Senin, 22 Maret 2010

Bisnis Sekolahan (Sertifikasi Dengkul part 2)


Semenjak mbantuin tetangga nDaru yang kemarin itu, nDaru kok merasa jadi orang paling care dengan dunia pendidikan di Indonesia ini ya..wekekekek..tapi ya ndak pa2 lah, kali2 aja tulisan nDaru ini ada yang mbaca dan kemudian bareng2 mbikin dunia pendidikan Indonesia ini sedikit lebih baek, maka dari itu, tulisan nDaru kali ini mau menggunakan kata ganti orang pertama " saya" bukan "nDaru" dan makek bahasa yang sesuai dengan EYD..biar terlihat ngilmiyah gituh.

Dari beberapa tanggapan yang saya terima menyoal posting saya yang edisi sebelum posting ini. Saya sedikit banyak berkesimpulan bahwa dunia pendidikan di Indonesia ini masih banyak yang perlu diperbaiki. Dari kesaksian Jeng Pito soal "mama"nya yang getol menyelenggarakan pelatihan sertifikasi untuk guru-guru SD, sampai pada artikelnya mas stein tentang pengalaman dia sekolah di ndeso. Dan refleksi beliau ketika mencarikan sekolah untuk anaknya. Terbersit satu kesimpulan di benak saya bahwa pendidikan di Indonesia ini masih jauh dari esensi mendidik yang sebenarnya.

Bagaimana tidak, sekarang banyak sekolah-sekolah yang berlomba-lomba menyandang status, berstandard internasional, bukan saja sekolah swasta, sekolah negri juga ikut-ikutan melabeli dirinya dengan standard internasional, sekolah apakah ini? Apakah sekolah-sekolah ini diperuntukkan bagi mereka-mereka yang mau menjadi babu eh diplomat atau bisa kerja di luwar negri? standard kompetensi dari sekolah internasional ini kekmana? Atau jangan-jangan sekolah berstandard internasional ini hanya sebagai iklan untuk menggaet murid saja? Tentu hal ini jauh dari esensi mendidik bukan?

Lagi, sertifikasi guru-guru SD, apakah mereka para pahlawan tanpa tanda jasa ini sudah dipersiapkan secara matang untuk mengikuti sertifikasi? Apakah guru-guru yang sudah sepuh dan sudah mengabdi selama 3/4 umurnya juga masih dibebani dengan sertifikasi? Rasanya kok tidak perlu. Pengabdian mereka yang rata-rata sudah lebih dari 20 tahun itu sepertinya sudah lebih dari cukup untuk mengkonversi syarat-syarat sertifikasi yang absurd dan kontradiktif itu.

Saya pernah berwawancara dengan seorang mahasiswi PGSD di Universitas Nganu tempat saya bekerja ini. "Situ kok mau kuliah di PGSD kenapa?" Jawabannya benar-benar mirip dengan para korban MLM yang hanya mengharap seonggok emas buat hari tua mereka. "saya mau jadi PNS guru SD mbak, mbak nDaru kan tau, sekarang nasib guru benar-benar sedang diperhatikan oleh pemerintah, jam kerja sedikit, gaji banyak, pensiunan jg ndak sedikit lho" Saya yang sebenarnya mengharapkan jawaban yang patriotis dan dramatis, terpaksa masygul mendengar jawaban yang brilian ini. Sungguh benar-benar niat yang mulia dari seorang calon pendidik anak-anak bangsa. Misi yang amat mulia bukan? Minimal untuk jidat dan perutnya sendiri.

Tidak lama kemudian,saya kedatangan tamu dari Semarang, setelah ngobrol ngalor-ngidul tentang jaringan pendidikan nasional di negeri ajaib ini, dia kemudian membisikkan sebuah iklan kepada saya. S2 "hanya" 13 juta, tidak perlu kuliah dan membuat thesis susah, pokoknya hanya asal datang dan tanda tangan absen, M.Pd sudah bisa ditambahkan di belakang nama saudara. Apa tidak enak banget itu? Sementara di Universitas Nganu tempat saya bekerja, program pasca sarjana pendidikan itu uang pangkalnya saja 8 juta, total jika ingin mendapatkan gelar M.Pd kita haru mengeluarkan uang kurang lebih 19 juta rupiah, itu masih harus membaca literatur, ikut kuliah, membuat tugas, thesis dan kawan-kawannya.

Menjadi profesi pengajar sudah didasarkan pada untung dan rugi, dengan kuliah di PGSD atau jadi M.Pd catutan bisa dijadikan modal buat mengeruk uang pemerintah dari gaji bulanan mereka, belum uang-uang yang lain yang bisa berpotensi untuk kesejahteraan diri sendiri. Masih banyak gedung-gedung sekolah dasar yang kondisinya lebih dramatis dari SD tempat anak-anak Laskar Pelangi bersekolah, bahkan sampai sekarang ini. Pernahkan terbersit di benak mereka untuk mengajar di sekolah-sekolah seperti itu?

Pendidikan benar-benar menjadi komoditas bisnis yang menggiurkan. Cita-cita luhur yang ditanamkan oleh para bapak-bapak pendidikan kita seperti Ki Hajar Dewantoro itu betul-betul hanya menjadi simbol dan iklan belaka. Memang masih banyak orang-orang yang mau membuat perubahan, mau dan bergerak dengan kemampuan mereka sendiri untuk peduli pada dunia pendidikan di negara ini, tapi sepertinya jika sistem kependidikan di negara ini masih gini-gini saja...ya tidak usah mengharap banyak dulu

6 komentar:

mas stein mengatakan...

sik sik, Ndaru ki MBAK?? oalah, maapkanlah saya selama ini, tak pikir MAS je.

jane saya pikir beberapa guru (semoga ndak banyak) sudah lupa kalo mereka adalah pendidik, dengan tiga falsafah yang diajarkan Ki Hajar Dewantoro.

P. Budiningtyas mengatakan...

hehe..iya, KTP saya jg mingsih ada tulisannya WANITA.sampeyan bukan yang pertama kok paklek..saya setiap ada operasi surat2 sepeda motor jugak sering dipanggil PAK sama pulisinya, hanya karena saya numpak Yamaha F1ZR dan berhelm fulfes.



Iya paklek,bayangpun!..mbokde saya itu guru SD dari jaman pak harto masih ngrokok cerutu, itu aja naek motor ndak pernah ganti, suzuki jet cooled dari baru sampek sekarang udah ganti plat 4 kali. Lha tetangga saya yang kepala sekulah SD baru beberapa tahun saja udah pakek CIVIC je..tapi ndak tau jugak kalok dia ndapet warisan moyangnya ding. Sebuah fenomena yang sepertinya kurang sinkron dengan falsafah2 KHD

freak dreamer mengatakan...

pengajar dan pendidik itu beda, Ru.
pelajaran dan pendidikan itu juga beda.

Di era Indonesia yang sekarang lebih banyak tenaga pengajar daripada tenaga pendidik. Jadi, jangan kaget kalo lebih banyak anak-anak yang terpelajar daripada anak-anak terdidik.

Memang ngenes, tapi kenyataan ya begitu... :p

P. Budiningtyas mengatakan...

betul banget del, di t4 nDaru jg disebutnya staff pengajar, yaaa mungkin emang dekadensi moral itu terjadi, sulitnya ekonomi di negri ini mbikin semua jadi halal dan permisif

mbelgedez™ mengatakan...

Guru jaman sekarang mata duitan...

*eh, ndak taulah. lingkaran setan*

P. Budiningtyas mengatakan...

jaman sekarang mbah..sapa juga yang endak mata duitan