Sabtu, 29 Mei 2010
Siapa Bilang Dunia Adil?
Kamis, 27 Mei 2010
Orang-orang Terbuang
Anda tau Rossiana Silalahi to? Lhaaa, kok kemaren (eh ya ndak kemaren ding, pokoknya sudah agak lama tetapi belum lama sekalih, yah begitu pokoknya) sayah liyat anchor tipi yang roker inih nongol di setasiun tipi yang lain. Dan, yang bikin sayah tambah melongo lagih, beliyo endak cuman mampir nampang, tapi sekarang jadi host acara nggambleh yang sante, ya disetasiun tipi ituh. Sayah jelas kaget, wong Rossy ituh kan sudah lama jadi pemred salah satu telepisi nasiyonal. Lhaaaa, kok tiba2 beliyo ganti jalur.
Saya denger (entah ini bener ato ndak, tapih menurut spion sayah ituh emang bener je), beliyo dilengserken dari jabatannya laluh memilih pindah ke tipi lain. Dan, satu rekannya di telepisi yang sama dulu, Bayu Sutiyono, yang jugak anchor andalan tipi ituh, memilih ikut mundur gara2 ontran2 di kantornya. Pak Bayu masih jadi anchor, tapih pindah ke tipi baru yang bermarkas di Semarang dan sayah sempet melihat acaranya, sama nggambleh2 yang ringan gituh, jawuuuhh dari dunia mereka yang dulunya hard news pull.
Terlepas dari ontran2 di kantor mereka, sayah toh salut sama Bu Rossy dan Pak Bayu yang tetep menghidupi karya mereka, sekalipun sekarang mereka lagi dunia yang serba kuwalik. Lha, coba sampeyan bayangken. Bu Rossy dan Pak Bayu ituh sudah lama bergelut di duniya hard news, yang tiap hari isinya harus menganalisis dan mengkritisi persoalan negri inih secara proporsiyonal. Dari duluh mereka menampilkan profil anchor yang cool, kritis, dan cerdas. Apalagi, Bu Rossy. Berapa kali beliyo masuk ke nominasi anchor paporit pemirsa di ajang awards2. Tetangga sayah saja sampe sekarang masih mengidolakannya. Katanya endak ada yang mengalahkan ketajaman seorang Rossiana Silalahi gituh. Anchor berita ya harusnya gituh mbak, endak menor kayak di tipi –tiiiit- ß salah satuh tipi nasiyonal, endak banyak gaya, tapih ngomongnya tepat dan kena sasaran.
Pasti, sayah yakin, ketika akhirnya mereka tersingkir dari dunia yang selama inih membesarkan mereka dan kemudian pindah haluan ke news yang lebih ringan, ada rasa yang endak nyaman. Tapi toh, meski awalnya kelihatan wagu, Bu Rossy dan Pak Bayu tetep brusaha menjalani peran baru sebagai presenter acara nggambleh dengan sungguh-sungguh. Nyatanya, acara Rossy di tipi ituh sekarang sudah mulai naik ratingnya. Dan, sayah yang selalu memantau Pak Bayu jugak melihat bagaimana beliyo bekerja di depan kamera, tetep pas dan tajam sekalipun segmennya sudah beda.
Ato kita liyat persoalan Sri Mulyani yang akhirnya harus pergi ke negrinya Paklik Sam. Kasus Sri Mulyani adalah contoh nyata bagaimana seorang cerdas yang punya determinasi dan dedikasi pada pekerjaannya jadi ‘kelihatan’ tolol dan jadi sasaran kesalahan yang sebenernya endak dilakukannya. Sri Mulyani cuman menjalanken tugasnya sebagai seorang mentri, dan toh kebijakan bailout yang diambil bukan atas kehendak satuh kepala sajah. Logikanya, pembesar yang laen jugak mengamini. Dan, sekarang duit bailout ituh ada dimana, yaaa tanyak sama orang2 yang bermain kotor di kasus ituh.
Sayah ngakak waktu melihat Bu Ani diinterogasi sama pansus Century. Wong Bu Aninya sudah menjawab dari sudut ekonomi negara yang memang ituh pekerjaannya, lhaaa kok masih dikejar dengan pertanyaan, “Tapih itu endak bener kan?”, ato “Yakin perlu di bailout?”. Sayang, pansus endak membedah secara substansial aliran dananya, tapih malah menyalah2ken kenapa harus ada bailout. Selanjutnya, mereka menuntut Bu Ani buwat mundur, lhaaa terus kenapa? Sekarang sudah mundur jugak endak ada efeknya to.
