Jumat, 25 Juni 2010

Nyari Kerja ato Nyari Duit?

Posting nDaru kali ini samasekali bukan mau mendiskreditkan profesi PNS, nDaru tau kok banyak PNS yang juga banyak bekerja giat dengan gaji yang sak upril, yang nDaru sebut di postingan ini adalah oknum PNS yang mungkin ndak baek buat ditiru. Tapi tetep ndaru mintak maap kalok ada yang kesentil, ndak sengaja je :D



Kemaren pas nDaru nglayat di kadang cerak, nDaru ketemu sama bulek yang udah dari taon King Kong ndak ketemu. Komentar pertama yang keluar dari mulutnya adalah betapa sekarang nDaru kelihatan tambah cungkring, koyo biting mlaku gituh. Terus nDaru ditanyak kerja dimana sekarang dan nDaru nyebut nama Universitas Nganu. Bulek ituh agak kaget dan komentar, “Ooo..lha swasta nduk. Kamu bakal diperas abis-abisan, cobak kayak bulek ini lho, kan PNS. Kerja jugak ndak berat-berat banget dan gaji juga dijamin”. Komentar begituh mbikin nDaru pengen mbledug di tengah suasana duka yang dirasakan sampe-sampe nDaru mbatin, “Woo lha pantes badanmu jadi kek King Kong bedakan bulek!”. nDaru udah sering denger komentar begituh ya. Tapi karena kemaren suwasananya sedang berbeda, jadi ya Tuhan ampuni sayah, sayah ngenyek bulek sayah sendiri.



Jawuh sebelum nDaru lulus kuliyah, nDaru sudah sering akrab mendengar doktrin (yang lagi-lagi) menggiring jadilah PNS, bukan karena jadi PNS kamu ituh berjuwang atas nama negara atok jadilah PNS karena kamu berkarya untuk negaramu. Tapi, yang sering nDaru denger jadilah PNS karena kamu bakal hidup dengan nyaman. Dan maap, lebih kasar lagih adalah jadilah PNS karena kamu cumak perlu datang, duduk menunggu kerjaan yang bisa dikerjakan sambil menutup sebelah mata, laluh dapet gaji tinggi. Ituh yang mbikin nDaru sebel, tapi nDaru endak mbenci PNS-nya, cuman benci dengan mereka yang malah menurunkan citra PNS dengan polah tingkah yang semrawut. Dan, cara mereka menganjurkan nDaru untuk jadi PNS malah tambah memperkuat pola pikir salah yang sejak dari duluh sudah dibikin, yaitu PNS=ENAK, SWASTA=SENGSARA,



Orang-orang tadi memandang kerja cuman endak lebih dari nyarik uang buwat makan, mbeli baju, dan kalok bisa mbeli BMW. nDaru endak yakin kalok mereka pernah mikir, dari sekian waktu yang sudah berlaluh apakah sayah sudah mengerjakan sesuatu, apakah sayah sudah mempersembahkan sesuatu, minimal bahwa mereka bertanggungjawab terhadap kemampuan dan bakat sekaligus latar belakang pendidikan yang dimilikinya. Sama kek critanya Juminten, temen nDaru ituh, ada salah satu setaf di tempat kami kerja yang tiap hari dateng cuman duduk, bukak fesbuk, nyetel lagu sekenceng2nya, persis kek orang njuwal CD bajakan di pinggir pasar. Dan dia dapet gaji yang lebih lebih lebih tinggi. Dia mungkin bisa merasakan begitu enak, tapi nDaru endak yakin kalok dia bahagia lahir dan batin.



Duluh, pas nDaru memutuskan untuk pindah dari salah satu pabrik minyaknya negara ke Universitas Nganu inih, nDaru meyakini bahwa nDaru hidup bukan dari gaji nDaru, tapi dari pekerjaan nDaru. Memang, duit ituh perlu, tapi nyatanya dengan gaji yang kurang dari separo dari gaji nDaru di pabrik minyak itu, nDaru bisa hidup dan menghidupi hidup nDaru sendiri. nDaru merasa lebih merdeka buwat mengerjakan banyak hal dan lebih lagih berkarya, mengaplikasikan apa yang nDaru punyak buwat banyak orang.



