Senin, 26 Juli 2010

Belajar dari Institusi Pembohong

---Postingan nDaru kali ini lumayan panjang, banyak mengandung bahasa yang ndak begitu edukatip dan sedikit narsis..berhenti disini agar tidak terkontaminasi bahasa persuasif nDaru, tapi kalok nekat,,,RESIKO DITANGGUNG PEMBACA---


Inih kisah Juminten, temen nDaru ituh, lagih2 kisah Juminten dan lagih2 kisah Juminten di Program Setudi Guru Sekolah Mbelgedes, salah satu program setudi di Universitas Nganu ituh. Lagih2, nDaru musti sering makek frase ituh, lagih2 dan lagih2, program setudi ituh bertindak sakpenake untune dewe, lebih dari sekedar melanggar hak asasi manusiya tapih jugak merendahkan kehormatan dan harga diri mereka sebagai sebuah institusi yang menjadi bagiyan dari universitas yang termasyur di tanah Jawa Dwipa.

Setelah membuwat rekrutmen asisten dan dilanjutkan dengan menelantarkan posisi dan status para asisten, termasuk Juminten, mereka jugak main sakpenake dewe dalam menentukan honor para asisten. Ceritanya, para asisten termasuk Juminten dilibatkan dalam mengajar regular mahasiswa PGSM dan dihitung sebagai pengajar yang ndak dari dalem. Wah, semangat sekalih merekah. nDaru masih inget kekmana Juminten menyusun rencana dan strategi pembelajarannya tiap hari dan kekmana Juminten sibuk mengerjakan banyak hal buwat memajukan kemampuan mahasiswa. Juminten cerita, beberapa temennya dapet limpahan kelas dari begawan2 yang sok sibuk, jadih itungan sks mereka nambah. Juminten jugak cerita, ada satuh temennya yang dapet sks gila2an, belon harus menangani pembelajaran jarak jawuh bangetnya mahasiswa. Tapi toh, mereka seneng dengan kerjaan ituh, termasuk temen Juminten yang cekatan ituh, apa2 dilakoni sampek nglembur tiyap hari Sabtu.

Di akhir semester, para asisten termasuk Juminten harus menghadapi kenyataan baru yang memiriskan hati. Honor mereka dipotong dengan alesan mereka sudah dapet uang transport dkk dari honor perbulan sebagai tenaga hariyan. Ya sudah, mereka tetep nrimo. Tapi, situh coba bayangken. Mereka yang kerja sungguh2 menanggung puluhan sks cuman dapet satu juta per semester. Sungguh berperikemesinan atok berperikerobotan sekalih. Jangan mikir yang puluhan sks sajah lah, tapih liyat mereka yang sungguh-sungguh mengerjakan tugas mereka, cuman dihargai 700rebu per semester. Satuh semester dapet berapa kira2 sodara2? Kata Juminten, cukup buwat mbeli beras buat makan duwa anjingnya. Untunglah tunangan Juminten itu punyak pabrik biting sintetis, jadi Si Juminten ndak gitu keleleran amat

Tidak ada pembelaan atas nasib para asisten ituh. Pimpinan program setudi menganggap bahwa ituh adalah bagiyan dari keputusan wapim fakultas yang ndak bisa diganggugugat, jadih para asisten sudah selayaknya nrimo. Untuk hari ituh, Juminten menghela napasnya dalam dan memaklumi apa yang terjadi. Ketidakjelasan status membuwat para pimpinan dengan semena2 ngluarin upil ato ngentuti mereka dan semua diatasnamakan sebagai sebuah keputusan pimpinan.

Di semester berikutnya, diputuskanlah sebuah keputusan untuk memperjelas alur honor para asisten di akhir semester nanti. Di daptar presensi asisten, asisten harus mengurangi jumlah jam tiyap hari dengan jam mengajar mereka. Jadih, kalok Juminten ngajar duwa jam gituh, jam ngajar dua jam ituh ndak perlu dimasukkan di presensi. Itungannya adalah bulanan mereka diitung tenaga hariyan, dan pengajar yang ndak dari dalem jadi itungan utuh. Semangat ituh muncul lagih. Bukannya para asisten ituh matre ya, tapih manusiawi to kalok situh digaji ndak semestinya trus jugak males kerja. Gitu jugak para asisten. Begituh ada kepastian alur honor, mereka pun meneruskan pekerjaan di semester berikutnya, sekalipun ada pengumuman mereka ndak akan diperpanjang, mereka tetep mengerjakan semuanya seperti biyasa.

