Jumat, 16 April 2010

Seperti dalam cerita "Bukan Pasar Malam"


Tulisan ini merupakan kelanjutan dari gamblehan nDaru tentang pengalaman seseorang di Universitas Nganu, tepatnya di Program Setudi Pendidikan Guru Sekolah Mbelgedes yang sudah Ndaru posting bulan lalu. Kalok liyat judulnya, itu nDaru ambil dari novelnya Pramoedya Ananta Toer. Soalnya, kisah seseorang ini hampir sama dengan alur cerita novelnya mBah Pram itu.

Pada awalnya, kami berduwabelas datang berduyun-duyun seperti rombongan penikmat pasar malam yang selaluh datang bergerombol. Sebelas asisten dan satuh tenaga administerasi. Sayah masih ingat hari ketika kami mengikuti orientasi Asisten Program Setudi Guru Sekolah Mbelgedes. Layaknya orang baru, kami saling berkenalan dan seperti satu visi buwat bekerja demi kebaikan guru-guru sekolah negeri inih. Sayah endak menangkap sedikitpun bayangan keserakahan ato ambisi pribadi tertentu di mata sebelas orang lainnya yang duduk mengitari sayah.

Kami pun menempati satuh ruangan besar yang merupakan bekas tempat orang bereksperimen. Ruangan ituh cukup luas, tetapi meja-meja dan kursi-kursinya tidak mirip seperti kantor sungguhan. Ndak papalah, yang penting bekerja sajah. Tempat itulah yang jadi sangkar sebelas asisten, termasuk sayah, tempat kami saling mencurahkan segala kekuwatiran dan kebungingan menjalanken peran kami sebagai asisten. Ada kalanya, kami inih melebihi dosen. Lha mosok di perkuliahan Program Setudi Jarak Jauh Banget (PJJB), ada satu kelas yang sayah asisteni, semuaaaa sayah yang bekerja. Dari menyelesaikan ngajar materi kuliyah, mbikin materi buwat mahasiswa, ngoreksi tugas mereka, laluh menentukan nilainya. Eh, yang dapet duwit di akhir perkuliyahan ya dosennya. Cen a** tenan kok! Tapi, ada kalanya jugak, kami endak lebih dari babu para dosen yang harus menjalankan tugas-tugas administerasi mereka.

Di masa-masa awal ituh, layaknya dunia pasar malam dimana orang-orang berduyun-duyun datang, kami juga berduyun-duyun bekerja bareng-bareng, saling menopang satuh sama lain, membuat gerakan saling mendukung. Semua ituh dikerjakan karena kami mulai gerah dengan keberadaan kami yang ternyata tidak dikehendaki oleh oknum-oknum tertentu. Pernah, kami diusir dari rapat program setudi oleh seorang pembesar di sana dengan alasan kasar, “Lha kaliyan ituh siapa?”. Sistem penggajiyan yang tidak jelas memang membuat kami marah, tapih kami sama2 sepakat buwat bersabar. Kami sama-sama marah ketika ada satu asisten yang sakpenake dewe, seperti kerja di tempat simbahnya. Kemudiyan, kami merancang kantor kami sendiri, mengubah laboratorium usang menjadi tempat yang (agak) layak untuk dihuni segerombolan manusiya yang katanya punya tugas mengajar ratusan kepala calon guru. Semua berjalan seperti dunia pasar malam, berduyun-duyun tertib mengisi daptar absen, berduyun-duyun saling melengkapi.

