Rabu, 12 Mei 2010

Balada Juminten

Perkenalken, nama sayah Juminten S.Pd, dulu sayah pernah menjadi tokoh sentral di tulisan inih. Akhir-akhir ini sayah sedang sok prihatin dengan apa yang terjadi di Kampus Nganu, tempat sayah mbabu inih. Sebenernya kalok mau jujur, sayah lebih cinta sama Kampus Nganu ini daripada almamater sayah dulu, sebuah universitas tersohor di kampung seberang, tempat sayah lulus dengan predikat kumlaut ituh. Tapi kadang, mencintai itu sebuah kata kerja yang susah dikerjakan.


Jadi gini, Kampus Nganu tempat sayah jadi asisten inih mendasarkan visi, misi dan statua universitasnya pada sebuah paham keagamaan, yaitu Agama Rikiplik. Anda endak perlu repot2 nyarik apa itu Agama Rikiplik ato ngaruh-ke ke Depag RI, karena agama itu cumak eksis di blog ini, sebagaimana Kampus Nganu yang jugak cumak eksis disini saja. Semua kebijakan dan peraturan kerja di kampus ini direfleksikan dari ajaran-ajaran agama Rikiplik ini, bahkan sementara inih, Pemimpin tertinggi dari Kampus Nganu ini jugak seorang pemuka agama Rikiplik ini. Na, termasuk juga soal perekrutan tenaga Begawan, mereka juga mengharuskan –walaupun hanya secara tersirat—pelamar musti beragama Rikiplik juga. Inilah yang membuat sayah prihatin beberapa hari ini.


Beberapa hari yang lalu sayah mendaptar di fakultas lain di Kampus Nganu ini, sebutlah Fakultas Ngelmu Kebatinan. Ini dikarenakan masa kerja sayah di Program Studi Pendidikan Guru Mbelgedes ini akan habis bulan Ruwah mendatang, dan jujur seperti yang sayah bilang diatas tadi, sayah kebacut cinta sama pekerjaan sayah di kampus ini. Kebetulan, salah duwa rekan kerja sayah di progdi ini juga ikut berpartisipasi mendaptar di fakultas itu


Setelah beberapa hari berharap-harap cemas, akhirnya pada suatu hari salah satu rekan sayah yang ndaptar itu dipanggil buwat wawancara Fakultas Ngelmu Kebatinan itu. Sayah endak dipanggil, dan rekan sayah yang satu lagi jugak ternyata endak dipanggil. Kalok mau banding2an, sayah merasa lebih unggul dari rekan sayah yang diterima wawancara itu. Urusan IP, IP sayah lebih tinggi, urusan tampang, tampang sayah lebih kece dari dia, urusan kreatipitas, beberapa materi ngajar dia ikut2an metode sayah, dan urusan memotivasi mahasiswa, tampang sayah yang kece inih lebih kharismatis daripada dia. Tapi yah, ternyata semua itu endak cukup buwat pembesar universitas inih, soalnya sayah dan temen sayah yang satunya tadi kebetulan endak beragama Rikiplik, sementara teman sayah yang dipanggil itu beragama Rikiplik.


Sayah sebenernya masih percaya bahwa Universitas Nganu yang sudah saya jatuhcintai sejak jaman sayah masih kuliah ituh bukan seperti yang dikeluhkan beberapa pihak. Tetapi, sayah melihat fenomena lain yang terjadi di salah satuh bagian universitas inih. Ada duwa karyawan baru yang dinyatakan diterima. Tapih, status mereka menjadi berbeda. Yang satuh bisa langsung dikontrak, yang satuh masih cuman berstatus terdengar. Kebetulan, yang dikontrak ituh beragama Rikiplik, sementara yang masih terdengar ternyata beragama lain. Itukah sebuah kebetulan belaka? Kalok toh ituh memang kebetulan belaka, sayah tetap dengan berlegowo hati mengakui bahwa saat inih memang begitulah unversitas yang saya cintai inih.


Jujur, dari hati saya yang paling dalem, sayah miris melihat diskriminasi seperti inih masih terjadi di jaman ketika peradaban manusiya sudah sampe pada pengakuan persamaan hak dan martabat manusiya. Lebih miris lagih, universitas inih disebut-sebut sebagai Indonesiya cilik, dimana semua orang yang menghuninya datang dari berbagai ras, suku, dan agama yang berbeda. Mereka, para pembesar, sayah yakin jugak sering berbicara mengenai pluralisme, persoalan HAM, ini-isme, itu-isme, dan nganuisme yang laen di berbagai seminar dan diskusi nasiyonal. Dan, karena mereka berbicara seperti ituh, merekalah yang sebenernya dijadikan tauladan untuk bersikap. Eh, endak tawunya, mereka malah bersikap demikian diskriminatif terhadap manusiya laen.