nDaru jugak belajar dari si Juminten, temen nDaru yang endak selese menerima kemalangan ituh (hehehe). Kecintaan dia pada pekerjaannya melebihi kecintaan pada institusi dan orang-orang di sanah membuat dia mampu mensyukuri tiap kejadian. Meskipun jengkel ngajar mahasiswa-mahasiswa tengil, dapet email dan telepon gelap dari mahasiswa, dan masih endak dianggep sama atasan karena ndak doyan duwit haram, ya ndak sepenuhnya haram sih, suam-suam kuku lah, Juminten selaluh bilang, “Untung sayah ketemu mereka, jadi sayah tawu ituh endak baek”. Juminten jarang dapet bonus. Bonus yang dia terima murni karena pekerjaan regulernya. Lha, tapi dia bisa ngontrak rumah dan menghidupi anjing-anjingnya. Sementara temen-temennya yang kerja sambil numpang di ketek bapaknya ya masih jadi anak simbok yang mungkin nyebrang jalan aja perlu dituntun.



Kamis, 17 Juni 2010

Pornografi Ndak Oye

nDaru sebenernya ogah ikut2an nulis blog soal sekandalnya Luna Maya dkk itu. Tapi kok lama-2 jengah jugak liyat berita di tipi2. Sudah hampir 2 minggu lho, kita disuguhi berita sekandal itu. Dan banyak hal yang mbikin nDaru jadi ndak respek sama orang2 yang tereak2 di jalan itu.

Setelah kasus video intim Ariel-Luna Maya-Cut Tari meledak, masyarakat pun jadi heboh. Tiap kali nDaru mencet remot tipi, selaluuuu kasus ituh yang dibahas. Dari yang dipanggil polisi, pemeriksaan, sampe mrembet2 ke profil personal tiap pemain video ituh. Wartawan pun semakin garang memburu tiga artis ngetop ituh. Malah, kasus ini katanya menarik perhatian Lady Gaga sama Paris Hilton. Wes to, bener2 luar biyasa popularitasnya.

Berbeda dari kasus-kasus video porno dan sejenisnya, kasus inih mendapat perhatian yang luar biasa pula dari aparat. Sampeyan pasti tahu, begitu video intim ituh meluas, banyak sekolah yang merazia siswa-siswinya, banyak pulak warnet yang kena razia polisi. nDaru jugak kadang ketar ketir nunggu kapan giliran t4 ndaru mbagi2 benwit itu dirazia. Begitu kedapetan ada yang menyimpan video mesum ituh langsung dicangking ke polisi. Entah kalok anak2 sekolah. Mentok ya diceramahi gurunya dan jadi tamu istimewa kepsek di ruangannya. Reaksi ke pemain video intim ituh jugak lumayan keras. Ada pemda yang memboikot nama-nama artis ituh, pokoknya endak boleh tampil di daerah tertentu dengan alesan perilaku mereka merusak moral masyarakat. Masyarakat yang mana ya? nDaru ini merasa jadi masyarakat tapi ndak merasa kalok moralnya lagi dirusak? Kalok sampeyan liyat di tipi, kasus inih jadi semacam tonggak baru bagi negri kita tercinta buwat menolak pornografi di segala aspek kehidupan berbangsa.

Hadah..nDaru jadi geleng2 kepala ya, endak ngerti pola pikir bangsa inih mau kemana gituh. Kalok menolak pornografi ya jelas nDaru setuju. Tapi, reaksi atas kasus video intim Ariel-Luna Maya-Cut Tari ituh yang bikin nDaru mringis. Banyak pihak yang ngunek-nguneke perilaku tiga artis ituh, dari yang endak punyak moral, merusak moral bangsa, teroris moral dsb. Moral bangsa yang seperti apa kalok kita renungkan? Jangan lupa, menurut Metro TV, sebuah survey internasiyonal mencatat bahwa Indonesiya inih meraih angka tertinggi download video bokepnya Miyabi se-duniya. Apakah yang tukang maki2 ituh endak pernah donlot videonya Miyabi? Kalok emang begituh ya silaken. Tapi ya mbokyao, jangan menghakimi dengan semena-mena. nDaru bukannya mau membela Ariel-Luna Maya-Cut Tari lho ya. Tapi, tampaknya perlu sikap proporsiyonal dalam menghadapi manusiya yang pasti endak sempurna.