Contoh-contoh begituh mewakili mereka yang sebenernya bekerja dengan baek tapih tersingkir karena endak mau ikut-ikut budayanya pembesar. Sayah jadi inget sama Jumi, temen sayah yang sering numpang curhat ituh. Dia jugak tergolong ke orang yang disingkirken di pekerjaannya cuman karena endak pernah mau patuh sama perintah atasannya yang wagu. Tapi, kata Jumi jugak, kalok mau maen mutung2an dia bisa sajah endak mau mengabdikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa lagi. Katanya sih, hidup terlalu mahal buwat mutung-mutungan. “Sayah cinta pekerjaan sayah, bukan institusi dan orang-orang di dalemnya”, begituh alasannya tetap bertahan di Kampus Nganu-nya. Bukan berarti si Jumi ituh endak hormat sama institusi dan mereka yang ada disana, tetapih kadang kita harus lebih memikirkan pada apa yang akan kita kerjakan, soalnya kalok terus2an mikir institusi dan orang-orang yang sering nyebahi gituh malah bikin setrok je.
Rabu, 12 Mei 2010
Balada Juminten
Perkenalken, nama sayah Juminten S.Pd, dulu sayah pernah menjadi tokoh sentral di tulisan inih. Akhir-akhir ini sayah sedang sok prihatin dengan apa yang terjadi di Kampus Nganu, tempat sayah mbabu inih. Sebenernya kalok mau jujur, sayah lebih cinta sama Kampus Nganu ini daripada almamater sayah dulu, sebuah universitas tersohor di kampung seberang, tempat sayah lulus dengan predikat kumlaut ituh. Tapi kadang, mencintai itu sebuah kata kerja yang susah dikerjakan.
Jadi gini, Kampus Nganu tempat sayah jadi asisten inih mendasarkan visi, misi dan statua universitasnya pada sebuah paham keagamaan, yaitu Agama Rikiplik. Anda endak perlu repot2 nyarik apa itu Agama Rikiplik ato ngaruh-ke ke Depag RI, karena agama itu cumak eksis di blog ini, sebagaimana Kampus Nganu yang jugak cumak eksis disini saja. Semua kebijakan dan peraturan kerja di kampus ini direfleksikan dari ajaran-ajaran agama Rikiplik ini, bahkan sementara inih, Pemimpin tertinggi dari Kampus Nganu ini jugak seorang pemuka agama Rikiplik ini. Na, termasuk juga soal perekrutan tenaga Begawan, mereka juga mengharuskan –walaupun hanya secara tersirat—pelamar musti beragama Rikiplik juga. Inilah yang membuat sayah prihatin beberapa hari ini.
Beberapa hari yang lalu sayah mendaptar di fakultas lain di Kampus Nganu ini, sebutlah Fakultas Ngelmu Kebatinan. Ini dikarenakan masa kerja sayah di Program Studi Pendidikan Guru Mbelgedes ini akan habis bulan Ruwah mendatang, dan jujur seperti yang sayah bilang diatas tadi, sayah kebacut cinta sama pekerjaan sayah di kampus ini. Kebetulan, salah duwa rekan kerja sayah di progdi ini juga ikut berpartisipasi mendaptar di fakultas itu
Setelah beberapa hari berharap-harap cemas, akhirnya pada suatu hari salah satu rekan sayah yang ndaptar itu dipanggil buwat wawancara Fakultas Ngelmu Kebatinan itu. Sayah endak dipanggil, dan rekan sayah yang satu lagi jugak ternyata endak dipanggil. Kalok mau banding2an, sayah merasa lebih unggul dari rekan sayah yang diterima wawancara itu. Urusan IP, IP sayah lebih tinggi, urusan tampang, tampang sayah lebih kece dari dia, urusan kreatipitas, beberapa materi ngajar dia ikut2an metode sayah, dan urusan memotivasi mahasiswa, tampang sayah yang kece inih lebih kharismatis daripada dia. Tapi yah, ternyata semua itu endak cukup buwat pembesar universitas inih, soalnya sayah dan temen sayah yang satunya tadi kebetulan endak beragama Rikiplik, sementara teman sayah yang dipanggil itu beragama Rikiplik.
