sering menghabiskan waktu di luar kantor sambil belajar dan berkreyasi sendiri sajah.

Duniya pasar malam itu runtuh seketika. Masing-masing berpikir kebutuhan dan nasibnya sendiri. Dan, mereka yang sudah merasa aman dengan posisi karena keberadaan bapak-bapak mereka menegakkan kepala bagaikan puteri mahkota, lalu dengan cepat lupa terhadap segala janji dan komitmen yang mereka gaungkan dulu. Sayah ingat bagaimana mereka mengkritik sistem kurikulum program setudi ini, sikap dosen-dosen yang endak berkomitmen sama ngajar dan mementingkan proyek ratusan juta rupiah, juga suasana pembelajaran yang kuno. Eh, sekarang mereka munduk-munduk di depan para dosen.

Seperti tokoh Bapak dalam novel Bukan Pasarmalam ituh, sayah juga kecewa melihat polah tingkah teman sekompariot sayah yang berebut kursi dan duwit. Sayah memang tidak seperti dua teman sayah yang saking kecewanya laluh mundur dan mencari pekerjaan lebih layak. Sayah masih mempertahankan harapan untuk memetik buah dari benih yang saya tanam, tapi sayah juga endak mau sakit TBC seperti Bapak dalam novel Pasarmalam itu. Sedapat mungkin sayah menganggap pengalaman inih sebagai pelajaran untuk tidak melupakan dunia pasar malam yang kadang harus diterapkan dalam hidup. Lainnya? Ha preekkkk!


Jumat, 09 April 2010

Aneh..aneh..dan Lagi Lagi Angeh

Postingan nDaru kali inih berbau tendensius dan subjektifitas tingkat tinggi, maap kalok ada yang tersinggung dan ngerasa kesindir.



Duniya inih aneh. Begitulah pikiran nDaru akhir2 inih. Coba Anda silakan bayangken. Ada orang lulusan D3 Komputer tapi endak bisa benerin komputer, ada lulusan S1 Teknologi Informasi tapi endak mudeng ngetrace alamat net tertentu, ada lulusan S1 Ekonomi murni ngajar di sebuah program setudi guru sekolah dasar karena ada bapaknya disana. Lebih aneh lagi, mereka bisa selamat sejahtera sentosa di kantor mereka masing-masing, tanpa kerja keras, datang duduk dan fesbukan (lagih2 benda inih!), gajiyan juga lebih gede, pulang bawak proyekan banyak. Mereka seperti ituh karena gelar yang sudah melekat di nama mereka, juga karena hubungan pribadi yang tak terbantahkan. nDaru ndak lagi sirik, tapi fakta membuktikan.



Tapi, ada orang yang bener2 punya sekil dan kecakapan yang buwagus, sikap simpatik dan menghargai pekerjaan berikut orang2 di dalemnya, endak bisa dapet kedudukan di pekerjaanya, cuman karena latar belakang pendidikannya nyrempet jawuh dari yang seharusnya tertulis. Bukti nyata bagaimana orang itu selama ini bekerja berikut berbagai trening dan pelatihan (sama saja ya) yang sudah diikuti endak bisa menjadikan atasannya -yang katanya lulusan luar negeri- melek melihat apa yang sebenernya terjadi.



Ada lagi nih. Orang goblok ditambah tampang juwelek (hehe, kalok ini apesnya dia), naaa bisa dapet kesempatan di kantornya cuman karena dia bakat bergulat lidah, jadi penjilat bosnya, endak peduli berapa kali bos ganti pokoknya dijilat teruuus (sampek endak tawu mana yang dijilat ya). Sudah kelihatan kalok kerja juga endak becus. Jadi ceritanya, ini ibu dosen. Kalok ngajar dodol, pengetahuan rendah, naaaa bikin kebijakan jugak seenak perut sendiri. Trus, ibuk ini dengan segala daya upaya berusaha menjilat pantat pimpinan buwat ngrayu disekolahin di ostrali sono. Pimpinan bilang oke, ternyata endak lulus tes. Trus, dia nyarik beasiswa yang bisa ngasih duwit milyaran buwat sekolah di ostrali. Eh, pakek cara menjiplak thesis seseorang di internet segala. Untung, Tuhan itu endak tidur, wong beliyonya langsung ketahuan trus dibleklis. Endak tawu kenapa si ibuk mupeng banget ke ostrali, mo kawin sama kanguru mungkin ya.