Lalu, kenapa ketika kasus inih muncul, barulah orang2, dari pihak LSM, sekolah, polisi, bahkan pemerintah rame2 bertindak? Bagaimana dengan nasib ratusan ribu video porno laen yang didonlot secara bebas sebelumnya? Bagaimana jugak dengan pelakunya? Apakah mereka dibiarkan bebas begitu saja, lolos dari caci-maki dan razia? Di Indonesia ini dalam 10 tahun terakir terproduksi video hot sebanyak lebih dari 800 buah rekaman saru lho. Kalok mau razia, kenapa baru sekarang? Kemaren2 kemana? Oke, sekarang pemda mencekal artis2 ituh, tapi di lain pihak mereka mengijinkan para penyanyi dangdut amatir bernyanyi sekaligus berjoget erotis di daerah2 mereka. Bahkan ketika para wakil rakyat itu kampanye, hiburannya yang bau2 ndangndutan joget erotis. Ya to? Trus itu yang sok2an mau nuntut Luna Maya dkk itu, itu lho yang pengacara kondang suaminya artis, ha dulu dia juga pernah selingkuh lho. Apa ndak muna itu namanya?

Kalok memang mau bersikap tegas kepada aksi pornografi ya yang konsisten dong, jangan cuma mengurusi masalah yang sarat dengan popularitas. Mumpung artis populer trus ditanggepi dengan serius begituh? Lha kalok mau razia ya razia dengan serius, sistemnya ada dan yang dirazia jugak semua pihak. Kalok mau blokir situs pornografi ya mestinya Kemenkominfo membuat sistem blokiran yang bagus, kan orang-orang di sanah pada pinter2. Dan, satu lagih, seharusnya pemerintah membuat undang-undang yang lebih tegas, bukan yang malah menimbulkan persepsi yang berbeda-beda, ada batasan yang jelas dan sanksi yang tegas.

Jadi, daripada sekarang memaki-maki endak jelas, lebih baik bersikap konsisten, komplet dari pusat sampek daerah. Mari menolak pornografi dengan konsisten, bukan tebang pilih!

Jumat, 11 Juni 2010

The Leader in My Dream

Di postingan ini, nDaru mau nggambleh pakek Bahasa Inggris biyar dikira nginternasiyonal. Siapa tawu ketiban sampurnya Miss Unipers. Silakan siapken kamus Anda.


You may have updated news that Obama delays his coming to Indonesia (again). Last March when this first Afro-American president confirmed his delay, he was not only saying “No, I won’t come, Indonesia.” He stayed with his cabinet to struggle the legalization of the new Health Bill by the congress. And, now he also decides to stay with his people due to the tragedy of oil split on the Mexico Bay. Consequently, he has to cancel his visit to Indonesia and Australia, such risky decision for his foreign diplomacy since many believe that those two countries would be the bridge for Obama’s popularity in accordance with his global profile.

Well, I have to give salute to this president, because he proves his own commitment and legacy as a president. Obama himself shows how a real leader should be. He chooses to stay with a bunch of trouble bravely, instead of touring to other countries that contribute his famous much. He may have chosen to leave his country, give the command to the vice president to take a lead in the problem, and say to the press, “I am leaving for the future of America’s diplomacy. People, out there, should know that America is not against Moslem, America loves them, etc.” On the other hand, he didn’t.

Let’s look at what had happened here. Several months ago when Indonesian people were on the highest temper of facing Century scandal, where was the president? He didn’t do something that comfort his people quickly and just let the people argue and mock to each other. Even, he went to Australia for special occasion, receiving the Doctor Hounaris Causa, when many held big demonstration in front of the palace. Personally, I don’t like demonstration, I don’t suggest you yelling and screaming in public either. Yet, I do understand that Indonesian people don’t have any “better” way to voice their opinion, question, disappointment, and hope. You may have seen that even when they yelled and screamed, the government didn’t listen to them, how if they had only kept silent? Perhaps, the government didn’t even notice if there were people on the road.

As part of ordinary people, I don’t know what the president is doing and what he has done. And, frankly, I don’t like the president either. However, as an Indonesian citizen, I may have the right to have a care president, a leader who is willing to listen to the people. I am envy with those American people. They have a leader who puts the problem of the country in his first concern. They have a leader who doesn’t only think of what he should do to get the sympathy and popularity, a nice label of an ideal president.

However, I do understand that they’re just two different persons. Obama came from low-class society, even marginal society. I spent several years in America to stay with my Babe and I do understand how the people there treat the different skinned-people differently. Perhaps, the background contributes much effect on Obama’s leading way. On the other hand, our president came from military background. He may have had the same sad childhood with Obama, yet when he grew up in the military world, he had everything easily. You have to remember that he was the star in the military.