Sayah sebenernya masih percaya bahwa Universitas Nganu yang sudah saya jatuhcintai sejak jaman sayah masih kuliah ituh bukan seperti yang dikeluhkan beberapa pihak. Tetapi, sayah melihat fenomena lain yang terjadi di salah satuh bagian universitas inih. Ada duwa karyawan baru yang dinyatakan diterima. Tapih, status mereka menjadi berbeda. Yang satuh bisa langsung dikontrak, yang satuh masih cuman berstatus terdengar. Kebetulan, yang dikontrak ituh beragama Rikiplik, sementara yang masih terdengar ternyata beragama lain. Itukah sebuah kebetulan belaka? Kalok toh ituh memang kebetulan belaka, sayah tetap dengan berlegowo hati mengakui bahwa saat inih memang begitulah unversitas yang saya cintai inih.
Jujur, dari hati saya yang paling dalem, sayah miris melihat diskriminasi seperti inih masih terjadi di jaman ketika peradaban manusiya sudah sampe pada pengakuan persamaan hak dan martabat manusiya. Lebih miris lagih, universitas inih disebut-sebut sebagai Indonesiya cilik, dimana semua orang yang menghuninya datang dari berbagai ras, suku, dan agama yang berbeda. Mereka, para pembesar, sayah yakin jugak sering berbicara mengenai pluralisme, persoalan HAM, ini-isme, itu-isme, dan nganuisme yang laen di berbagai seminar dan diskusi nasiyonal. Dan, karena mereka berbicara seperti ituh, merekalah yang sebenernya dijadikan tauladan untuk bersikap. Eh, endak tawunya, mereka malah bersikap demikian diskriminatif terhadap manusiya laen.
Tetapih, mungkin sayah yang terlalu berlebihan. Kalok universitas inih disebut Indonesiya cilik ya bener. Coba Anda liyat realita kehidupan di negri kita tercintah inih. Katanya mengaku Ketuhanan yang Maha Esa, kok masih ada sekelompok orang yang mendiskriminasi orang dari agama yang laen. Katanya mengaku Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, haaa banyak pasiyen terlantar di rumah sakit-rumah sakit umum daerah dan kalok Anda endak bisa mbayar endak boleh keluar ato endak bakal diperiksa sama dokter2 disana. Katanya Persatuan Indonesiya kok ada atlet bulutangkis yang merebut emas olimpiade pertama buwat Indonesiya masih susah mengurus surat keterangan kewarganegaraan Indonesiya. Katanya Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan kok dengan seenaknya bikin kebijakan dan merugikan rakyat kecil. Katanya Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesiya, lhaaa lagi2 kok masih ada balita yang kena penyakit busung laper. Begitulah..
Mungkin, tempat sayah memang bukan disinih. Ato memang benar tempat inih hanyalah untuk mereka yang beragama Rikiplik. Tetapih, kalok toh demikian sayah masih tetap dengan legowo menyalutkan kemenangan untuk mereka yang disebut berkualifikasi untuk memasuki Universitas Nganu. Sayah tetap mencintai kampus ituh, tetapih mungkin sayah jugak harus berpikir untuk meninggalkan universitas inih.
--cerita ini hanya rekaan penulis belaka, jika memang ada kejadian dan tokoh yang hampir sama dengan cerita tersebut, itu merupakan kecelakaan biasa yang disebabkan oleh preseden pribadi pembaca, penulis tidak mau bertanggungjawab atas preseden pribadi tersebut--
Jumat, 30 April 2010
Etika di Dunia Maya
Semalem tetangga nDaru curhat. Beliau sebel sama temen sekantor gara2 dikeritik soal kesalahan kerjanya. Yang bikin males, kata si tetangga, temen sekantor tersebut mengkeritiknya di situs pertemanan Twitter. Oh..curhat di Twitter! Embak yang satuh inih jelas endak terima disindir di Twitter, soalnya kata dia, ituh sudah masuk ke kategori pembunuhan karakter. Enggak seharusnya temennya mengumbar cerita sebal pribadi ke khalayak umum di Twitter begituh. Pas nDaru tanyak, "Emang temen embak nyebut nama embak gituh?', beliaunya menjawab, "Endak. Lha, tapi temen2 sayah sekantor kan pada tau to". Owalah..cumak nggrundel to!