Orang-orang lain yang punya kemampuan dan kecerdasan masih harus bersabar buwat dapet kemapanan. Saben ari mereka kerja dengan rasa was-was, apa lagi yang akan dikerjakan oleh para bedebah tolol yang beruntung dan endak tau malu itu. Lha, parahnya lagi, apa yang dikerjakan segerombolan orang tolol itu selalu dibenarken oleh para pembesar institusi. Salah ya dibela2in, bener dikit aja langsung dipuji2. Sementara mereka yang nDaru sebut belakangan itu? Harus bener2 menguras otak dan keringat supaya bisa memenuhi kriteria pembesar.



Logikanya, yang bekerja baek pasti dapet kebaekan, yg jelek ya dapet kejelekan. Tapi toh, memang duniya itu bukan surga. Tidak ada kesempurnaan disini. Kalok mau sempurna ya adanya di surga (katanya). Dan, memang otak cerdas dan kemampuan yahud bukan jaminan orang sempurna. Begitu juga orang pinter dan baek endak cukup dapet satu dua tiga kali ujiyan, mungkin berkali-kali supaya mereka jadi orang yang bener2 baek dan menghargai hidup.

owalah..facebook to

Sebenernya, nDaru sudah lama sekalih pengen nggambleh masalah ini, satu benda yang disebut temen nDaru a cute little thing we call facebook. Kalok mbak Pito prihatin dengan keberadaan facebook yang disalahkaprahkan untuk melecehkan anak-anak, nDaru bakal mengulas soal keprihatinan nDaru tentang keberadaan facebook secara umum ya. Ituh gara2 nDaru sebel liat tingkah temen sekantor nDaru yang endak bisa lepas dari facebook. Dateng jam setengah delapan pagi, embak jomblo satuh inih langsung duduk di kursi kebesarannya, trus buka facebook. Kegiatannya sudah pasti nguthek-nguthek akunnya, aplot fotonya yang endak keren babarblas, narsis ndeso dan sok gawul yang dipotret pakek kamera punyak kantor, trus komen-komenan sambil ngakak2 sendiri (sampek kami mikir embak ituh harus dibawa ke Institut Lali Jiwo kali). Giliran kerja, beliau inih suka sekali menghindar. Bilang sibuk lah, padahal kerjaannya cuman ngedit potonya, tar diaplot, edit lagih, aplot lagih, dan lagih. Eh sekalinya kerja kerjaannya endak beres n belepotan sanah sinih. Wes to kalok orang njeporo bilang orang inih “imbecile” tingkat akut


Temen nDaru yang satu lagi berantem sama istrinya gara2 maniak ceting. Kegemaran baru inih dia dapet gara2 maniak sama facebook juga. Disana, dia ketemu lagi sama temen2 lamanya, tak terkecuwali mantan pacar dulu di jaman bahulak. Selidik punya selidik, mereka sebenernya sempat menjalin hubungan yang cukup seriyus, sampek mau nikah, tapi ditolak sama bapak pacarnya jadi harus bubaran. Naaa, ketika ketemu lagi di facebook, semua kenangan jaman King Kong masih balita itu muncul. Dari awal cuman sei hai, lama2 jadi ngobrol banyak trus saling bertukar alamat email dan ceting.


Malah, temen nDaru inih bela2in mbeli hape yang bisa dibuwat ceting, dan fesbukan, biyar bisa konek sama mantan pacarnya itu siyang malam. Tiap Sabtu alesan ke istrinya lembur, padahal ceting di kampus (kan gratis, cepet lagi koneksinya). Lama-lama, istrinya curiga dan menginterogerasi. Berantemlah mereka, cukup hebat dan cukup seru buwat dijadiin satu episode sinetron ato tinju mungkin.