Well, may I hope to have a leader who is willing to listen to?

Rabu, 02 Juni 2010

Miss Simelekete

Sebenernya, nDaru sudah dari duluh sebel setengah mati sama konsep ajang mis-misan, dari Miss Universe lah, Miss World, Miss Timbuktu, Miss Uganda, Miss kempis laennya. Gara-gara nonton Miss Indonesiya semalem di tipi, nDaru jadi keingetan sebel nDaru yang ituh. Ya memang, kalok Anda punyak duwit, silaken mau bikin kontes mis ato mister. Mbikin ajang seperti ituh memang hak tiap manusiya dan bagian dari budaya jugak, tapi yang bikin nDaru sebal adalah standar yang diciptakan untuk diberikan kepada seorang perempuan yang berhak dipanggil “Miss”. Dan, maap Ndaru musti bilang kalok standar yang dibikin ituh konyol!


Lhaaa, gimana endak konyol cobak. Standar yang dipakek untuk menilai kontestan mis-misan adalah tiga be: brain, beauty, dan behavior. Eh, katanya yang terakhir inih ada satuh be yang laen. nDaru lupa be apa, tapi ya mesti be yang bagus, endak mungkin brewokan ya..hihihihihi. Sayangnya, beauty yang ditentukan sama panitiya adalah mereka yang bertubuh bongsor seperti cagak listrik, berambut panjang, dan punya alis yang ditato. Cobak Anda liyat, apa ada kontestan mis-misan yang bertubuh bantat, gemuk, jerawatan atok punyak pipi bitol ß chubby total? Endak to.

Laluh, masalah brain, panitiya bilang kontestan diharuskan punyak wawasan yang luas dan mampu menghadapi tiap persoalan dengan semart. Cobak Anda liyat gaya embak-embak ituh menjawab pertanyaan dewan juri. Mereka lebih mirip kayak orang menghapal teori yang sedang beretorika tanpa melihat konteks pertanyaan dengan cerdas. Ha terus brain yang dimaksud yang seperti apa.


Masalah behavior inih jugak endak kalah bikin geregetan. Behavior semacem apa yang seharusnya dimiliki oleh Miss Indonesiya yang katanya mewakili profil perempuan Indonesiya sejati begituh. Apakah yang bisa lenggak-lenggok di panggung, terus menyunggingkan senyum sampek bibirnya kering, ato yang bicaranya mendayu-dayu lucu? Ada yang dengan bangga dari awal sampek akhir ngomong terus pakek Bahasa Inggris, padahal ditanyanya pakek Bahasa Indonesia. Apa terus kelihatan keren kalok bisa ngomong Bahasa Inggris? Lha katanya ituh ajang Miss Indonesiya, masak endak merasa malu malah ngomong pakek bahasanya kumpeni. Seharusnya, Miss Indonesiya ituh ya berbahasa Indonesiya, ato malah lebih bagus ngomong pakek bahasa daerah.


nDaru jadi inget omongan si Jumi, temen nDaru yang endak kalah sebal dengan fenomena orang-orang norak yang ngrasa keren kalok Berbahasa Inggris. Harusnya Miss Indonesiya ituh ya Indonesiya sekali, bisa Bahasa Indonesiya, tahu persoalan Indonesiya apa, bisa bahasa daerah, kenal sama budaya negrinya sendiri, bukan mereka yang kelihatan wah karena blesteran dan nggambleh pakek boso londo. Ituh napa nDaru ikutan mangkel dengan hasil pemilihan Miss Indonesiya tahun lalu. Bukannya mau mendiskriminasi orang ya, lha tapi Miss Indonesiya kok ngomong Bahasa Indonesia aja endak bisa dan harus dibantu penerjemah. Ya ampun, Gusti!