Terus, ocehan si tetangga berlanjut ke persoalan etika, bagaimana orang seharusnya beretika di dunia maya. Nulis boleh lah, tapi mbok ya jangan maen nyindir ma ngunek2ke yang laen gituh. Sebisa mungkin, persoalan sebal pribadi endak usah diumbar ke muka umum. Itu endak sopan namanya.
Walah2. Kok nDaru merasa tetangga nDaru ituh sedikit berlebihan yah. Kalok nDaru yang disindir di Twitter atok Fesbuk gituh ya luweh2 wae. Lha sekarang duniya ituh sudah berubah je. Kalok kita sudah punyak akun fesbuk ato secara resmi berkelana dalam dunia maya, kita sudah harus siyap menghadapi orang-orang yang menghujani kita dengan kritik dan ditampilkan di akun maya jugak. Janganken di dunia maya. Di kehidupan nyata sajah kita berhadapan dengan orang yang suka nggrenengi kita di belakang. Jadi, buwat nDaru, mau di dunia luna ato maya, eh nyata ato maya, silakan mengkritik, silakan nggrundel, silakan curhat, silakan berekspresi. Ituh resiko orang hidup.
Lagipula, endak usah heran kenapa budaya nggrundel dan nyindir di negri inih begitu kuwat. Ya, soalnya memang budaya Indonesiya ituh mengkondisikan orang-orang di dalemnya buwat jadi tukang nggrundel dan tukang nyindir. Ngomong secarak terus terang endak diberlakukan di sinih, saru katanya. Jadi, kalok banyak orang nggrundel di belakang kita atok nggrundel di situs pertemanan atok blog, yaaa itu membuktiken kalok orang yang nglakuin orang Indonesiya asli. Hehehehe. Tapi parahnya semuaaa disalahken. Nyindir ato nggrundel salah, lha apalagi ngomong terus terang, tambah babak belur lagi. Padahal, di negri inih sudah jelas-jelas ada undang-undang yang menjamin "kebebasan berserikat dan berkumpul, menyatakan pendapat, dsb".
Kalok menurut nDaru sih, apa yang dikerjakan oleh teman sekantor tetangga nDaru ituh bukanlah sebuah tindakan kriminal membunuh karakter seseorang kok. Orang boleh curhat, dan curhatannya soal hal jelek tentang seseorang jugak boleh. nDaru kan juga sering nulis hal-hal yang endak melulu buwagus. Tapi, endak berarti tindakan seperti ituh bermaksud untuk menyebar kebencian. Kadang, kita harus belajar dari hal-hal yang endak buwagus ituh. Lagiyan, asal pakek bahasa yang halus, endak nyebut merk (inih lagi budaya negri tercintah), dan dikerjakan jugak dengan niat endak jelek2kin yaaa boleh2 sajah dikerjakan.
Lha, masih untung kita hidup di negri yang mengharamken keterbukaan. Coba kita liyat negri Paklik Sam sana. Orang bisa seenaknya nggambleh dan nggrundel. Sutradara brewokan Michael Moore pernah mbikin film dokumentasi berjudul Fahrenheit 9/11 yang isinya mengkritik abis-abisan Presiden George W. Bush, lebih spesifiknya soal ketololan Bush di invasi Irak dan kecurigaan ada hubungan antara keluarga Bush dan dedengkot teroris serangan 11 September. Bayangken, nama Bush jelas-jelas disebutken Pak Michael di filmnya, masih ditambah omongan pedes, "Shame on you Mr. Bush!". Apa beliau dipenjara? Endak! Malah disuruh ngomong disana-sini. Coba, orang Indonesiya nyebut gituh ke presidennya, bisa-bisa masuk bui dan kena pasal pencemaran nama baik. Mbah Pramoedya Ananta Toer sajah nulis Arok dan Dedes langsung dikirim ke penjara sama almarhum Pak Harto, dituduh menghina presiden, padahal endak ada satu pun bagian buku yang nyebut profil Soeharto.
