Rabu, 21 April 2010

Selamat Hari Kartini

Kali ini nDaru mau nggambleh ngoyo woro soal current issue yang sebenernya gak issue-issue amat. Soal Hari Kartini, dimana banyak anak SD ke sekolah makek bajuk adat, termasuk di SD tempat nDaru sok-sok'an mbantuin jadi guru komputer. Kartininan mereka bilang


Sebenernya kenapa sih musti ada Hari Kartini segala? Kenapa jugak namanya musti Hari Kartini? Bukannya nDaru mau sirik sama Ibu Kartini, toh nDaru jugak menghormati segala jasa dan upaya beliau, yang MUNGKIN kalok beliau endak pernah lahir, nDaru hari ini masih nongkrong di dapur nyulek2 pantat ayam. Tapi mengapa 21 April ini endak disebut Hari Emansipasi Wanita? Ya sudah..bukan etimologi Hari Kartini yang mau ndaru gamblehkan disini. Tapi lebih ke peran wanita itu sendiri. Sudah ter-emansipasikan-kah semua wanita di negeri ini?


Beberapa waktu yang lalu. nDaru mbaca 2 blog. inih --gawat lupa linknya--dan inih, yang pertama isinya tentang wanita ideal buat sang penulis, dan yang kedua seperti sebuah sanggahan buat blog yang pertama. Blog pertama menyebutkan bahwa wanita ideal itu musti cantik, bisa dandan, pinter masak -- masakan berkelas tentunya, bukan cumak nasi goreng aroma ngalor ngidul-- Seperti Farah Quinn itu lah. Jujur deh *mumpung ini blog pribadi, jadi boleh berasumsi dan tendensiyus* Saya agak-agak gimana gitu dengan stereotiping sang penulis. nDaru lebih cenderung bersetuju dengan pendapat mbak pit bahwa cewek musti pinter masak kalok disebut kodrat itu nonsense..Kodrat cewek itu kalok menurut nDaru, contohnya: Cewek mengandung, melahirkan, menyusui. Itu kodrat, hal yang endak bisa dan endak mungkin dilakukan oleh cowok. Bahwa pinter masak dan musti kece 24 jam itu asumsi dan budaya masyarakat yang membuatnya menjadi kodrat. Ini kalok menurut nDaru lho ya..tentu dengan tetap menghargai para pria yang mendewakan kecantikan dan kepandaian memasak dari para wanita.


Semua sebenernya balik lagi ke masalah mental, bagaimana para wanita yang sudah di emansipasikan ini bisa nunjukin kalok mereka memang pantas dan berhak di emansipasikan, indikasinya tentu bukan sekedar bahwa wanita itu bisa kerja seperti pria dan lalu seenak jidat dan meninggalkan peran sebagai wanita itu sendiri. Memasak memang perlu, tapi bukan karena kodrat, tapi lebih untuk pengontrol kesehatan, disamping yang utama, kata mbak pit, alasan ekonomi. Jaman sekarang, warung mana sih yang endak pakek vetsin? Jadi modal kece dan pinter masak juga musti dilengkapi dengan isi jidat yang smart. Taroklah si wanita endak bisa masak, tapi minimal tau komposisi makanan sehat itu yang kekmana. Tau jugak kekmana dia mengatur kocek biar badan tetep sehat tapi kantong gak cepet tiris karena gak bisa masak.