Laluh, Miss Indonesiya ituh yang seperti apa? Kalok ajang ituh bertujuan untuk mencari profil yang bisa menggambarkan dan mempromosikan Indonesiya banget, ya mbok standarnya ditinjau ulang. Ajang mis-misan semacam ituh malah banyak mendiskriminasikan perempuan. Kalok Anda bertubuh tinggi, pinter make-up, bisa Bahasa Inggris, dan lebih lagi blesteran, kinclong lah pokoknya, Andalah yang bisa jadi calon Miss Indonesiya. Tapi, kalok Anda ituh endak suka dandan, bertubuh pendek, dari ndeso sana yaaaa endak bisa jadi Miss Indonesiya. Anda mungkin bakal bilang bahwa tulisan ini hanya pelampiasan dendam nDaru yang endak bisa ikutan ajang2 mis2an..Ya ndak pa2 kalok anda mikir seperti itu. Mungkin memang benar adanya, tapi anda musti inget, banyak lagi wanita2 indonesia ini yang lebih jelek dari nDaru, yang lebih pendek dari nDaru, dan lebih siyal dari nDaru, dan nDaru yakin mereka banyakan yang ndak ikutan ajang itu daripada yang ikutan.


Yah, nDaru toh sadar. Ajang mis-misan ituh endak jawuh dari fenomena bisnis yang memajang perempuan sebagai alat penarik perhatian publik. Makanya, mis-misan simelekete!

Sabtu, 29 Mei 2010

Siapa Bilang Dunia Adil?

Dulu, waktu ngelmu di kotanya Sultan HB X, nDaru sering banget anyel sama dosen2 sok sibuk yang kebetulan mengampu matakuliah2 yang nDaru ikutin. Dari yang songong puoool, sampek yang sok ndak punyak waktu buwat konsultasi sekripsi. Bayangpun, semaleman nDaru ngabisin waktu endak tidur, endak makan, hanya modal coffemix ngutang di burjo terdekat mbikin alat itung digital, dengan harapan mbesuk bisa dikumpul sama dosen pembimbing dan sehari kemudian ndapet repiyu dari ybs, eh jawabannya, "nDaru, saya belon punya waktu untuk membuka aplikasi yang kamu buat, saya lagi sibuk inih....ituh,....sekak...maen gaple.....dllllll....." wooooo lha buw*j1n9000****n.


Lagi, ini kisah Si Juminten, temen nDaru yang pinternya pol itu. Ada satu mata kuliah tentang kependidikan yang Si Jumi musti ikutan. Dia sudah susah2 mbikin rencana mengajar dengan mesin ketik pak RT. Lalu praktek mengajar adik2 kelasnya dengan teori dan design kuliah yang "kalok menurut para ahli pendidikan" tokcer abis, juga mengingat komentar adik2 kelas yang diajarnya yang rata2 memuji cara dia mengajar. Tapi dikomentarin miring oleh dosen pamongnya dan cumak dikasih nilai B-. Itu waktu dia kuliah, lalu ketika mbabu di kerjaannya yang sekarang, dia punya dedikasi yang bagus, punya wawasan luas, cara mengajar yang konseptuwal, program2 dan design yang bagus untuk memperbaiki kurikulum di t4 dia mbabu itu. Tapi harus tersingkir karena ndak doyan duit haram.



Balik lagi ke kisah nDaru jaman kuliah, ada 1 teman nDaru yang memang pintere pol. Hampir di semuwa mata kuliah dia ndapet A. Tapi dia ini songong, endak simpatik dan kadang buwat ndapet A itu semuwa cara dilakukan. Ada 1 mata kuliah yang membuat nDaru getem2 sama anak itu, jadi romo pengampu mata kuliah itu memberikan 1 simulasi kasus, ada anak terlahir kembar, tapi cacat, anak yang 1 endak punya paru-paru sehingga, ngganduli sodara kembarnya, lha..dokter bilang bahwa, salahsatu harus dieuthanasia agar anak yang punyak paru2 ini bisa survive. Eh temen nDaru yang pintere pol itu mendukung gagasan itu, dia memakai sebuah teori yang dulu dipakek hitler, bahwa yang kuatlah yang akan menang. Sekarang temen nDaru ini punyak karir cemerlang dan sedang mempersiapkan Beasiswanya di universitas kenamaan di luwar negri.


Banyak dosen2 yang nDaru temuin di almamater nDaru dulu yang ndak punya hati buwat mahasiswanya. Hanya karena dia Dosen dia punya hak otoritas untuk menolak atau mendiskreditkan mahasiswa-mahasiswa yang sebenernya pinter dan mempunyai kapabilitas pada apa yang mereka kerjakan. Dan ini juga yang nDaru temuin di universitas nganu tempat nDaru dan Juminten mbabu. Hanya karena mentang-mentang seniyor, trus mintak dihormatin, padahal dia korupsi duit proyek bermilyar2. Dan inilah lemahnya institusi pendidikan yang mengatasnamakan sebuah paham keagamaan untuk menjadi dasar dan statuanya. Kesalahan sebesar apapun, asal dia pinter dan licin bersilat lidah, ada kemungkinan buat ndapetin pemakluman.