Kalok nDaru lihat ya, banyak orang yang mendewa2kan facebook. Nongkrong di depan komputer berjam2 juga dilakoni, asal terus konek dengan facebook. Sayangnya, keberadaan facebook inih buat sebagian orang sudah jadi soulmate yang tak terpisahkan. Apa-apa ditulis di situh. Bangun tidur bikin posting “Slamat pageee duniaaaa”. Tar siang bikin lagi “Lunch yukkk”. Trus malem diakhiri “Met malem semua”. Ituh setengah mending ya, tapi ada yang selaluuuu laporan ke facebook apa yang dirasakannya. Bahkan, mengumbar emosi norak ria disana, endak peduli itu area terbuka bagi semua mata yang melihatnya. Lah, jadi gawat to, soalnya mereka mikir hidup cuman di facebook sajah. Segala hal dicurhatin di facebook, bikin lupa ada orang di sebelah yang lebih nyata, yang lebih manusiawi buwat disapa dan diajak ngomong. nDaru yakin kok, mereka endak cuman satu duwa jam sajah nongkrong di facebook, pasti berjam-jam. Lalu, berapa waktu buwat manusia laen yang bukan ada di facebook?


Lebih norak lagi, kebanyakan orang pengen tampil sempurna di facebook. nDaru belon pernah nemuin satupun foto yang dipajang di facebook itu foto orang lagi ngiler ato lagi u tiga (uthik2 upil red). Semuaaa pasti yang lagi rapi, cantik, ganteng, dan ditambahi efek yang luar biyasa dari photoshop, corel draw, ato yang laen. Trus, ikutan semua kegiatan di facebook juga yang keren2, punya rumah di facebook, atau perkumpulan apa sajah lah, pasti yang keren. Endak ada yang pengen tampil jelek disana. Semua serba keren dan sempurna.


Di facebook, orang juga dengan cepet jadi manusia yang serba tanggap, serba care. Pas ada kasus Prita Mulyasari langsung jadi simpatisan yang mendukung Gerakan Dukungan ke Prita Mulyasari. Ada juga ajakan Save the Earth, Save the Nation, ato Save2 laen. Lha, terus so what?? Terus kenapa? Kalok nDaru udah klik di situh dan setujuh, terus ngapain? Apakah nDaru melakukan tindakan yang nyata? Kalok nDaru ngeklik setujuh ikut gerakan Save the Earth misalnya, tapi tar pulang nDaru buwang sampah sembarangan ya endak ada bedanya to. Lebih konkret kalok nDaru menghemat listrik atok buwang sampah dengan bener, keknya bumi lebih terselamatkan biarpun cuman 0,0000001 persen sajah. Banyak yang ngikut acara2 kek gituh, tapi keluar dari warnet, ato setelah log out dari facebook, ada simbah2 kelaperan endak mau nolong. Coba tanyak orang2 yang suka ugal2an di jalan itu, punya facebook endak mas/mbak? Ikutan gerakan anu? Pasti pada jawab iya. Facebook mereka pasti heboh.


nDaru endak anti sama facebook ya. nDaru toh punya akun facebook dan berkreasi juga disanah, meski endak serajin yang laen. nDaru cuman merasa kalok ada baeknya kita mulai belajar bijak, belajar waspada untuk memperlakukan benda bernama teknologi, endak terkecuwali facebook ini. Okelah, facebook berguna buwat menjalin komunikasi dan menjaring informasi secara luas, tapi jadi norak kalok facebook bikin kita lupa jadi manusia yang butuh saling menyapa dan menghargai, butuh ketemu mata sama mata, butuh tindakan nyata endak cuman sekedar tulisan saya ikut mendukung lalu titik. Jadi aneh jugak, kalok kita berusaha hidup di facebook, karena namanya manusia ya hidupnya di atas tanah, di atas bumi, dan bumi itu punya dinamikanya sendiri. Ada alam, ada sesame manusia, ada tumbuhan dan tetek bengek laennya. nDaru endak keberatan kalok pada mau curhat2an di facebook, tapi mbokyao endak tiap hal dibagi, bahkan secara vulgar. Apa itu endak saru? Apalagi akun kita inih bakal diliyat oleh orang sedunia, termasuk anak-anak kecil yang kebetulan bapaknya tajir dan bisa mbiyayain dia onlen di facebook. nDaru masih percaya kalok tiap orang ada sisi pribadi yang endak bisa dibagi sama siapa saja, ato bahkan hanya ke satuh orang.