Butuh refleksi memang, biyar para wanita ini semakin bisa bener2 diliyat bukan cumak sebagai pelengkap dunia sehingga perlu di emansipasi-in. Tapi bener2 terlihat punya peran. Punyak mental seperti Jordan O'Neil, tau ya? Kalok endak silakan brosing di mbah google. I can do what mens does. Bukan berarti mengambil alih tanggungjawab dan peran laki-laki secara frontal ya..Tapi jaman ini membutuhkan wanita yang tahan banting dan endak cengeng. Mungkin nDaru endak gitu nge-fans sama presiden wanita kita di periode yang lalu, nDaru juga endak gitu suka dengan kebijakan beliau, tapi seenggaknya, endak kek presiden yang sekarang yang dikit2 ngeluh<---ini kata Butet Kertaredjasa lho. Dan juga, mampu lepas dari ketergantungan finansial sama para laki-laki, bohong besar jika Nia Ramadhani menikah dengan Ardhi Bakrie murni karena cinta..Pasti ada motif finansial disana, nDaru endak yakin jika dunia ini terbalik, dan Om AbBe bapaknya Ardhie itu yang jadi korban lumpur lapindo..Masihkan akan ada pernikahan Nia-Ardhie? GOMBAL MUKIYO!!!


nDaru endak anti dengan segala emansipasi dan segala tetek bengek tentang persamaan gender, tapi ya akan jadi omong kosong kalok kita para wanita2 yang sudah di emansipasiin sama R.A. Kartini ini cumak punyak mental tempe tukang porot dan babu di rumah. Meski R.A. Kartini di kloning sampek seribu orang jg gak ngaruh.






5 komentar:

DjemboelKadat mengatakan...

benerrrr... sip2, harus begono emang.. singkirkan perbedaan, saling bergandengan tangan untuk mbangun negara..

baidewe, kok situh kayakna ada "masalah" sama si abbe? kecemburuan sosialkah? (^^,) padahal, temenku ituh -yang notabene sekarang tambah ndak jelas setatus rumahe yang dibanjiri lumpur- lagi asik ketawa ketiwi sambil menikmati ketan bubuk dan ditemani segelas kupi serta sebatang rokok.. hihihi...

P. Budiningtyas mengatakan...

@DjemboelKadat
betul ituh...ndak pakek dikotak2in situ cowok situ cewek

masalah pribadi sih endak..cumak sebel saja liyat mukaknya yang kek buto cakil ituh..kemaki sok ngomongin kepedulian terhadap rakyat kecil, lha belionya mbikin pesta buwat anak2nya dengan mewah, glamor, seperti hartanya endak akan habis...duwitnya endak ada nomer serinya, sangking banyaknya..kok mbayar duit ganti rugi korban lapindo endak beres2..mbok yao, setengah saja wes, setengah dari duwit yang buat parti2 itu disumbangin ke orang2 ndarjo yang kena lumpur itu, sepertinya lebih bermanpaat, lha timbah buat parti2 gitu masuknya cumak ke jamban

Andre mengatakan...

Wah..susah kalo ngomongin emansipasi wanita secara saya termasuk orang yang suka pada wanita yang patuh dengan saya.. >,<

mas stein mengatakan...

pertama koreksi sedikit mbak, I can do what mens does, kalo saya ndak salah men itu sudah jamak, jadi ndak perlu ada s lagi di blakangnya. kalo saya salah ya maap, wong dasarnya saya ini jawa, bukan londo.

saya pikir sudah ndak jamannya teriak-teriak emansipasi mbak. misalnya ada yang riwil soal komposisi anggota dewan yang harusnya berapa persen perempuan. lha ini minta penyetaraan kok minta pengistimewaan?

sekarang waktunya unjuk kemampuan saja lah mbak, ndak perlu ngomong komposisi, kalo memang yang mampu cuma perempuan mbok diisi segedung cewek semua yo ndak masalah.

soal tampil cantik, bisa masak, dsb, dsb, saya pikir cuma soal kompromi saja. kalo sudah nikah tentu butuh survive, sukur-sukur bisa lebih. pembagian peran itu perlu, tapi ndak saklek, tergantung kebutuhan saja.

P. Budiningtyas mengatakan...

hahaha..trimakasih koreksinya..sebenernya memang i can do what men can do..saya menganut inggris kesusu je

Cobak negri ini ada orang kek sampeyan 500 orang saja, trus kepilih jadi anggota DPR..wes to tak jamin bisa maju indonesia ini