Jaman nDaru sekolah STM dulu, nDaru sama tetangga2 sekomplek mbikin sebuah grup orkes. Kami sempat malang melintang di festival2 dan parade2 band di jabotabek. Mengusung lagu2 satir karya Iwan Fals, yang kemudian kami aransemen ulang, biar dikira kreatip dan punyak musikalitas tinggi, tapi sebenernya menyesuaikan dengan alat musik dan dana yang kami punya. Kami namakan band kami ini ORDUTA, singkatan dari ORkes DUnia Tak Adil. Karena ya memang demikianlah dunia ini..endak adil babarblas. Tapi yaaa...waktu dan dunia toh terus bergulir, apa Yang Diatas Sana diem saja melihat ketidakadilan ini?

Kamis, 27 Mei 2010

Orang-orang Terbuang

Anda tau Rossiana Silalahi to? Lhaaa, kok kemaren (eh ya ndak kemaren ding, pokoknya sudah agak lama tetapi belum lama sekalih, yah begitu pokoknya) sayah liyat anchor tipi yang roker inih nongol di setasiun tipi yang lain. Dan, yang bikin sayah tambah melongo lagih, beliyo endak cuman mampir nampang, tapi sekarang jadi host acara nggambleh yang sante, ya disetasiun tipi ituh. Sayah jelas kaget, wong Rossy ituh kan sudah lama jadi pemred salah satu telepisi nasiyonal. Lhaaaa, kok tiba2 beliyo ganti jalur.



Saya denger (entah ini bener ato ndak, tapih menurut spion sayah ituh emang bener je), beliyo dilengserken dari jabatannya laluh memilih pindah ke tipi lain. Dan, satu rekannya di telepisi yang sama dulu, Bayu Sutiyono, yang jugak anchor andalan tipi ituh, memilih ikut mundur gara2 ontran2 di kantornya. Pak Bayu masih jadi anchor, tapih pindah ke tipi baru yang bermarkas di Semarang dan sayah sempet melihat acaranya, sama nggambleh2 yang ringan gituh, jawuuuhh dari dunia mereka yang dulunya hard news pull.



Terlepas dari ontran2 di kantor mereka, sayah toh salut sama Bu Rossy dan Pak Bayu yang tetep menghidupi karya mereka, sekalipun sekarang mereka lagi dunia yang serba kuwalik. Lha, coba sampeyan bayangken. Bu Rossy dan Pak Bayu ituh sudah lama bergelut di duniya hard news, yang tiap hari isinya harus menganalisis dan mengkritisi persoalan negri inih secara proporsiyonal. Dari duluh mereka menampilkan profil anchor yang cool, kritis, dan cerdas. Apalagi, Bu Rossy. Berapa kali beliyo masuk ke nominasi anchor paporit pemirsa di ajang awards2. Tetangga sayah saja sampe sekarang masih mengidolakannya. Katanya endak ada yang mengalahkan ketajaman seorang Rossiana Silalahi gituh. Anchor berita ya harusnya gituh mbak, endak menor kayak di tipi –tiiiit- ß salah satuh tipi nasiyonal, endak banyak gaya, tapih ngomongnya tepat dan kena sasaran.



Pasti, sayah yakin, ketika akhirnya mereka tersingkir dari dunia yang selama inih membesarkan mereka dan kemudian pindah haluan ke news yang lebih ringan, ada rasa yang endak nyaman. Tapi toh, meski awalnya kelihatan wagu, Bu Rossy dan Pak Bayu tetep brusaha menjalani peran baru sebagai presenter acara nggambleh dengan sungguh-sungguh. Nyatanya, acara Rossy di tipi ituh sekarang sudah mulai naik ratingnya. Dan, sayah yang selalu memantau Pak Bayu jugak melihat bagaimana beliyo bekerja di depan kamera, tetep pas dan tajam sekalipun segmennya sudah beda.