Kemajuan teknologi yang makin lama mirip banjir inih emang bakal susah kita hindarin. Di satu sisi, teknologi ini membantu manusia membangun budayanya. Tapi di sisi laen, juga membantu merusak budaya itu sendiri. nDaru ndak berpangku tangan dan mengeluh di kursi kok mbak pit, meski babak bundas, nDaru masih mau ngajarin anak-anak meski cuman di pedalaman buwat ber-internet dengan sehat, memakai facebook sesuai dengan fungsinya. Membuat filter2 yang mungkin bisa membantu buwat anak2 yang belon cukup umur mbuka facebook. Ndak terlalu banyak emang, tapi seenggaknya lmayan lah. :D

Rabu, 31 Maret 2010

pada akhirnya bukan identitas, tapi imajinasi belaka

Syahdan kata sahibul hikayat, di Jawa Dwipa ini, pernah hiduplah sebuah Perguruwan Tinggi Suwasta Nasional yang sampai sekarang masih terdengar gawungnya. Universitas Nganu, itulah nama PTS itu.

Di salahsatu program setudinya, sebutlah Program setudi Pendidikan Guru Sekolah Mbelgedes ato yang terkenal dengan singkatannya PGSM, pada suatu hari membuwat pengumuman di media tentang perekrutan tenaga asisten untuk program PJJB, Pendidikan Jarak Jawuh Banget, sebagai orang yang merasa concern dengan pendidikan di negeri ajaib ini, dan juga kuwalifikasi disiplin ngelmu kemeruh saya match dengan rikuwariyemen rekrut ituh, saya dengan semangat membara mencoba melamar di Progdi tersebut.

Singkat cerita, karena tampang saya ini kece-kece imut, dan juga otak saya yang memang pinter bawaan orok, saya diterima di progdi tersebut. Di wawancara awal, saya teken sebuah surat yang isinya saya sanggup menangani program PJJB ituh, dan saya nanti akan digaji sebesar 750.000 kepeng di 6 bulan pertama, dan 6 bulan berikutnya, saya ndapet gaji 1.500.000 kepeng. Saya setujuh dengan sarat2 tersebut.

Kemudian saya menjalani hari-hari menjadi asisten di progdi tersebut, sebagai asisten, posisi saya ndak lebih dari jongos yang disuruh itu disuruh ini, disuruh nggajuli ngajar dosen-dosen seniyor yang pinter-pinter [nipu] ituh, karena mereka sibuk ngobyek diluwar, entah obyekan apa saya juga endak begitu tauk. Lalu ketika tahun perkuliyahan baru dimulai, saya jugak dimintak buat jadi pengajar buwat beberapa mata kuliyah di program setudi itu, karena saya memang cita-citanya njadi Begawan, maka saya nerima-nerima aja itu pekerjaan yang dikasih ke saya ituh.