Eh, malah jadi melebar tulisan inih. Balik lagi ke persoalan etika di dunia maya, memang ada beberapa hal yang tetep harus diperhatikan kalok orang mau nggambleh. Yang sudah jelas sajah lah. Kalok nulisnya pakek majas sarkasme, terang-benderang nyebut nama, dan isinya jugak jorok ya pasti ituh endak sopan. Jadi, etika yang seperti apa, kita semua sudah tahu batas-batas apa yang seharusnya tidak perlu kita langgar. Tapi, selama kita mau berekspresi secara murni, ya silaken. Kalok endak mau disindir di dunia maya, putus saja jalur internetnya, beres to!
Kamis, 29 April 2010
Sekolah Internasional a la Indonesia
nDaru baru tau kalok ternyata sekolah bertarap internasional itu ternyata program dari diknas jugak. kalok memanglah demikian adanya, ada hal entah penting entah endak penting yang endak gitu terpikir oleh diknas. diknas endak membuwat semacem setandard mengenai sekolah internasional itu, jadi, sepengetahuan ndaru, yang kekmana itu sekolah internasional? apakah sekolah dengan bahasa internasional? apakah sekolah yang taripnya mahal? ketidakadaan setandard inilah yang menjadi biang kerok sekolah2 berlomba2 buat jadi berstandard internasional, yang ujung2nya apa? DUID LAGI DUID LAGI.
Lha, malah jadi semrawut lagi to sekarang. Sekolah-sekolah pada berlomba buwat punya label rintisan sekolah berbasis internasional, calon sekolah berbasis internasional, dsb, sementara tidak ada kejelasan mengenai keinternasiyonalan mereka. Sekolah berbasis internasiyonal kok metode pengajaran yang dipakek masih makek metode jaman Panglima Polim SD. Sekolah berbasis internasiyonal kok guru-gurunya masih suka telat ngajar. Jadi, sekali lagi harus ada standard dan sistem yang benar-benar jelas tentang kualifikasi sekolah berbasis atok bertarap internasiyonal ituh, ya termasuk kurikulum, kualifikasi pengajar, penilaian, dsbeh.
Dulu jaman nDaru kelas 3 SD, kebetulan nDaru pernah ngicipi sekolah di Manila waktu ikut babe nDaru juwalan jamu gendong di Philipina. nDaru masuk sebuah SD yang setaraf SD Inpres di Indonesia malah, tapi pelajarannya sudah memakai bahasa inggris, pelajaran bahasa inggris juga diajar oleh orang bule, bahkan raport dan ijazahnyapun sudah ada terjemahan bahasa inggrisnya, padahal itu masih tahun 90an. DAN SEKOLAH DISITU GRATIS, hanya untuk ekspatriat –walo tampang nDaru mentok kampung waktu itu juga diitung ekspat hehehe-- dikenakan biaya pendaptaran, ndak tau brapa..jaman itu nDaru endak kepikiran soalnya, mungkin kalok waktu itu kepikiran hari ini mau nge-blog, nDaru catet tuh biaya pendaptarannya. Lha ituh, negri tetangga Philipina sajah sudah mulai nginternasiyonal dari duluh dan sistem yang dipakek jugak jelas. Terus, sekarang yang terjadi di negri tercinta inih sebenernya ngarahnya mau kemana?
Nah, femonena yang endak jelas macem begituh malah menyengsarakan jutaan anak sekolah di negri inih. Secara tidak sadar, ketidakjelasan ituh malah mengubah paradigma orang bersekolah. Di Indonesiya inih, kalok Anda endak sekolah, dijamin endak bakal dapet kerja, kecuwali bapaknya punya pabrik tahu sendiri, bisa nerusin usaha atok bapaknya jadi petinggi dimana gituh anaknya bisa ditarik ke tempat yang sama, kan enak endak usah susah2 nyarik pekerjaan. Naa, semakin mentereng bekas sekolah yang dimasuki semakin besar jugak peluwang dapet kerja. Mahasiswa lulusan program reguler dipandang lebih endak gawul daripada mahasiswa lulusan program internasiyonal. Padahal, yang dikerjakan saat kuliyah jugak endak beda, sama saja.
Menurut apdetan nDaru via Google dan Metro Tv, angka kelulusan anak SMA tahun ini menurun 10 % dibanding tahun yang lalu. Jika boleh menarik kesimpulan ngawur, bolehlah kiranya fenomena ini merupakan pertanda mulai menurunnya minat anak2 Indonesia buwat sekolah. Jika endak ada wajib blajar 9 thun dari pemerintah, jika nyarik kerja cumak butuh KTP..Kira2 anak2 usia sekolah itu pada minat sekolah endak ya? Coba kita Tanya lagi, para penerus bangsa ini sebenernya memang bener2 minat mau sekolah ato cumak terpaksa sekolah biar bisa ndaptar PNS? Paradigma yang selama ini beredar di masyarakat kita adalah bahwa tujuan sekolah itu mau nyarik kerja..ya ndak? padahal sekolah itu ya sekolah aja..
