Jumat, 15 Januari 2010

Lebih Enak Jadi Diri Sendiri


Postingan pertama di tahun baru ini masih berbau refleksi nDaru akan nasib sodara sepupu nDaru di Surabaya sono. nDaru endak bermaksud mendiskreditkan para PNS dkk ya, refleksi ini murni hasil ngayal dan ngalamun nDaru yang nDaru pas-pasin ma kondisi nDaru sendiri, ada banyak kemungkinan kalok dirasa endak begitu pas dengan keadaan dan keinginan sebagian besar orang. Pas gencar-gencarnya pendaftaran CPNS bulan November maren, sodara sepupu nDaru ga ketinggalan dapet seminar gratis dari bapaknya. Seminar gratisnya tentang bagaimana menata kehidupan yang lebih cerah dan (pasti) menjanjikan dengan menduduki salah satu posisi sebagai pegawe negri sipil. Emang sih, bapaknya gak bilang secara frontal buat stop kerja di universitas sepupu nDaru, tapi bahasanya selalu dibalut dengan ekspresi, “pikirkanlah” ato “coba liat si anu”.

Sepupu nDaru ini cerita kalo isi seminar gratis bapaknya berkisar seputar kenyamanan kerja yang bakal dia dapet kalo jadi pe-en-es. Satu, jam kerja gak banyak. Duwa, dapet jaminan pensiun yang ga sedikit. Tiga, punya banyak waktu luang buat menjalani aktivitas laen. Jadi kalo misal sepupu nDaru itu ngrasa gajinya gak banyak yaaaa ngeleslah, dia kan jago Bahasa Inggris. Selese.

Dan, udah ditebak, sepupu nDaru ini gak mungkin buat mendebat bapaknya, karena toh mau dia debat ampe suaranya berubah ke suaranya sinden, bapaknya gak akan ngerti apa arti kerjaan buat dia. Sepupu nDaru ini sih bilang kalo buat dia, kerja bukan berarti cuman duit ato jaminan kalo kamu gak bakal kelaperan sepanjang kerja disini. Buat dia, kerja adalah aktualisasi diri. Dia cinta sama dunia pendidikan, tapi gak berarti kalo ngajar SD dengan gaji 10juta per bulan dia bahagia. Sepupu nDaru ini lebih nyaman ngajar calon guru dengan area pengetahuan yang lebih luas dalam tingkatan pendidikan tinggi bukan pendidikan dasar. Tapi, buat bapaknya itu cuman idealisme sempit. Ngajar ya ngajar. Titik.

Kalo menurut nDaru sih, apa yang disampaikan sodara sepupu itu bukanlah idealisme sempit, tapi sikap, sikap bahwa dia memilih untuk menjalani apapun sebagai dirinya sendiri. Dia gak ngrasa perlu jadi penerjemah handal ato kerja di Deplu kek kakaknya supaya kelihatan sebagai orang yang sejahtera di mata bapaknya. Dia juga ngrasa gak perlu buat rame-rame ikutan jadi pe-en-es kek orang-orang pada umumnya untuk menghargai diri sendiri sebagai orang yang berkualifikasi pada pekerjaan, sebaliknya dia memang menjalani karir yang diimpikannya sejak di bangku kuliah.

nDaru sering gemes dengan sikap ortu yang ‘memaksa’ anaknya buat jadi seseorang yang ideal di mata mereka. Bahwa kamu sukses itu nak, jadilah pe-en-es, jadilah ini, jadilah itu, dsb. Mungkin mereka lupa kalo tiap orang dilahirkan dengan bakat dan minat sendiri. Dan, kalo dipaksa jadi orang lain yaaa gak bakalan berhasil. Ibaratnya anjing ya, anjing lahir dengan jenis sendiri-sendiri. Gak mungkin dong anjing bulldog dipaksa jadi herder! Pastilah si anjing pontang-panting harus jadi jenis lain. Bentuk fisik saja sudah berbeda, gak mungkin disulap jadi herder. Apakah tidak sebaiknya orangtua bertanya, ‘Kamu pengen jadi apa nak?’ Mmm…nDaru sendiri blon pernah jadi ortu sih, tapi keknya tiap orang sekalipun itu anak toh punya jalan masing-masing.

Jadi, ketika sepupu nDaru ini crita kalo dia tetep kukuh bertahan di kerjaan dia, nDaru yang bersorak-sorak ngasih semangat. Paling enggak, dia gak kek orang laen yang memanfaatkan fasilitas bapaknya. Berangkat ngajar jalan kaki ya gak pa-pa. Yang laen punya leptop dibeliin bapaknya, dia setia nongkrong di depan komputer kantor. Ketika dia ganti hp setelah sekian lama hidup dengan hp jaman Panglima Polim, dia bisa berbangga karena dia beli pake duit hasil kerjanya, bukan dari bapaknya. Jadi diri sendiri memang kadang sulit, berat juga…tapi toh akhirnya…NIKMAT!

2 komentar:

sawali tuhusetya mengatakan...

wah, jadi inget liriknya kahlil gibran, mbak ndaru. konon "anakmu bukanlah anakmu". ibarat busur, orang tua mesti mengarahkan panah ke sasaran yang dituju sesuai dengan kehendak sang anak, bukan sebaliknya, karena anak2 memiliki dunianya sendiri.

P. Budiningtyas mengatakan...

betul bapak, kata seorang ahli saya lupa namanya, katanya tiap orang itu punya yang namanya individual intelegence, itu mau orang kembar sekalipun endak sama