Yang menjadi masalah adalah sistem penggajian saya yang amburadul blas. Kata sumber yang kurang bisa saya percaya, penggajian yang amburadul ituh saya dapet gara-gara system rekruitmen dulu endak memenuhi prosedur yang seharusnya, tapi kata spion saya yang saya percayai, itu dikarenakan oleh famili, keponakan dari wakil pimpinan di fakultas yang menaungi progdi ini endak lulus seleksi jadi asisten kayak saya ini, entah karena memang ndak pinter, atau tampangnya jelek seperti mbokde-nya itu. Jadinya sang wakil dendam dan ngeluarken kebijakan yang sedikit banyak merugikan para asisten inih. Jadi gajian yang katanya di bulan ke 6 jadi sakjuta setengah kepeng itu ndak pernah terjadi. Kami disuruh absen tiyap hari dan satu jam-nya dihargain 4.600 kepeng, itupun masih musti dipotong jam kami ngajar regular karena KATANYA, ndobolnya bu wapim ada imbalan tersendiri dari ngajar ituh, tapi honor pekerjaan saya yang pakek telepati dengan mahasiswa-mahasiswa itu sampek sekarang jugak belon dikasih. Sebulan saya gajian jugak pasti bukan tanggal 1 awal bulan, kadang tanggal 15 kadang 20, bahkan sempat satu bulan saya gajian tanggal 30. Untung pacar saya itu cukong pengepul biting sintetis, jadi hidup saya ndak gitu keleleran amat.

Di bulan Ruwah nanti, saya mau diberhentikan, alasannya jugak karena kesalahan prosedur penerimaan dulu. Tapi di lain pihak, spion saya bilang itu jugak karena Bu Wapim endak berkenan dengan para asisten yang sudah tega menyingkirkan familinya yang dulu nglamar dan endak diterima. Apakah semua asisten diberhentikan? Ternyata endak, sebagian masih dipertahankan, tapi yang jelas yang dipertahankan bukan saya. Yang di pertahankan adalah anak-anak dari para Begawan yang sudah lama mengabdi disitu, dan juga mantu dari salahsatu Begawan bangkotan yang sudah mbaurekso disitu puluhan taun.

Saya belon tahu setelah Ruwah nanti saya mau kerja dimana, tapi yang jelas saya ndak gitu minat di Progdi Pendidikan Guru Sekolah Mbelgedes ituh, bukan karena gajiyannnya endak jelas, tapi sepertinya otak saya terlalu pinter untuk saya aplikasikan disitu, disamping kurikulumnya masih ndeso dan endak keren babarblas, saya endak mau mengorbankan isi jidat saya yang memang mletik ini untuk menjadi salahsatu biang kekacauan duniya pendidikan di negeri ajaib inih.

n Cerita ini hanya rekaan penulis belaka, tidak ada kesamaan nama tokoh ataupun tempat karena sudah melewati proses editing. Jika memang ada kesamaan runutan kejadian, itu adalah benar-benar kebetulan belaka.

Senin, 22 Maret 2010

Bisnis Sekolahan (Sertifikasi Dengkul part 2)


Semenjak mbantuin tetangga nDaru yang kemarin itu, nDaru kok merasa jadi orang paling care dengan dunia pendidikan di Indonesia ini ya..wekekekek..tapi ya ndak pa2 lah, kali2 aja tulisan nDaru ini ada yang mbaca dan kemudian bareng2 mbikin dunia pendidikan Indonesia ini sedikit lebih baek, maka dari itu, tulisan nDaru kali ini mau menggunakan kata ganti orang pertama " saya" bukan "nDaru" dan makek bahasa yang sesuai dengan EYD..biar terlihat ngilmiyah gituh.

Dari beberapa tanggapan yang saya terima menyoal posting saya yang edisi sebelum posting ini. Saya sedikit banyak berkesimpulan bahwa dunia pendidikan di Indonesia ini masih banyak yang perlu diperbaiki. Dari kesaksian Jeng Pito soal "mama"nya yang getol menyelenggarakan pelatihan sertifikasi untuk guru-guru SD, sampai pada artikelnya mas stein tentang pengalaman dia sekolah di ndeso. Dan refleksi beliau ketika mencarikan sekolah untuk anaknya. Terbersit satu kesimpulan di benak saya bahwa pendidikan di Indonesia ini masih jauh dari esensi mendidik yang sebenarnya.

