Puisi nekat ini nDaru tulis pas ultah simbah putri nDaru dari Jogja kethip sana. Untuk pertama kalinya nDaru ndak ngucapin sugeng tanggap warso secara langsung karena simbah sudah dipanggil Tuhan setahun lalu. Memang, berbicara soal simbah selalu punya kesan yang beda buat cucu ya, apalagi kalok sebagai cucu kita deket sama simbah kita. Buat nDaru, nDaru ndak cuma menghadapi sosok simbah putri yang mbengok nyuruh nDaru makan ato mandi dan ngelus2 jidat nDaru supaya nDaru cepet tidur, tapi juga sebuah pribadi yang berani menjalani tiap peran dalam tiap lakon hidup yang berbeda selama hampir 80 tahun.
Dia lahir di jaman negara ini belum merdeka. Bahkan, dia jugak sempet ngikut perang meski nDaru yakin simbah ndak megang Tommy Gun ato M3A1 pas itu. Soale dulu nDaru pernah tanyak kekmana megang senjata itu, tapi simbah malah njawab ,”Simbah nek perang mung sangu minyak, ben ra dicokoti nyamuk”. Walah! Tapi dari keterlibatan itu simbah membawa sebuah prinsip untuk ndak menyerah melakoni hidup yang kadang pagi dele dan sore jadi tempe, ndak jelas mau kemana.
Ketika setelah jaman merdeka dan memutuskan menjadi seorang pengajar, dia rela jalan kaki belasan kilo buat ngajar murid-muridnya. Komitmen itu ndak berubah sekalipun kemudian dia harus mengurus enam orang anak. Malah, simbah ikutan jadi pengurus Dharma Wanita, PKK, dan kegiatan lain. Kalok denger dia cerita kegiatan rutinnya di dua organisasi itu, nDaru bisa mbayangin simbah ini ndak pernah berhenti pidato menyemangati teman2 sekompariotnya dan ndak sekalipun mingkem, selalu ada ide kreatip.
Di rumah, dia jadi sosok ibu yang melindungi dan mengarahkan anak2nya dengan sungguh2. Bulik nDaru dulu pernah pulang kemaleman dan disemprot disuruh pulang pagi sekaliyan. Hihi. Tapi, dia menyambut anak2 dengan sapaannya yang hangat tiyap kali mereka pulang dari sekolah dan memanjakan mereka dengan masakannya. Ketika anak2 itu besar, simbah membiarkan mereka memilih jalan hidup mereka dan membela pulak saat mereka jatuh.
Bahkan ketika dia sudah jadi simbah, dia ndak mau cuman duduk diam di rumah. Dia sering nyepur ke Jakarta buat nemuin nDaru ato ngangkot ke tempat bulik dan paklik nDaru hanya untuk merayakan ultah sepupu2 nDaru. Tapi, selanjutnya saat usia makin uzur, simbah ndak bisa terus-menerus travelling dan harus rela berkutat dengan tubuh tua dan penyakit. nDaru sempet melihat bagaimana dia frustasi dengan keadaan itu. Sebagai pribadi yang memegang teguh prinsip, dia pengen tetap aktip mengemudikan setir kehidupannya. Lalu, dia pun sampai pada satu sikap:pasrah.
Dia jugak sama seperti manusiya lain: pernah tersenyum, pernah begitu bahagianya, pernah terobsesi akan sesuatu, pernah kecewa jugak. Tapi bedanya, dia menghadapi segala ketidakmestian masa tua dengan berani dan rela bilang saya selesai. Setelahnya, dia menutup mata dengan senyum manis dan wajah berseri. Awal manis untuk sebuah kehidupan baru yang abadi. Dan, nDaru akan selalu merindukan sosok itu.