Selasa, 09 November 2010

Sudah Tuli?

Sumpah! Kalok punya bogem pelacak, pasti sudah nDaru kirim ke gedung DPR sana biyar gedungnya ambrol sekaliyan. Akhir2 ini, nasiyonalisme nDaru memang sedang diuji. Lha gimana endak to, kelakuan pejabat2 negara tercinta ini kok lama2 ndak masuk akal. Belon lagi, sama yang kek disebut sama salah satu setasiun telepisi, para pejabat kita jadi miskin nurani, tuli, dan buta melihat keadaan rakyatnya. Di tengah banyak bencana, bukannya berempati dan bergerak cepat, malah asyik sendiri.



Ini contohnya. Begitu gempa dan tsunami menerjang Mentawai, ketua dewan perwakilan rakyat yang terhormat malah menyalahkan masyarakat yang tinggal disana. Katanya pulau2 di Indonesiya itu masih banyak. Sudah diberitahu kalok situ daerah rawan gempa dan tsunami, lha kok masih nekad tinggal disana. Jadi ya sudah resiko kalok kena tsunami. Wheladalah, gemblung tenan bapake kuwi! Oke, kalok mereka disuruh pindah, memang pemdanya sana mau membiayai kepindahan ratusan ribu orang itu? Jangan lupa, Mentawai sebelum kena tsunami itu adalah daerah wisata yang indah dan khas, yang sering banget dikunjungi sama wisatawan, terutama wisatawan asing. Lha, pajaknya kan masuk kas daerah juga to? Itu jugak buwat gaji pejabat daerahnya jugak to? Pastinya juga buat nggaji ketuwa DPR yang tadi mbikin pernyataan itu, mbok ya mikir pakek jidat sampeyan yang klimis itu to pak ketua,dari berapa persen gaji sampeyan yang cukup buat idup sebulan orang se-bantaran kali code itu, pasti asalnya dari hasil pendapatan sektor pariwisata Mentawai sana itu.



Kalok menurut Cocot kencono nDaru, mereka yang mau tinggal di pulau2 terluar di Indonesiya itu justru lebih patriotis daripada pembayar pajak yang sering di iklanin di tipi itu. Soalnya merekalah aset berharga yang bisa dipakek sebagai claim kalok pulau itu milik Indonesiya. Dulu, jamannya rebutan Pulau Sipadan dan Ligitan, Malaysia menang gara2 ada warganya yang tinggal di situ. Lha, kalok mereka yang tinggal di pulau2 terluar disuruh pindah, apa sudah siyap kalok pulau2 itu direbut oleh negara tetangga? Nanti DPR menyalahkan Menlunya lagi, ribut lagi.



Aneh memang pola pikir bapak satu itu, sampek nDaru mikir ini bapak isi kepalanya apa ya? Dan, dia jugak endak kepikiran buat dateng kesana dan nengok korban bencana. Eh, malah anggota2nya pada setudi banding diijinkan saja. Alasannya adalah kunjungan kerja rutin. Kunjungan kerja yang seperti apa? Apa yang esensial dari setudi2 bandeng eh banding itu? Seperti yang ditulis oleh wartawan seniyor Bre Redana di harian Kompas hari Minggu kemarin, 7 November 2010, kita sepakat ndak percaya kalok anggota2 DPR yang setudi banding ke Yunani itu pulang2 nanti jadi Socrates. Ato kalok setudi banding ke Universitas Harvard, mereka bisa berpikir visioner dan rendah hati seperti Dr. Arief Budiman. Yang ada cuman mereka pulang makek T-shirt bertuliskan Universitas Harvard. Jadi, intinya hasil setudi banding itu ndak jelas. Silakan bersetudi banding, tapi lihat situasi dong dan bikinlah setudi banding yang edukatip, bukan yang asal2an.



Masalah penanganan bencana jugak membuat gregetan. Pejabat2 terkesan gagap, kaget, dan bingung sendiri dalam menangani para pengungsi dan kebutuhan2 mereka. Sepanjang pengetahuan nDaru menyaksikan langsung proses penanganan bencana di Merapi, hampir semua ditangani oleh orang2 yang rela dan terketuk hatinya buat membantu sesamanya yang lagi sekeng, nDaru endak liyat itu ibu2 anggota DPRD ikutan masak, bahkan ketika kemarin Pak BeYe dateng ke Jogja, para mentrinya semua pada wangi dan bajunya kinclong, mirip orang mau jagong manten.