Tapi, selanjutnya, ketika dinamika dan godaan datang, terbuktilah perkataan novelis legendaris Indonesiya tercinta, Pramoedya Ananta Toer, bahwa manusia ituh bukan pasar malam, tidak berduyun-duyun lahir lalu berduyun-duyun mati. Semakin jelaslah siapa yang menyimpan ambisi tertentu dan menjadi sakpenake dewe. Mereka yang ternyata hadir di kantor itu karena hubungan darah yang tak terbantahkan semakin congak mengambil segala jenis pekerjaan dan proyek, merasa aman dengan posisi yang sudah dipatoki pring sama bapak-bapak mereka. Lalu, endak ada lagi empati ke teman-teman lain, termasuk sayah yang dicap sebagai saingan terberat meski sayah juga ndak mudeng sayah perlu menyaingi mereka dalam hal apa. Ada diantara kami yang memilih untuk menjadi babu sejatinya para dosen, mengerjakan apapun yang mereka minta sampek harus opnam di rumah sakit, kekeselen. Ada yang diam-diam berusaha menjilat bokongnya petinggi dengan mengikuti program beasiswa yang katanya “bisa menjadi jalan buwat andah masuk ke sinih”. Ada yang mutung, tapih tetap tidak bisa menunjukkan ketidakberdayaannya sehingga masih manut-manut sajah.

Sayah sendiri? Sejak awal, sayah memang sudah seperti anjing sayah di rumah yang sensitif sama orang-orang ato bau-bau yang endak bener. Sayah kukuh bilang endak terhadap segala peraktek yang merugikan moralitas sayah sebagai pengajar calon guru. Saya ndak tau itu cuma idealisme semata, tetapi sayah mantap menjalaninya. Sebagai konsekuwensi, sayah berjalan sendiriyan, menjadi pengangguran di kantor yang lebih sering menghabiskan waktu di luar kantor sambil belajar dan berkreyasi sendiri sajah.

Duniya pasar malam itu runtuh seketika. Masing-masing berpikir kebutuhan dan nasibnya sendiri. Dan, mereka yang sudah merasa aman dengan posisi karena keberadaan bapak-bapak mereka menegakkan kepala bagaikan puteri mahkota, lalu dengan cepat lupa terhadap segala janji dan komitmen yang mereka gaungkan dulu. Sayah ingat bagaimana mereka mengkritik sistem kurikulum program setudi ini, sikap dosen-dosen yang endak berkomitmen sama ngajar dan mementingkan proyek ratusan juta rupiah, juga suasana pembelajaran yang kuno. Eh, sekarang mereka munduk-munduk di depan para dosen.

Seperti tokoh Bapak dalam novel Bukan Pasarmalam ituh, sayah juga kecewa melihat polah tingkah teman sekompariot sayah yang berebut kursi dan duwit. Sayah memang tidak seperti dua teman sayah yang saking kecewanya laluh mundur dan mencari pekerjaan lebih layak. Sayah masih mempertahankan harapan untuk memetik buah dari benih yang saya tanam, tapi sayah juga endak mau sakit TBC seperti Bapak dalam novel Pasarmalam itu. Sedapat mungkin sayah menganggap pengalaman inih sebagai pelajaran untuk tidak melupakan dunia pasar malam yang kadang harus diterapkan dalam hidup. Lainnya? Ha preekkkk!


7 komentar:

mas stein mengatakan...

bagus mbak, paling ndak idealisme sampeyan bukanlah idealisme perut. time will tell mbak...

Chic mengatakan...

jadi inget film 3 Idiots.. :D

Handrie mengatakan...

jadi pengen jalan2, setelah uts nih,,

P. Budiningtyas mengatakan...

@ mas stein
wah..itu sebenernya bukan murni idealisme saya je, tapi saya akui kalok saya jugak menganut paham yang sama dengan tokoh yang saya tulis itu

@ mbak chic
yang india itu ya mbak? yang ada aamir kahn itu kan?

@handrie
ke pasar malam aja

petrus wijayanto mengatakan...

hm.. uneg-uneg

P. Budiningtyas mengatakan...

@ pak wit
betul pak,cumak disini bisa ngeluh, maki2,nyerapahin orang hehehee

freak dreamer mengatakan...

sek ra brubah wae yo, Ru..para oknum Universitas Nganu ituh.
kalo manut urusan perut dan bawah perut, memang yang namanya manusia nggak akan pernah puas meski dikasih dunia seisinya.

Sabar ajah, Ru...semua itu ada yang ngawasin dan kerjaan Ndaru juga ada yang ngehargai..