Bagaimana tidak, sekarang banyak sekolah-sekolah yang berlomba-lomba menyandang status, berstandard internasional, bukan saja sekolah swasta, sekolah negri juga ikut-ikutan melabeli dirinya dengan standard internasional, sekolah apakah ini? Apakah sekolah-sekolah ini diperuntukkan bagi mereka-mereka yang mau menjadi babu eh diplomat atau bisa kerja di luwar negri? standard kompetensi dari sekolah internasional ini kekmana? Atau jangan-jangan sekolah berstandard internasional ini hanya sebagai iklan untuk menggaet murid saja? Tentu hal ini jauh dari esensi mendidik bukan?

Lagi, sertifikasi guru-guru SD, apakah mereka para pahlawan tanpa tanda jasa ini sudah dipersiapkan secara matang untuk mengikuti sertifikasi? Apakah guru-guru yang sudah sepuh dan sudah mengabdi selama 3/4 umurnya juga masih dibebani dengan sertifikasi? Rasanya kok tidak perlu. Pengabdian mereka yang rata-rata sudah lebih dari 20 tahun itu sepertinya sudah lebih dari cukup untuk mengkonversi syarat-syarat sertifikasi yang absurd dan kontradiktif itu.

Saya pernah berwawancara dengan seorang mahasiswi PGSD di Universitas Nganu tempat saya bekerja ini. "Situ kok mau kuliah di PGSD kenapa?" Jawabannya benar-benar mirip dengan para korban MLM yang hanya mengharap seonggok emas buat hari tua mereka. "saya mau jadi PNS guru SD mbak, mbak nDaru kan tau, sekarang nasib guru benar-benar sedang diperhatikan oleh pemerintah, jam kerja sedikit, gaji banyak, pensiunan jg ndak sedikit lho" Saya yang sebenarnya mengharapkan jawaban yang patriotis dan dramatis, terpaksa masygul mendengar jawaban yang brilian ini. Sungguh benar-benar niat yang mulia dari seorang calon pendidik anak-anak bangsa. Misi yang amat mulia bukan? Minimal untuk jidat dan perutnya sendiri.

Tidak lama kemudian,saya kedatangan tamu dari Semarang, setelah ngobrol ngalor-ngidul tentang jaringan pendidikan nasional di negeri ajaib ini, dia kemudian membisikkan sebuah iklan kepada saya. S2 "hanya" 13 juta, tidak perlu kuliah dan membuat thesis susah, pokoknya hanya asal datang dan tanda tangan absen, M.Pd sudah bisa ditambahkan di belakang nama saudara. Apa tidak enak banget itu? Sementara di Universitas Nganu tempat saya bekerja, program pasca sarjana pendidikan itu uang pangkalnya saja 8 juta, total jika ingin mendapatkan gelar M.Pd kita haru mengeluarkan uang kurang lebih 19 juta rupiah, itu masih harus membaca literatur, ikut kuliah, membuat tugas, thesis dan kawan-kawannya.

Menjadi profesi pengajar sudah didasarkan pada untung dan rugi, dengan kuliah di PGSD atau jadi M.Pd catutan bisa dijadikan modal buat mengeruk uang pemerintah dari gaji bulanan mereka, belum uang-uang yang lain yang bisa berpotensi untuk kesejahteraan diri sendiri. Masih banyak gedung-gedung sekolah dasar yang kondisinya lebih dramatis dari SD tempat anak-anak Laskar Pelangi bersekolah, bahkan sampai sekarang ini. Pernahkan terbersit di benak mereka untuk mengajar di sekolah-sekolah seperti itu?