Tetapih, mungkin sayah yang terlalu berlebihan. Kalok universitas inih disebut Indonesiya cilik ya bener. Coba Anda liyat realita kehidupan di negri kita tercintah inih. Katanya mengaku Ketuhanan yang Maha Esa, kok masih ada sekelompok orang yang mendiskriminasi orang dari agama yang laen. Katanya mengaku Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, haaa banyak pasiyen terlantar di rumah sakit-rumah sakit umum daerah dan kalok Anda endak bisa mbayar endak boleh keluar ato endak bakal diperiksa sama dokter2 disana. Katanya Persatuan Indonesiya kok ada atlet bulutangkis yang merebut emas olimpiade pertama buwat Indonesiya masih susah mengurus surat keterangan kewarganegaraan Indonesiya. Katanya Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan kok dengan seenaknya bikin kebijakan dan merugikan rakyat kecil. Katanya Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesiya, lhaaa lagi2 kok masih ada balita yang kena penyakit busung laper. Begitulah..


Mungkin, tempat sayah memang bukan disinih. Ato memang benar tempat inih hanyalah untuk mereka yang beragama Rikiplik. Tetapih, kalok toh demikian sayah masih tetap dengan legowo menyalutkan kemenangan untuk mereka yang disebut berkualifikasi untuk memasuki Universitas Nganu. Sayah tetap mencintai kampus ituh, tetapih mungkin sayah jugak harus berpikir untuk meninggalkan universitas inih.


--cerita ini hanya rekaan penulis belaka, jika memang ada kejadian dan tokoh yang hampir sama dengan cerita tersebut, itu merupakan kecelakaan biasa yang disebabkan oleh preseden pribadi pembaca, penulis tidak mau bertanggungjawab atas preseden pribadi tersebut--

10 komentar:

mas stein mengatakan...

sing sabar mbak, maklum lah kalo sudah nyangkut kebijakan ndak bisa ditentukan lewat keputusan satu orang, jabatan di atas selalu politis, ndak cukup menyenangkan diri sendiri tapi juga harus menyenangkan para stakeholder.

stakeholder yang mana? lha itu yang kadang ndak jelas.

atau berprasangka baik saja lah, mungkin di situ memang ndak mengijinkan begawan yang kece macem sampeyan :D

P. Budiningtyas mengatakan...

@mas stein
betul pak, kesian banget si jumi ini, kalok digambarken, hubungan kami ini mirip2 sampeyan sama kang noyo lah. Kami jugak suka nongkrong di warung burjo, sok ngomongin politik, cuman kami kalok jajan mbayarnya kontan, meski yang buat ngontan ini ya jatohnya ngutang juga sih

P. Budiningtyas mengatakan...

@ mas stein lagi
bener, itu jugak yang saya sukak nasihatken sama juminten ini, bahwa otaknya terlalu mletik buat diaplikasi di universitas ini. beda dengan saya yang emang sudah mentok

petruswijayanto mengatakan...

hm...

fakultas ilmu kebatinan itu apa?

P. Budiningtyas mengatakan...

@petruswijayanto
ya salahsatu fakultas di Universitas Nganu itu

freak dreamer mengatakan...

walah, Ru..
agaknya untuk bikin bener-bener bersatu itu agak susah. Soalnya latar belakang ini itu juga bikin orang jadi agak berpihak terhadap hal-hal tertentu (ini ngomong kok mbulet tenan yah?)
Emang berat, tapi memang layak diperjuangkan.
Sabar yah, Ru..(buntutane ya ngomong ini lagi) :D

P. Budiningtyas mengatakan...

@del
betul Del..orang kalok sudah punya 1 hal saja di jidatnya..mereka cenderung buat nyarik2 pembenaran buat pemikiran dia itu

dewo mengatakan...

hem... balada rikiplik di republik tercinta.

chocoVanilla mengatakan...

Walah, itu sih wajar, Mbak. Lha wong visi dan misinya saja sudah rikiplik. Univnya jugak berpaham rikiplik, ya wajar saja klo menuntut punya staff yang rikiplik jugak.

Nek kalo mahasiwanya beraneka ragam ya gak masalah, soale mereka kan mbayar. Lha nek jadi staff kan yang dibayar :D

(opo to yo, kok aku melu mbulet :D)

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Dewo
ya begitulah bang, paradox pahit selalu saja terjadi di Republik ini
@ chocoVanilla
Lha itu yang membuatnya ironis mbak, padahal kan ndak semua rikipliker itu capable to?ndak jadi rait men in the rait place lagi..asal rikiplik OK lah