Senin, 05 Juli 2010

Akhir Piala Dunia Buat Saya

Tanggal 2 kemarin, buat nDaru sudah menjadi akhir dari Piala Dunia 2010, setelah akhirnya Argentina kalah telak dari Jerman. Mungkin bakal banyak orang mencibir nDaru dengan ide nDaru itu. Ya ndak papa, mau dibilang fanatisme yang kebablasan dan menjurus pada nasionalisme semu ya ndak papa..nDaru punyak alesan sendiri kenapa nDaru nge-fans abis sama sepak bolanya Argentina. Setelah PSIS jarang-jarang maen di kompetisi duniya. nDaru memilih buat mensuporteri Argentina.

Kenapa Argentina? bukan Itali atau Spanyol yang pemainnya kata orang tampan-tampan itu. Bukan itu. nDaru memilih Argentina, soalnya nDaru pernah tinggal cukup lama disana. Pertama kenal si kulit bundar ya di negaranya Evita Peron itu. Ceritanya agak unik, waktu itu tahun 1994 nDaru boyongan dengan mami ikutan babe nDaru yang ndapet tugas ke sebuah kota kecil di pinggir pantai timur Argentina, Rio Gallegos.

Waktu itu, nDaru berumur sekitar 8 tahun. Pada suatu hari, nDaru dan babe keliling-keliling kota nyarik les piano buat kegiatan nDaru setelah selesai sekolah, waktu itu, abis sekolah nDaru cuman bisa bengong, mau maen, nDaru gak ngarti bahasanya,lagian di lingkungan nDaru itu, jarang banget ada anak2 seusia nDaru. Dan Bahasa Spanyol termasuk bukan bahasa yang mudah untuk dipelajari anak seusia nDaru. Itu baru bahasa Spanyol, banyak anak tetangga-tetangga nDaru yang cuman bisa bahasa Matacos, kek bahasa jawa kalok di semarang. Na, babe mencarikan nDaru kegiatan yang sekiranya bisa mbikin nDaru cepet blajar dan beradaptasi di lingkungan baru. Kami keliling-keliling nyari2 les2an seharian ndak dapet2, akhirnya, babe melihat sebuah plakat dalam bahasa spanyol. Sekolah Sepak Bola untuk anak cewek usia 8 - 15 tahun. Dasar babe orang antik, nDaru ditanyak, mau ndak sekolah bola. Dan nDaru setuju. Waktu itu kami mikirnya kan belajar piano hanya tujuan sekunder saja.

Itulah awal nDaru kenal dengan sepakbola. Meski ndak pernah ikutan kompetisi profesional, minimal nDaru pernah ngicipi bagaimana berlatih sepakbola yang benar. Sangking semangatnya, kadang nDaru dateng dan nggabung di kelas orang laen. Di Rio Gallegos, banyak sekali hal yang berbau-bau bola, poster2 Diego Maradona, dan pemain2 ngetop seperti Claudio Caniggia, Diego Simeone, Oscar Rugerri, dan banyak lagi, cuman 3 itu yang sering nongol di poster. Buat warga Argentina, dan sebagian besar warga Amerika Latin, Bola sudah seperti agama. Setiap minggu, banyak sekali anak2 bermain bola di pekarangan rumah2 mereka. Bahkan, banyak orangtua yang cemas ketika anak laki-lakinya ndak sukak maen bola. Di setiap komplek, mereka pasti punyak lapangan kecil buat maen bola. Sarana dan prasarana penunjang sepakbola dijadikan program pembangunan wajib di setiap kota. Bahkan dulu nDaru sering ndenger seloroh, kalok seorang developer pergi ke walikota dan mengajukan proposal pembangunan pasti walikotanya nanyak "lapangan bolanya dimana?"


Argentina ndak jauh beda dengan Indonesia, ya iklimnya, ya penduduknya, Rio Gallegos sendiri kotanya mirip-mirip kota Klaten di pinggir laut, gak terlalu padat, dan hanya beberapa hektar saja. Satu yang membedakan, ya kegilaan mereka pada bola tadi. Sekolah-sekolah sepakbola begitu subur bermunculan disana. ndak heran jika mereka punya talenta-talenta ajaib seperti Lionel Messi atau Gabriel Batistuta.


Satu hal yang patut dan musti ditiru dari orang-orang Argentina adalah kecintaannya pada bola. Mereka ndak hanya berhenti di treak2 di depan tipi ato nonton bareng di kafe mbuncitin perut. Setelah nonton, mereka biasanya bermain di halaman rumah yang rata-rata lmayan besar, cukup buat sekedar oper-operan bola. Mereka masih menyisakan tempat diantara bangunan2 tinggal ndak semua dijadiin rumah ato mall. Banyak talenta hebat di Indonesia ini. Sayangnya, kurang ada pembinaan yang bener-bener kontinyu.