Tapih, sekali lagih, di akhir semester, hitungan honor ituh jawuh dari hitungan normal honor untuk seorang pengajar yang ndak dari dalem. Ya, memang naik daripada honor semester lalu, tapi tetep sajah ndak manusiawi. Beban maksimal ngajar 12 sks dihargai 1 juta lebih 300an rupiyah. Padahal menurut peraturan universitas, itungannya jauh lebih besar dari harga 1 juta itu. Ajaibnya lagih, itungan sks Juminten naek 1 sks. Dan, dia ndak bahagia dengan ituh. Juminten mangkel karena pimpinan dengan semena2 mengubah itungan sksnya dan mengubah sistem itungan honor untuk pengajar yang ndak dari dalem. Menurut spiyon Juminten, itungan ituh murni keluar dari program setudi bukan diotak-atik sama yang ngluarin duwit. Lebih ajaib lagih, selaluh anak2 para Begawan dinaikkan jumlah sksnya dan temen Juminten laen yang lebih dari 12 sks malah dipepetkan jadih 12 sks sajah.

Sungguh hebat memang institusi pembohong ituh. Maen rekrut orang dan maen lempar kemudiyan. Kalok nDaru mbayangin, para asisten ituh ndak lebih dari bola yang bisa ditendang sana-sini, ujung2nya ya sakit soalnya ditendang2 kok. Dan, sampek hari inih tidak ada penjelasan yang manusiawi dari pimpinan. Masing2 sibuk nyarik pembenaran diri dan tetep tampil jumawa layaknya Kingkong abis makan rujak. Apa mereka ndak malu dengan kelakuan mereka ya?

Laluh, bagaimana dengan nasib para asisten? Kalok mereka mengadu, mereka harus mengadu kemana? nDaru ndak yakin pimpinan universitas mau memahami persoalan inih dan membela hak2 mereka. Coba Juminten lapor ke Depnaker misalnya, lha apa ndak mbikin universitas geger? Tapih, kata Juminten menghadapi orang2 macem wapim fakultas ituh mending doa sepuluh kali sehari, lapornya ya ke blognyandaru saja. Juminten meyakinih bahwa ada yang harus dibayar atas apa yang sudah dikerjakan. Kalok sekarang dia berdiam diri dan tidak mengerjakan hal yang lebih jawuh (menuntut ke pengadilan gituh), pasti ada yang akan dia bayar nanti. Untuk ukuran Juminten ya agak sangar, soalnya dia temperamen sekalih dan sekali njeplak bisa2 banyak yang kebakaran kolor. Satu hal yang Juminten dan nDaru pelajari dari institusi pembohong ituh, bahwa kita selalu punyak pilihan. Ketika Juminten dateng ke program setudih ituh, dia memilih untuk membantu calon2 guru. Dan, kalok kemudiyan orang2 di dalemnya t*i, Juminten memilih ndak ngikut2 jadi t*i jugak.

Ratapan Juminten diatas, sedikit banyak mempengaruhi nDaru dalam mengambil sebuwah keputusan yang lumayan penting dalam fase hidup nDaru ini. nDaru memutuskan buwat keluar dari Universitas Nganu, tempat nDaru mengabdi dan menyumbangkan buah pikir nDaru. Alesan yang mendasar adalah karena nDaru endak dikasih ijin untuk setudi. Padahal nDaru setudi juga ndak mintak duit mereka, nDaru bisa setudi karena ada sebuah badan nirlaba dari kampung sebrang yang mau membiyayai setudi nDaru. Dan tanpa alesan yang masuk jidat manusia biasa, para petinggi ndak mbolehin nDaru sekolah. Padahal coro bodon-nya -berpikir a la orang gobloknya- kalok nDaru sekolah, lalu tambah pinter, nDaru bisa mengaplikasikan ilmu yang nDaru dapet itu disini, yang untung kan ya institusi ini juga to?Lalu untuk apa bertahan pada sebuah institusi yang endak membuat nDaru bisa berkembang? Ha mbok sumpah –tanpa bermangsut sombong ini lho-- kalok memang mencari kemapanan finansial ato kalok orang jawa bilang ngoyak sugih, ha mending nDaru melamar di perusahaan besar di ibukota sana. nDaru yakin kok dengan modal otak nDaru yang encer dan tampang nDaru yang imut juga kece ini, banyak perusahaan yang mau menampung nDaru. Ato jika memang nDaru nyarik enak, kerja dikit duit banyak, daridulu nDaru endak pindah2 dari pabrik pengecer minyak punyak pemerintah itu.

Dan setelah dipikir-pikir lagi. Ternyata, keputusan buat minggat dari institusi ini kok ya ndak penting-penting amat.

15 komentar:

mas stein mengatakan...

juminten yang teraniaya tapi sampeyan yang resign. hehehe

kalo lapor ke dikti kira-kira ngaruh ndak mbak? tapi yo wis lah wong sampeyan sudah keluar. semoga di tempat baru nanti semua kesabaran sampeyan yang dulu berbuah manis.

