Kamis, 27 Mei 2010

Orang-orang Terbuang

Anda tau Rossiana Silalahi to? Lhaaa, kok kemaren (eh ya ndak kemaren ding, pokoknya sudah agak lama tetapi belum lama sekalih, yah begitu pokoknya) sayah liyat anchor tipi yang roker inih nongol di setasiun tipi yang lain. Dan, yang bikin sayah tambah melongo lagih, beliyo endak cuman mampir nampang, tapi sekarang jadi host acara nggambleh yang sante, ya disetasiun tipi ituh. Sayah jelas kaget, wong Rossy ituh kan sudah lama jadi pemred salah satu telepisi nasiyonal. Lhaaaa, kok tiba2 beliyo ganti jalur.



Saya denger (entah ini bener ato ndak, tapih menurut spion sayah ituh emang bener je), beliyo dilengserken dari jabatannya laluh memilih pindah ke tipi lain. Dan, satu rekannya di telepisi yang sama dulu, Bayu Sutiyono, yang jugak anchor andalan tipi ituh, memilih ikut mundur gara2 ontran2 di kantornya. Pak Bayu masih jadi anchor, tapih pindah ke tipi baru yang bermarkas di Semarang dan sayah sempet melihat acaranya, sama nggambleh2 yang ringan gituh, jawuuuhh dari dunia mereka yang dulunya hard news pull.



Terlepas dari ontran2 di kantor mereka, sayah toh salut sama Bu Rossy dan Pak Bayu yang tetep menghidupi karya mereka, sekalipun sekarang mereka lagi dunia yang serba kuwalik. Lha, coba sampeyan bayangken. Bu Rossy dan Pak Bayu ituh sudah lama bergelut di duniya hard news, yang tiap hari isinya harus menganalisis dan mengkritisi persoalan negri inih secara proporsiyonal. Dari duluh mereka menampilkan profil anchor yang cool, kritis, dan cerdas. Apalagi, Bu Rossy. Berapa kali beliyo masuk ke nominasi anchor paporit pemirsa di ajang awards2. Tetangga sayah saja sampe sekarang masih mengidolakannya. Katanya endak ada yang mengalahkan ketajaman seorang Rossiana Silalahi gituh. Anchor berita ya harusnya gituh mbak, endak menor kayak di tipi –tiiiit- ß salah satuh tipi nasiyonal, endak banyak gaya, tapih ngomongnya tepat dan kena sasaran.



Pasti, sayah yakin, ketika akhirnya mereka tersingkir dari dunia yang selama inih membesarkan mereka dan kemudian pindah haluan ke news yang lebih ringan, ada rasa yang endak nyaman. Tapi toh, meski awalnya kelihatan wagu, Bu Rossy dan Pak Bayu tetep brusaha menjalani peran baru sebagai presenter acara nggambleh dengan sungguh-sungguh. Nyatanya, acara Rossy di tipi ituh sekarang sudah mulai naik ratingnya. Dan, sayah yang selalu memantau Pak Bayu jugak melihat bagaimana beliyo bekerja di depan kamera, tetep pas dan tajam sekalipun segmennya sudah beda.



Ato kita liyat persoalan Sri Mulyani yang akhirnya harus pergi ke negrinya Paklik Sam. Kasus Sri Mulyani adalah contoh nyata bagaimana seorang cerdas yang punya determinasi dan dedikasi pada pekerjaannya jadi ‘kelihatan’ tolol dan jadi sasaran kesalahan yang sebenernya endak dilakukannya. Sri Mulyani cuman menjalanken tugasnya sebagai seorang mentri, dan toh kebijakan bailout yang diambil bukan atas kehendak satuh kepala sajah. Logikanya, pembesar yang laen jugak mengamini. Dan, sekarang duit bailout ituh ada dimana, yaaa tanyak sama orang2 yang bermain kotor di kasus ituh.



Sayah ngakak waktu melihat Bu Ani diinterogasi sama pansus Century. Wong Bu Aninya sudah menjawab dari sudut ekonomi negara yang memang ituh pekerjaannya, lhaaa kok masih dikejar dengan pertanyaan, “Tapih itu endak bener kan?”, ato “Yakin perlu di bailout?”. Sayang, pansus endak membedah secara substansial aliran dananya, tapih malah menyalah2ken kenapa harus ada bailout. Selanjutnya, mereka menuntut Bu Ani buwat mundur, lhaaa terus kenapa? Sekarang sudah mundur jugak endak ada efeknya to.



Contoh-contoh begituh mewakili mereka yang sebenernya bekerja dengan baek tapih tersingkir karena endak mau ikut-ikut budayanya pembesar. Sayah jadi inget sama Jumi, temen sayah yang sering numpang curhat ituh. Dia jugak tergolong ke orang yang disingkirken di pekerjaannya cuman karena endak pernah mau patuh sama perintah atasannya yang wagu. Tapi, kata Jumi jugak, kalok mau maen mutung2an dia bisa sajah endak mau mengabdikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa lagi. Katanya sih, hidup terlalu mahal buwat mutung-mutungan. “Sayah cinta pekerjaan sayah, bukan institusi dan orang-orang di dalemnya”, begituh alasannya tetap bertahan di Kampus Nganu-nya. Bukan berarti si Jumi ituh endak hormat sama institusi dan mereka yang ada disana, tetapih kadang kita harus lebih memikirkan pada apa yang akan kita kerjakan, soalnya kalok terus2an mikir institusi dan orang-orang yang sering nyebahi gituh malah bikin setrok je.


2 komentar:

mas stein mengatakan...

klo kata temen saya, karyawan ndak ninggalin perusahaan, mereka ninggalin manajernya.

jadi inget kata-kata Bu Sri, jangan putus asa mencintai negeri ini, walaupun kadang susah.

P. Budiningtyas mengatakan...

@mastein

Mencintai memang susah paklek, sampeyan coba inget2 dulu gerilya ngapain aja buat menangin hati istri sampeyan itu?