Selamat Pulang, Don't Cry for Me Argentina

24 komentar:

Masdin mengatakan...

Oh pernah tinggal di sana yah mas. Saya juga dukung Argentina, tetapi sayang mereka kurang sabar mengejar ketertinggalan... Pelatih dalam hal ini turut andil juga saya kira.

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Masdin,
Argentina terlalu tergantung pada messi pak, coba lihat jerman, mereka bermain berdasarkan sistem...Ballack ndak main pun tetep bisa bermain bagus.

orange float mengatakan...

meski ngak paham dunia bola tapi sempat ngak percaya ternyata piala itu tidak jatuh ke tangan argentina tahun ini

P. Budiningtyas mengatakan...

@ orange float
belon nasib mbak :'(

Omiyan mengatakan...

petinggi PSSI seharusnya punya budaya malu....atau mereka bisa menghasilkan "sesuatu" tanpa perlu juara hehehehe

P. Budiningtyas mengatakan...

@omiyan
sesuatunya misalnya apa om?

julianusginting mengatakan...

sob saya tetep pegang jerman sob

heny mengatakan...

wah.....asyik pengalamannya yah....trus...trus...nDaru skrg masih maen bola jg???...btw, salam kenal :-)

firdaus mengatakan...

kita senasib.... stelah argentina kalah, nonton piala dunia jadi gak semangat lagi ... :(

P. Budiningtyas mengatakan...

@heny
ndak sih,pindah ke futsal, soalnya di kampung gada sepakbola buat cewe',,,lam knal balik

@firdaus
saya masih pengin spanyol yang menang sih.

Arman mengatakan...

wah berarti jago main bola ya nih... :D

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Bang Arman,
Lmayan lah bang, buat refreshing..soalnya mo maen golf mahal, trus pulangnya takut jadi korban pembunuhan :p

keblug mengatakan...

mbukak sekolah bola ajah, ndaru jadi gurunya :D

Ferry Prima mengatakan...

sebenarnya materi argentina itu paling kuat lho menurut gue. hanya saja Maradona memang nggak gitu jago kalau jadi pelatih jadi mainnya agak runyam. :)

aniway, my first visit here. I like your 8years old experience. disitu ada jual soto juga nggak? *lho*

hellgalicious mengatakan...

tapi sayang argentinanya dibantai jerman tuh

hihihi

sabara aja deh

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Keblug,
ini lagi ngurus perijinan sama yang punyak lapangan, gurunya bukan saya tapi...ada yang lebih jago

@Ferry
Maradona sebenernya bukan tipe orang yang bisa melatih sebenernya, dia bagus buat jadi motivator, tapi menciptakan strategi dan meramu pemain dia jelek. Ada semacem soto, saya lupa namanya, tapi mirip banget sama soto, hanya kuahnya lebih pekat

@Helga
Sistem Jerman lebih bagus mas, mereka maen bagus meski tanpa Ballack, sayang pas ketemu spanyol memble

kawanlama95 mengatakan...

waktu awal aku kawanlama95 mendukung spanyol menjadi juara di piala dunia kali ini.tapi dikarena kalah pertama kalinya aku beralih mendukung brazil eh sekarang sepertinya dukung spanyol lagi.salam sehat dari kami

P. Budiningtyas mengatakan...

@kawanlama95
ahaha...Spanyol telat panas bro..baru belakangan saja mereka main bagus, sayang di piala dunia ini gak ada striker ganas macam Gabriel Batistuta ato Oliver Bierhoff

dewo mengatakan...

Wah, ndak nasionalis nih! Mosok njagowin Argentina?

Sharusnya walau pun Indonesya ndak ikutan, kuti mesdu tetep njagowin Indonesia. Paling enggak njagoin suporternya Indonesia yg bikin rusuh di sana.

*kabur*

P. Budiningtyas mengatakan...

@Bang Dewo,
Walah, segala pertandingan yang melibatkan Timnas Indonesia, saya sering nonton bang, yang ada saya sangunya perban ma betadine

chocoVanilla mengatakan...

Berarti kondisi di sana sama kayak Brazil ya? Di mana bola sudah menjadi agama :D

P. Budiningtyas mengatakan...

@Cho2-V
Persis mbak, rata2 hampir di semua amerika latin, orang2 pada mendewakan sipakbula

Ina mengatakan...

tim terbaik belum tentu juara, kadang pertandingan final belum tentu pertandingan terbaik malah perempat final atau perdelapan final menyuguhkan pertandingan terbaik. Aku suka tim Argentina dan juga Jerman sayang mereka harus duel duluan.

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Ina,
Se7 markeju harajuku....yang bikin nyesek kalok maennya macem Sp****l kemaren...yang penting menang, ndak peduli taktik