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Mas Stein,
ehehehe...sbenernya sebelon ndenger crita2 juminten itu, sekitar 6 bulan yang lalu saya sudah gojak gajek pengin say goodbye, lha baru kali ini saya ketok palu buat cabut, melihat fakta yang mengenaskan itu..Kalok soal lapor2an, kata temen saya itu, kok sepertinya kurang bijaksana, kan ini lagi musim penerimaan cantrik baru, nanti kalok image institusi itu turun trus ndak dapet mahasiswa kan kesian orang banyak yang hidupnya bergantung padanya. Sementara ini saya kembali ke pekerjaan saya semula, meneruskan usaha simbok, yaitu bakul jamu gendong sambil mbagi2 benwit, terimakasih doanya paklek

heny mengatakan...

emank ke-rasa dari bahasanya, kalo' nDaru itu otaknya encer...cuma tampang imut & kece-nya itu yg belum bisa dipertanggung jawabkan...hihi*gak prnh ketemu nDaru soale* :-D

orange float mengatakan...

terlihat sekali dari postingannya kali ini Ndaru lagi marah. menuntut keadilan buat temannya Juminten

dewo mengatakan...

Wah Mbak, syukurlah situ kluwar. Lha kalok ndak kluwar bisa-bisa njenengan itu:

1) ketularan wong2 t*i jadi t*i jugak
2) penyakitan karena menahan hati ketemu wong2 t*i
3) disingkirkan oleh wong2 t*i

Tapi ya kita semuwa patut prihaten. Lha yg judulnya institusi pendidikan kok ya bisa begitu tho? Kalok pendidiknya begitu, bagaimana mereka ngajarnya ya?

*prehatin*

chocoVanilla mengatakan...

Idealisme itu mahal harganya sekarang ini. Wong lombok aja mahal je!

Tetap smangat!!! Tempat membagi ilmu gak cuman di situ sajah kok!

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Heny
Bukan rasa jengkol kan? wong yang bilang kece ya orang2 itu kok, bukan saya sendiri :D

@ Orange Float
Ya betul, saya marah banget, soalnya pas si Juminten crita itu, baru saja saya nerima SK bahwa saya ndak boleh ngambil beasiswa saya itu dan alesannya ndak masuk akal banget

@ Mas Dewo
setelah saya pikir2 lagi bener juga itu 3 butir yang njenengan bilang itu, bagemanapun juga, saya cuman krikil kecil disebuah aliran sungai yang besar, saya ndak bakal sanggup merombak sebuah sistem yang kacau itu sendirian

@ Cho2-V
Saya sebenernya ndak gila idealisme sih jeng..tapi wong mau sekolah 6 bulan aja kok ndak dikasih ijin..masak saya mau nipu cuti hamil..ha lucu wong suwami saja belon punyak

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Heny
Bukan rasa jengkol kan? wong yang bilang kece ya orang2 itu kok, bukan saya sendiri :D

@ Orange Float
Ya betul, saya marah banget, soalnya pas si Juminten crita itu, baru saja saya nerima SK bahwa saya ndak boleh ngambil beasiswa saya itu dan alesannya ndak masuk akal banget

@ Mas Dewo
setelah saya pikir2 lagi bener juga itu 3 butir yang njenengan bilang itu, bagemanapun juga, saya cuman krikil kecil disebuah aliran sungai yang besar, saya ndak bakal sanggup merombak sebuah sistem yang kacau itu sendirian

@ Cho2-V
Saya sebenernya ndak gila idealisme sih jeng..tapi wong mau sekolah 6 bulan aja kok ndak dikasih ijin..masak saya mau nipu cuti hamil..ha lucu wong suwami saja belon punyak

Ina mengatakan...

kadang hidup kayak main bulu tangkis, kadang bisa ditangkis atau di block tapi kalo udah ditekan terus dan permainan ngga berkembang kayaknya sudahi permainan dengan smash!...he...he...hidup adalah pilihan, turuti kata hati dan nuranimu. Go Ndaru!

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Ina,
Mantabs bu'...ya begitulah analoginya...Kadang kita kok ya musti berpikir bahwa bukan "kita" yang butuh "mereka", tapi sebaliknya, bisa jadi kemunduran saya dari "mereka" adalah sebuah Jump Smash a la Lee Chong Wei

keblug mengatakan...

jamune mbakyuu jamu tolak mumet. kasih segalon buat cekokin si 'bos'.
Bos yg sungguh aneh, anakbuah dapet bhsiswa kok enggak dikasih ijin?
Harusnya kan malah dikasihi subsidi sekalian...

deadyrizky mengatakan...

haduh
mbaca postingan ndaru ini seperti nonton Inception
harus nonton/dibaca dua kali baru ngerti @.@

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Keblug
Apa takut kesaingan pinter ya?

@DeadyR
Santai saja bro...mbaca 10x ato 11x tarip tetep sama kok :D

ais ariani mengatakan...

hah? nDaru jadi bakul jamu gendong?
ngider daerah mana nDar?
*kok dadi kaya manggil kerupuk gendar yo kerungune?*

:D

jika belum bisa untuk membantu menyelesaikan masalah, memang ada baiknya kita ada di pihak yang tidak menambah masalah. kalau untuk sementara keluar memang tidak menambah masalah, ya lakukan saja...
*jadi tah keluarnya? hehehehehe...

P. Budiningtyas mengatakan...

@Ais
Liwat internet..wekekekeke, itu panggilan nDaru pas SMA
Jadi donk, jadi pengangguran sukses ini wehehehehe