Kamis, 26 Agustus 2010

Simbah

Sumribit angin midhit rena rena ngelus langit sore
Manuk grejo bali ing pucuking sanakeling
Tumekaning surup sing tintrim nyenyet
Gawang-gawang katon pasuryanira

Sawah, pategalan bawera sa' kiduling kedung
Lumaku saktengahing kunang-kunang
Kumelip sangu wangsit saka pucuking Gunung Merbabu

Dhuh Simbah Putri kang wus tumeka ing kasedan jati
Wayahira isih nyawang pucuking Gunung Merbabu
Ana ing saktengahing sawah pategalan sing dadi pangeling

O, Simbah Putri
Saiki panggonanira ing pangayunaning Sang Akarya Jagad
Isih bisa nyawang ana ing panggonan lan padintenan iki
Sawangen wayahmu


P. Budiningtyas
-----


Puisi nekat ini nDaru tulis pas ultah simbah putri nDaru dari Jogja kethip sana. Untuk pertama kalinya nDaru ndak ngucapin sugeng tanggap warso secara langsung karena simbah sudah dipanggil Tuhan setahun lalu. Memang, berbicara soal simbah selalu punya kesan yang beda buat cucu ya, apalagi kalok sebagai cucu kita deket sama simbah kita. Buat nDaru, nDaru ndak cuma menghadapi sosok simbah putri yang mbengok nyuruh nDaru makan ato mandi dan ngelus2 jidat nDaru supaya nDaru cepet tidur, tapi juga sebuah pribadi yang berani menjalani tiap peran dalam tiap lakon hidup yang berbeda selama hampir 80 tahun.

Dia lahir di jaman negara ini belum merdeka. Bahkan, dia jugak sempet ngikut perang meski nDaru yakin simbah ndak megang Tommy Gun ato M3A1 pas itu. Soale dulu nDaru pernah tanyak kekmana megang senjata itu, tapi simbah malah njawab ,”Simbah nek perang mung sangu minyak, ben ra dicokoti nyamuk”. Walah! Tapi dari keterlibatan itu simbah membawa sebuah prinsip untuk ndak menyerah melakoni hidup yang kadang pagi dele dan sore jadi tempe, ndak jelas mau kemana.

Ketika setelah jaman merdeka dan memutuskan menjadi seorang pengajar, dia rela jalan kaki belasan kilo buat ngajar murid-muridnya. Komitmen itu ndak berubah sekalipun kemudian dia harus mengurus enam orang anak. Malah, simbah ikutan jadi pengurus Dharma Wanita, PKK, dan kegiatan lain. Kalok denger dia cerita kegiatan rutinnya di dua organisasi itu, nDaru bisa mbayangin simbah ini ndak pernah berhenti pidato menyemangati teman2 sekompariotnya dan ndak sekalipun mingkem, selalu ada ide kreatip.

Di rumah, dia jadi sosok ibu yang melindungi dan mengarahkan anak2nya dengan sungguh2. Bulik nDaru dulu pernah pulang kemaleman dan disemprot disuruh pulang pagi sekaliyan. Hihi. Tapi, dia menyambut anak2 dengan sapaannya yang hangat tiyap kali mereka pulang dari sekolah dan memanjakan mereka dengan masakannya. Ketika anak2 itu besar, simbah membiarkan mereka memilih jalan hidup mereka dan membela pulak saat mereka jatuh.

Bahkan ketika dia sudah jadi simbah, dia ndak mau cuman duduk diam di rumah. Dia sering nyepur ke Jakarta buat nemuin nDaru ato ngangkot ke tempat bulik dan paklik nDaru hanya untuk merayakan ultah sepupu2 nDaru. Tapi, selanjutnya saat usia makin uzur, simbah ndak bisa terus-menerus travelling dan harus rela berkutat dengan tubuh tua dan penyakit. nDaru sempet melihat bagaimana dia frustasi dengan keadaan itu. Sebagai pribadi yang memegang teguh prinsip, dia pengen tetap aktip mengemudikan setir kehidupannya. Lalu, dia pun sampai pada satu sikap:pasrah.

Dia jugak sama seperti manusiya lain: pernah tersenyum, pernah begitu bahagianya, pernah terobsesi akan sesuatu, pernah kecewa jugak. Tapi bedanya, dia menghadapi segala ketidakmestian masa tua dengan berani dan rela bilang saya selesai. Setelahnya, dia menutup mata dengan senyum manis dan wajah berseri. Awal manis untuk sebuah kehidupan baru yang abadi. Dan, nDaru akan selalu merindukan sosok itu.