Ato kita liyat persoalan Sri Mulyani yang akhirnya harus pergi ke negrinya Paklik Sam. Kasus Sri Mulyani adalah contoh nyata bagaimana seorang cerdas yang punya determinasi dan dedikasi pada pekerjaannya jadi ‘kelihatan’ tolol dan jadi sasaran kesalahan yang sebenernya endak dilakukannya. Sri Mulyani cuman menjalanken tugasnya sebagai seorang mentri, dan toh kebijakan bailout yang diambil bukan atas kehendak satuh kepala sajah. Logikanya, pembesar yang laen jugak mengamini. Dan, sekarang duit bailout ituh ada dimana, yaaa tanyak sama orang2 yang bermain kotor di kasus ituh.



Sayah ngakak waktu melihat Bu Ani diinterogasi sama pansus Century. Wong Bu Aninya sudah menjawab dari sudut ekonomi negara yang memang ituh pekerjaannya, lhaaa kok masih dikejar dengan pertanyaan, “Tapih itu endak bener kan?”, ato “Yakin perlu di bailout?”. Sayang, pansus endak membedah secara substansial aliran dananya, tapih malah menyalah2ken kenapa harus ada bailout. Selanjutnya, mereka menuntut Bu Ani buwat mundur, lhaaa terus kenapa? Sekarang sudah mundur jugak endak ada efeknya to.



Contoh-contoh begituh mewakili mereka yang sebenernya bekerja dengan baek tapih tersingkir karena endak mau ikut-ikut budayanya pembesar. Sayah jadi inget sama Jumi, temen sayah yang sering numpang curhat ituh. Dia jugak tergolong ke orang yang disingkirken di pekerjaannya cuman karena endak pernah mau patuh sama perintah atasannya yang wagu. Tapi, kata Jumi jugak, kalok mau maen mutung2an dia bisa sajah endak mau mengabdikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa lagi. Katanya sih, hidup terlalu mahal buwat mutung-mutungan. “Sayah cinta pekerjaan sayah, bukan institusi dan orang-orang di dalemnya”, begituh alasannya tetap bertahan di Kampus Nganu-nya. Bukan berarti si Jumi ituh endak hormat sama institusi dan mereka yang ada disana, tetapih kadang kita harus lebih memikirkan pada apa yang akan kita kerjakan, soalnya kalok terus2an mikir institusi dan orang-orang yang sering nyebahi gituh malah bikin setrok je.


Rabu, 12 Mei 2010

Balada Juminten

Perkenalken, nama sayah Juminten S.Pd, dulu sayah pernah menjadi tokoh sentral di tulisan inih. Akhir-akhir ini sayah sedang sok prihatin dengan apa yang terjadi di Kampus Nganu, tempat sayah mbabu inih. Sebenernya kalok mau jujur, sayah lebih cinta sama Kampus Nganu ini daripada almamater sayah dulu, sebuah universitas tersohor di kampung seberang, tempat sayah lulus dengan predikat kumlaut ituh. Tapi kadang, mencintai itu sebuah kata kerja yang susah dikerjakan.


Jadi gini, Kampus Nganu tempat sayah jadi asisten inih mendasarkan visi, misi dan statua universitasnya pada sebuah paham keagamaan, yaitu Agama Rikiplik. Anda endak perlu repot2 nyarik apa itu Agama Rikiplik ato ngaruh-ke ke Depag RI, karena agama itu cumak eksis di blog ini, sebagaimana Kampus Nganu yang jugak cumak eksis disini saja. Semua kebijakan dan peraturan kerja di kampus ini direfleksikan dari ajaran-ajaran agama Rikiplik ini, bahkan sementara inih, Pemimpin tertinggi dari Kampus Nganu ini jugak seorang pemuka agama Rikiplik ini. Na, termasuk juga soal perekrutan tenaga Begawan, mereka juga mengharuskan –walaupun hanya secara tersirat—pelamar musti beragama Rikiplik juga. Inilah yang membuat sayah prihatin beberapa hari ini.