Pendidikan benar-benar menjadi komoditas bisnis yang menggiurkan. Cita-cita luhur yang ditanamkan oleh para bapak-bapak pendidikan kita seperti Ki Hajar Dewantoro itu betul-betul hanya menjadi simbol dan iklan belaka. Memang masih banyak orang-orang yang mau membuat perubahan, mau dan bergerak dengan kemampuan mereka sendiri untuk peduli pada dunia pendidikan di negara ini, tapi sepertinya jika sistem kependidikan di negara ini masih gini-gini saja...ya tidak usah mengharap banyak dulu

Kamis, 18 Maret 2010

Sertifikasi Dengkul


Memperhatikan dan mengikuti dunia pendidikan di negeri ajaib ini benar2 membuat perasaan nDaru bercampur antara miris, jengkel, muak, tapi kok ya mesakke. Jadi ceritanya ginih: beberapa hari ini, nDaru sibuk mbikin piagam dan sertipikat asli tapi palesu. Bukan buwat nDaru sendiri, tapi buwat ibuk2 tetangga nDaru yang lagi mumet jungkir balik buat memenuhi syarat2 sertifikasi guru SD yang lagi rame2nya dibikin sama pemerintah.

Si ibuk ini sudah jadi guru selama kurang lebih 30 tahun lamanya, 30 tahun mengabdi jadi guru jujur berbakti mirip Oemar Bakrie. Tapi pengabdian beliau yang tulus ini terpaksa dinodai dengan kecurangan-kecurangan kecil kek mbikin sertipikat dengkulan tadi biyar bisa ndapet predikat : GURU SD BERSERTIFIKAT. Beliau terpaksa ngikut sertifikasi ini karena didesak biar cepet2 ndapet sertifikat ini. nDak tau juga efeknya kalok endak dapet sertifikat apa mau dipecat ato gimanah, yang jelas POKOKnya beliau musti bersertifikat.

Menurut nDaru, yang sementara ini jugak berkecimpung di belakang layar dunia pendidikan. Sertifikasi guru SD inih hanya akal-akalan orang2 brengsek buwat nyarik tambahan penghasilan baru, bagemana endak bisa sampek pada kesimpulan itu, lha di depan mata kepala nDaru sendiri, ibuk yang nDaru bantu ini menyisipkan amplop berisi duid tentu saza, yang beliau ambil dari gajinya yang endak seberapa itu, kepada assessor yang meneliti berkas2 portfolio yang dia serahkan...Diyasar assessor a*(5)u.

Ditinjau dari persyaratan kelengkapan berkas dan administratip saja, program sertipikasi guru ini sungguh mbingungi dan kontradiktip, bagemana endak hayo, ha wong jadi guru SD itu kan susah to. Setiap hari menghadapi dunia anak2 yang dinamis dan penuh dengan variabel2 kehidupan yang harus disikapi dengan kepala dingin dan kecerdasan jugak kesabaran yang luwar biyasa. nDaru salut buwat semua guru SD di republik ini, mereka dengan tekun mengajar didepan kelas, sementara yang di ajar jidatnya mengembara entah kemana. Praktisnya, jadi guru itu mustahil buat disambi dengan pekerjaan yang laen, eeeeee lha ini, persyaratan administratip dari sertipikasi ini mewajibkan para guru untuk mempunyai kegiatan lain dalam kemasyarakatan, ngikut kepengurusan RT, ngikut Darma Waria Wanita, ngikut seminar itu semilir ini. Lha kalok si ibu guru sibuk ngurusin RT, siapa yang mengoreksi THB murid2nya? lha kalok si ibu guru sibuk darma wanitanan, siapa yang ngawasin murid2nya belajar? Jiyaaaan ndak relevan banget kan?

Si ibuk tetangga nDaru ini, daripada beliau menyalah-nyalahkan sistem dari ndak tau siapa itu (=baca depdiknas) mendingan dia mengikuti aturan maen yang ada, walaupun dengan sedikit (tapi banyak) curang. Di SDnya, orang yang lulusan S1 hanya dengan gacuk ijasah mbayar, kerjanya cumak ngasih PR dan mukulin pantat murid2nya bisa langsung ndapet sertipikasi meski baru jadi guru selama 2 tahun doang, sementara si ibuk ini dengan masa bakti yang sedemikian panjang musti menempuh perjalanan yang berliku buat ndapetin sertipikasi t@* ini..sebuah sistem yang ndak gawul babar blas kan?







Rabu, 03 Maret 2010

Brani nDak Bilang Tidak?? Hayooo??