20 komentar:

Arman mengatakan...

waduh bahasa jawa nya kelas tinggi ya... banyak yang gak ngerti gua kata2nya. hehehe.

lagi kangen ama simbah ya...

P. Budiningtyas mengatakan...

@Bang Arman,
ehehehe...itu aja ngawur, kalok orang jawa Asli mungkin ketawa mbacanya

Yaaaaa...begitulah, agak sedikit kangen

chocoVanilla mengatakan...

Kok kau pinter banget to, Jeng? Jarang yang bisa bikin puwisi pake boso jowo gini.

Hiks...hiks... aku jadi inget Mbah Tie ku. Selama kuliah aku ikut Mbah Kung dan Mbah Tie yang super hebat. Modern, demokratis. Sedo di usia 80 an juga.

Met ultah buat swargi Mbah nya Ndaru yaa....

nh18 mengatakan...

Ah ndaru ...
Paragraf terakhir itu ...
Mak Nyos tenan ...
Sangat menyentuh
kata-katanya powerful

Wujud kecintaan kental seorang Cucu pada Eyangnya ...

Salam saya Ndaru

P. Budiningtyas mengatakan...

@Cho2-V
makasih..makasih, asal ndak disuruh ngomong jawa alus aja lah..saya pas kuliyah itu jugak sering ngungsi ke Cangkringan kalok ndak dapet orderan motret, soale saya cuman dikasih sangu tustel sama bapak saya, terus suruh jadi tukang potret amatir nyari sangu sendiri, lha kalok sepi order ya saya nguriki mbah ti ehehehe...*sek ngulap ingus sek*

@ Pak Trainer,
Trimakasih..trimakasih, cinta simbah saya keknya lebih gede pak

orange float mengatakan...

ngak ngerti sama sekali bahasa jawa, pasti isinya sangat menyentuh

P. Budiningtyas mengatakan...

@ OrangeFloat


Semilir angin membelai langit sore
Burung Gereja pulang ke pucuk(pohon) Sonokeling
Hampir tiba senja yang suram dan sepi
Samar samar terlihat wajahmu

Sawah, ladang luas di sebelah selatan danau
Berjalan ditengah (kerlip) kunang-kunang
Berkedipan membawa wangsit dari puncak Gunung Merbabu

Duh nenek yang tlah tiada
Cucumu masih memandang puncak Gn Merbabu
Dari tengah sawah ladang yang menjadi pengingat

Oh Nenek,
Sekarang, tempatmu berada di pelukan sang pembuat alam semesta
Masih bisa memandang dari tempatmu, keseharian ini
Pandanglah Cucumu

devieriana mengatakan...

itu puisi bahasa jawanya bikin sendiri?? woogh jyaan, panjenengan menika piyantun jawi sanget..
Nggak kaya aku yang jawa abal-abal :))

P. Budiningtyas mengatakan...

@Jeng Devi,
hasil bertapa selama berjam-jam dibawah pohon sonokeling, wooo saya ya jawanya cuman separo, mami saya orang mbatak

dian mengatakan...

Untungnya saya dulu pernah dapat pelajaran bahasa Jawa dan mbak kakung pernah langganan Panjebar Semangat, jadi bisa memahami puisi indah Anda.
Salam kenal :)

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Dian,
Makasih..makasih..lha saya ya lengganan Panjebar Semangat itu..lmayan banyak kosakata yang bisa saya apalin

sashimiboy mengatakan...

Mbak blog e samean wes ta temple nang tembok omahku :)

P. Budiningtyas mengatakan...

@Sashimiboy
Gratis kan? endak ada pajak n biaya reklamenya :p

tkj2com mengatakan...

bahasa jawa adalah bahasa yang rumit menurut saya .

P. Budiningtyas mengatakan...

@Tkj2.com
na itulah seninya...simphony bach tidak akan jadi masterpiece kalok nadanya cuman do sama re :p

edratna mengatakan...

Simbahmu benar-benar menyenangkan...banyak hal yang bisa dipetik dari beliau, melihat ceritamu ini.

P. Budiningtyas mengatakan...

@ Ibu Endratna,
ya begitulah...saya sampek hari ini pun belon bisa melupakan simbah, seperti baru kemaren saya dikasih duit 100 perak buat jajan es nong nong..padahal ternyata itu sudah 20 tahun yang lalu

Nohara mengatakan...

aku orang jawa... bisa bahasa jawa, tapi kok nggak mudeng yo...
heee

nDaru mengatakan...

@ Nohara,
lah...nohara bukannya orang jepang?

john botak mengatakan...

Dunia Unik