Beberapa hari yang lalu sayah mendaptar di fakultas lain di Kampus Nganu ini, sebutlah Fakultas Ngelmu Kebatinan. Ini dikarenakan masa kerja sayah di Program Studi Pendidikan Guru Mbelgedes ini akan habis bulan Ruwah mendatang, dan jujur seperti yang sayah bilang diatas tadi, sayah kebacut cinta sama pekerjaan sayah di kampus ini. Kebetulan, salah duwa rekan kerja sayah di progdi ini juga ikut berpartisipasi mendaptar di fakultas itu


Setelah beberapa hari berharap-harap cemas, akhirnya pada suatu hari salah satu rekan sayah yang ndaptar itu dipanggil buwat wawancara Fakultas Ngelmu Kebatinan itu. Sayah endak dipanggil, dan rekan sayah yang satu lagi jugak ternyata endak dipanggil. Kalok mau banding2an, sayah merasa lebih unggul dari rekan sayah yang diterima wawancara itu. Urusan IP, IP sayah lebih tinggi, urusan tampang, tampang sayah lebih kece dari dia, urusan kreatipitas, beberapa materi ngajar dia ikut2an metode sayah, dan urusan memotivasi mahasiswa, tampang sayah yang kece inih lebih kharismatis daripada dia. Tapi yah, ternyata semua itu endak cukup buwat pembesar universitas inih, soalnya sayah dan temen sayah yang satunya tadi kebetulan endak beragama Rikiplik, sementara teman sayah yang dipanggil itu beragama Rikiplik.


Sayah sebenernya masih percaya bahwa Universitas Nganu yang sudah saya jatuhcintai sejak jaman sayah masih kuliah ituh bukan seperti yang dikeluhkan beberapa pihak. Tetapi, sayah melihat fenomena lain yang terjadi di salah satuh bagian universitas inih. Ada duwa karyawan baru yang dinyatakan diterima. Tapih, status mereka menjadi berbeda. Yang satuh bisa langsung dikontrak, yang satuh masih cuman berstatus terdengar. Kebetulan, yang dikontrak ituh beragama Rikiplik, sementara yang masih terdengar ternyata beragama lain. Itukah sebuah kebetulan belaka? Kalok toh ituh memang kebetulan belaka, sayah tetap dengan berlegowo hati mengakui bahwa saat inih memang begitulah unversitas yang saya cintai inih.


Jujur, dari hati saya yang paling dalem, sayah miris melihat diskriminasi seperti inih masih terjadi di jaman ketika peradaban manusiya sudah sampe pada pengakuan persamaan hak dan martabat manusiya. Lebih miris lagih, universitas inih disebut-sebut sebagai Indonesiya cilik, dimana semua orang yang menghuninya datang dari berbagai ras, suku, dan agama yang berbeda. Mereka, para pembesar, sayah yakin jugak sering berbicara mengenai pluralisme, persoalan HAM, ini-isme, itu-isme, dan nganuisme yang laen di berbagai seminar dan diskusi nasiyonal. Dan, karena mereka berbicara seperti ituh, merekalah yang sebenernya dijadikan tauladan untuk bersikap. Eh, endak tawunya, mereka malah bersikap demikian diskriminatif terhadap manusiya laen.


Tetapih, mungkin sayah yang terlalu berlebihan. Kalok universitas inih disebut Indonesiya cilik ya bener. Coba Anda liyat realita kehidupan di negri kita tercintah inih. Katanya mengaku Ketuhanan yang Maha Esa, kok masih ada sekelompok orang yang mendiskriminasi orang dari agama yang laen. Katanya mengaku Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, haaa banyak pasiyen terlantar di rumah sakit-rumah sakit umum daerah dan kalok Anda endak bisa mbayar endak boleh keluar ato endak bakal diperiksa sama dokter2 disana. Katanya Persatuan Indonesiya kok ada atlet bulutangkis yang merebut emas olimpiade pertama buwat Indonesiya masih susah mengurus surat keterangan kewarganegaraan Indonesiya. Katanya Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan kok dengan seenaknya bikin kebijakan dan merugikan rakyat kecil. Katanya Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesiya, lhaaa lagi2 kok masih ada balita yang kena penyakit busung laper. Begitulah..


Mungkin, tempat sayah memang bukan disinih. Ato memang benar tempat inih hanyalah untuk mereka yang beragama Rikiplik. Tetapih, kalok toh demikian sayah masih tetap dengan legowo menyalutkan kemenangan untuk mereka yang disebut berkualifikasi untuk memasuki Universitas Nganu. Sayah tetap mencintai kampus ituh, tetapih mungkin sayah jugak harus berpikir untuk meninggalkan universitas inih.


--cerita ini hanya rekaan penulis belaka, jika memang ada kejadian dan tokoh yang hampir sama dengan cerita tersebut, itu merupakan kecelakaan biasa yang disebabkan oleh preseden pribadi pembaca, penulis tidak mau bertanggungjawab atas preseden pribadi tersebut--