Dari segala banyak gregetan melihat tingkah pejabat2, satu hal yang membuat nDaru trenyuh. Di tengah bencana ini, rakyat Indonesiya itu tabah dan kuat. Banyak pihak yang mbikin posko pengungsi secara mandiri, ndak ngandelin pemerintah. Apapun dikerjakan sendiri, dari ngurus penginapan, makan, sampek ke kebutuhan sehari2 para pengungsi. Mahasiswa2 Juminten banyak yang jadi relawan dan ndak tidur buat nolongin para pengungsi. Belum lagi, relawan yang ada di medan depan bersama Kopasus dan TNI, jugak tim medis yang rela ninggalin rumah buat merawat para korban. nDaru yakin mereka ndak mikir saya nolong orang yang punyak kitab suci sama ndak dengan saya, apalagi menyalahkan mereka yang tinggal di lereng Merapi secara Merapi itu sudah pasti aktip, tapi mereka bekerja dengan hati nurani. Ini bukti bahwa rakyat Indonesiya sendiri lebih pinter dari pejabatnya yang berpakean necis dan bermobil mewah.

9 komentar:

Arman mengatakan...

bangsa indonesia emang tingkat survival nya tinggi. dan betul kata lu, emang pada kuat2 semua. mereka bisa bahu membahu saling membantu untuk mengatasi dampak bencana ini.

dan itu bisa diliat (kalo bangsa indonesia ini tingkat survival nya tinggi) dari kegeblekan pemerintah kita itu. nah buktinya dengan pemerintah yang dodol, DPR yang gak peduli dengan rakyat, toh bangsa kita tetep solid kan? :D hehehe.

kalo ngomongin DPR dan studi banding, emang udah gak tau mau ngomong apa lagi. cuma bisa mengelus dada.

dewo mengatakan...

Padahal biaya utk studi banding itu bisa digunakan utk membantu korban bencana.

*speechless*

Ina mengatakan...

Ndaru, pengennya sih pejabat atau anggota DPR yang baru diangkat itu harusnya ikutan acara Primitive Runaway di Trans TV itu loh, tinggal sama orang-orang suku pedalaman atau wisata dalam musibah (ini acara ciptaanku sendiri)tinggal ditempat pengungsian kalo lolos dan dapat bertahan baru kita pilih.

Asop mengatakan...

Baca di sini, Ndaru, sepuluh kontroversi yang udah dibuat Marzuki Alie. :D

(pake http ya) politik.vivanews.com/news/read/186282-10-kontroversi-marzuki-alie-di-dpr

nDaru mengatakan...

@ Bang Arman,
ya mo gimana lagi bang, ngandelin negara ya endak dateng2

@Bang Dewo,
Sisa malah bang

@ Ina,
emang mereka mau?

@ Asop,
kekgitu kok bisa jadi ketua DPR ya?

Asop mengatakan...

ENtahlah... :(

Mungkin Pak Alie itu lagi capek, dan mungkin tekanan jadi ketua DPR itu kan besar, banyak tekanan dari sana-sini, jadi mental mudah capek. Eh, udah pikiran capek, banyak pikiran dan urusan, malah dirubung wartawan. Gimana gak stres... :D

nDaru mengatakan...

@ Asop,
lah bukannya itu resiko jadi ketua DPR, kalok dulu saya itu mau masup jadi karyawan di sebuah perusahaan, saya ikutan psikotest, jadi kira2 saya nanti mampu ndak mengerjakan pekerjaan yang dibebankan kepada saya..kalok ketua DPR ada psikotestnya kekgitu ndak ya?

Asop mengatakan...

Nah, perihal psikotes... gimana ya... takutnya, meskipun ada, tapi tetep aja si tukang tesnya dipaksa (ditekan) secara politik buat ngelolosin si ketua itu... :D :D

Bikin capek hati aja...

nDaru mengatakan...

@ Asop,
ya nyarik badan psikotes yang independen, trus pas test disorot kamera tipi..masup tipi gitu, jadi seluruh indonesia nonton, keknya mau curang jg agak susah,tapi ya ndak tau juga ding