Senin, 26 April 2010
Lhaaaaa…rak tenan!
Ituh frase keluar dari mulut nDaru begitu sajah saat nDaru nongkrongin berita di tipi dan tersebutlah oknum tipi nasional yang merancang pengakuan markus palsu dalam salah satu acara mereka. Sejak awal polisi memberitawu kalok mereka menangkap markus palsu yang tampil memberikan pengakuan palsu jugak di salah satu tipi nasional, pikiran nDaru langsung tendensius ke arah tipi yang satu ituh. Pasti Tipinya Oom AbBe yang merancang semuanya. Besoknya, eeee…lha jebul tenan!
Dari awal tipih itu mengudara di dunia pertelevisian negeri tercinta inih, nDaru sudah sebel. Sebel melihat program-programnya yang meniru jelas-jelas stasiun tipi berita pertama di Indonesiya, itu lho..tipinya pak brewok. Lebih sebel lagi menyaksikan tingkah polah para anchornya yang sok galak, sok kritis, sok yes, padahal mereka tak ubahnya seperti lakon nyinyir di pentas pinggir kali yang endak tawu pokok permasalahan. Seperti yang sudah nDaru tulis duluuu, anchor2 di tipi inih selaluh memotong pembicaraan narasumber, laluh tetep bertanya berdasarkan list mereka, tanpa memperhatikan jawaban si narasumber. Jadi, kesimpulan diskusi hari ituh pokoknya harus samah dengan yang sudah ditentukan tim redaksi.
Sikap yang selaluh menyetir itulah yang membuat nDaru emosi mengikuti acara newsnya Tipi ituh. Makanya, tiap sore, nDaru paling anti mencet tombol remote nomor 14, soalnya kalok nonton news-nya Tipi ituh bisa-bisa nDaru kenak setrok dini, lha wong kadang di kantor sajah sudah banyak yang membuat jengkel apalagih ditambah ngliat anchor2 Tipi itu yang petingkahan.
Tapi toh, entah mengapa Komisi Penyiaran Indonesiya tidak menegur tipi ituh. Padahal, sudah kelihatan mata bagaimana mereka merancang berita asal-asalan. Jurnalisme diibaratkan seperti bisnis informasi sajah. Yang penting ngluarin cerita terheboh, dibumbui kehebohan para pembuat berita itu, trus masyarakat ikutan heboh, bahagialah mereka karena tipi mereka ditonton banyak orang. Lha kalok begitu endak usah ada program setudi Jurnalisme ato Media. Preman pinggir jalan diciduk lalu dilatih satuh minggu jadi kurir berita jugak jadi, endak perlu nyari sarjana ato master jurnalisme ato mediya. Ituh nDaru simpulkan sendiri melihat orang sekelas Karni Ilyas dan Indi Rachmawati yang sudah malang melintang di dunia telepisi begitu mudahnya mengerjakan hal tolol untuk merekayasa berita.
Mungkin karena yang punyak orang paling kaya di Indonesiya, KPI jadi sungkan ya. Naaa, setelah kejadian kemaren, nDaru bertanya-tanya apa bener KPI akan mencopot pemred berikut anchor yang menghubungi markus palsu tersebut buwat tampil purak-purak sebagai markus. Katanya sih begitu, tapi endak tawu setelahnya. Soalnya, yaaa, orang kaya itu mau dihalang-halangi jugak susah. Kalok sayah kaya, sayah mau bikin tipi yang paling amburadul sekalipun, yang berpotensi merusak pola pikir masyarakat yaaaa terserah sayah, wong sayah kayak ok.
Sunggu sangat prihatin-able kalok yang dibilang Elliot Carver, si pemilik Carver Media Group, itu lho, tokoh fiksi buwatan di pelem jemes bond di seri tomorrow never dies, bener2 terjadi..orang endak perlu menguwasai militer buat meng-okupasi sebuah Negara, orang cumak perlu menguasai..Media