Dulu, jaman nDaru masih baru-barunya di kampus nganu ini, pas masih jadi karyawan baru yang baru terdengar, nDaru sering sekali dikasi kerjaan yang sebenernya endak masuk ke tugas nDaru. Kebanyakan kerjaan itu sebenernya kerjaan senior. Jadi, tar nDaru yang disuruh kerja, disalah-salahin sama pimpinan, digoblok-goblokin juga, terus begitu kelar yang dapet nama dan honor sudah pasti yang seharusnya ngerjain tu tugas. Fenomena seperti itu keknya emang normal di dunia kerja ya, cuman nDaru ngrasa ndak seharusnya nDaru diem trus.

Akhirnya, setelah bersabar selama 2 bulan, nDaru langsung nyolot ke pimpinan. “Trus, nama jabatan ini bukan nama saya ya, Pak? Namanya Pak Tiiiitttt *sensor* endak diganti nama saya?”. Cukup satu kalimat tajam dan tegas. Dan, si bapak yang mungkin berpikir nDaru bisa disuruh-suruh seenaknya langsung merah padam. Antara malu dan kaget mungkin ya. Jeplakan nDaru yang kedua cukup bikin satu bapak senior lagi kaget karena mungkin beliau berpikir nDaru sama kek karyawan baru laennya yang masih belon malu-malu kucing, yang ndak bakal berani ‘melawan’. nDaru cuman bilang, “Buat saya, bayaran kerjaan maren ada di surga, Pak! Saya diajarin Babe saya kalok berbuat baek pasti ndapet imbalan disono, itu kalok belon ada reformasi birokrasi surgawi lho ya” Dan, si bapak langsung mingkem.

Setelah itu, nDaru ndak pernah lagi disuruh-suruh. Gantinya, temen-temen nDaru yang laen, yang selalu sendika dhawuh tiap kali disuruh, yang jadi asisten para senior. Kerjaannya bejibun, bahkan melewati jam kerja normal. Tar ganti proyek ato kerjaan yang laen, pasti dikasi ke temen-temen itu. Dan, mereka selalu dengan patuh bilang ya ato baik tanpa pernah bilang maaf, saya tidak bisa pak/bu! Sementara nDaru? Ya tetep jadi karyawan biasa aja, bahkan terkesan garing karena ndak pernah diajak ngerjain proyek mbikin tahu sintetis atau mbikin tempe dari jagung, ndak pernah juga diajak rapat.

Tapi toh, nDaru ndak pernah nyesel sama apa yang udah nDaru kerjain. Meskipun terkesan bahwa itu arogan, sok, dan kemlinthi, nDaru cuman ngrasa kalo nDaru musti bersikap. nDaru ngrasa harus membatasi diri dan kadang nyolot buat bilang tidak karena itu saatnya stop buat melacurkan diri ke dalam pekerjaan. nDaru tetep butuh waktu buat orang laen, buat nDaru sendiri, juga buat anjing-anjing nDaru di rumah. Emang sih, temen-temen nDaru itu pada dapet bonus, tapi nyatanya nDaru yang malah metani tumonya Gogon pas temen-temen nDaru berapat dan berproyek ria, nDaru tetep bisa idup dan sehat lahir batin. Malah, satu temen nDaru yang kudu lembur tiap hari masuk ke rumah sakit kena kombinasi DB dan tipes. Dan, apakah para senior itu nengokin dia? Endak. Ada beberapa sih, tapi kebanyakan yang ndak pernah nyuruh. Abis itu, masih aja mereka ngasi kerjaan ke dia dan jumlahnya ditanggung banyak sekali.

Ada banyak hal yang tidak bisa menggantikan tidur nyenyak nDaru, kenyamanan pas bareng orang-orang deket nDaru, tawa lepas nDaru ngliat anjing-anjing nDaru petingkahan, dan kepuasan cuman karena bisa ngepel lante rumah sendiri, sekalipun itu proyek ratusan juta rupiah.