Kali ini, nDaru mau mbacot ageng soal keluhannya Jeng Devie tentang hal bernama copy paste. Memang dan nDaru setuju banget duwa ratus persen sama Jeng Devie kalok sebuah tulisan, sekalipun menurut beliyo tulisan abal-abal, tetaplah sebuah karya, hasil dari olahan pikiran dan jiwa si penulis. Jadi, pasti sangat pantas kalok Jeng Devie bertanya dimana etisnya menjiplak tulisan orang lain kemudian mempostingnya dan mengakuinya sebagai tulisan pribadi. Kalok menurut teori harga diri yang diciptaken oleh Juminten, temen nDaru ituh, tiyap manusiya dilahirken dengan onderdil yang sama. Jadi, tidak ada alesan ketika kamu harus menulis kemudiyan kamu bilang ndak bisa. Apalagi, kalok kamu mengkopi tulisan orang lain dan kamu menyebut kamu mengkopi karena kamu ndak bisa. nDaru ngakak saat Juminten nggambleh begitu di depan mahasiswa2nya yang ketahuan mengkopi tulisan ilmiyah di internet. Tapi, ketika nDaru membaca tulisannya Jeng Devie kemaren, nDaru langsung manggut2.
Coba sampeyan amati blog2 lain. Kalok nDaru amati ya, banyak blog yang isinya cuman masalah narsis saja, pengen pamer kesana-kesini, tapi ya maap, tulisannya dangkal. Ya memang sih, mau nulis apa saja di blog itu hak tiap orang kok. Cuma, kalok sudah berani narsis dengan memajang banyak gaya, menurut Juminten sekali lagi, pemilik blog harus berkewajiban menulis sesuatu, jadi kalok orang baca itu ya manggut2 maklum gitu. Owh, blognya gaya tulisannya jugak bagus. Lha, kalok cuman banyak gaya tok, orang pasti ngomel “Owalah…cuman nggaya tok to, ha ndak beda sama Fesbuk. Sama saja mbikin akun Fesbuk di blog!” Parah lagi kalok isinya itu cuman nggaya dan tulisannya njiplak tulisan orang lain. Wes to, mbahnya yak ampun pokoknya.
Balik lagi ke masalah plagiator, apa memang mengkopi paste itu sudah jadi budayanya orang Indonesiya ya? Menurut ceritanya Juminten, sedikit sekali dosen di fakultas dia yang menekankan no plagiarism di kelas. Jadi, mahasiswa mau bikin tulisan apa ndak pernah dicek itu tulisan dia ato mengkopi dari internet ato sumber lain. Sedangkan, kalok di Amrik sono sekali ketahuan memplagiat tulisan orang lain, siswa langsung dapet D dan disuruh mengulang tulisannya sampek bagus.
Memang sih, di duniya ini yang 100% tulen orisinil itu endak ada, semua pasti terinspirasi akan sesuatu yang terlihat. Sama dengan ungkapan “cocot kencono” yang sering nDaru pakek di blog amburadul kurang karu-karuan ini. nDaru endak mau mengakui ungkapan itu murni bikinan nDaru. Butet Kartaredjasa ternyata juga sering memakai istilah itu di program acara beliau. Tapi kalok njur nyonto persis plek dan cuman mengubah sithiiiiik banget kan ya tetep aja njiplak.
Kalok diamati lagi, benar jugak sih, budaya masyarakat di negri tercinta ini kurang memberi ketegasan akan pentingnya kejujuran dan menghargai karya orang lain. Lha, buktinya itu, penjuwal vcd2 bajakan dan rental vcd2 bajakan berjejer dengan manisnya di pinggir jalan. Belum lagi, banyak sineas Indonesiya yang mencontek cerita pelem luar negri. Kalok situ sukak nongkrongin FTVnya SCTV, ada satu judul Proposal Cinta Buat Clara yang ide ceritanya menjiplak banget pelemnya Sandra Bullock dan Ryan Reynolds, The Proposal. Terus, di sineteron Manohara yang baru, itu apa ya, Supergirl, kostumnya mirip banget sama kostumnya salah satu tokoh komik Marvel. Pelem Ekskul yang jadi pelem terbaik FFI 2006 dituduh menjiplak ilustrasi musiknya Gladiator dan mbikin semua sineas yang pernah ndapet Citra mbalikin semua piala itu ke Menbudpar.
Lha, apakah ada tindakan tegas dari otoritas yang berwenang soal itu? Ha endak je. FTVnya itu tetep tayang, jugak dengan sinetronnya. Yang Ekskulnya jugak tetep jadi pelem terbaik. Bahkan, salah satu dewan juri bilang kalok tidak mengedepankan originalitas ato ilustrasi musiknya, tetapi lebih ke pelemnya. Lha, rak gendeng to? Dan, sampeyan bisa liyat mereka yang mbikin pelem2 jiplakan kayak begitu ndapet duwit banyak buwat ngenyangin perutnya, ndapet kesempatan berkarya banyak. Sementara, sineas2 laen yang lebih cerdas dan idealis dalam menciptakan karya justru dihargai oleh festival pelem di luar negeri.
Sama saja masyarakat Indonesiya itu disuguhi karya2 yang berasal dari hasil njiplak, hidup dipenuhi oleh hasil2 jiplakan. Yaaa, memang jadi ndak heran kalok banyak plagiator di negri ini. Cuman, pertanyaannya adalah, kalok kita sama2 manusiya yang sama2 punyak otak sama dengkul, kok masih bangga2nya njiplak?