Rabu, 11 Juni 2008

apa adanya


hari minggu kemarin, tiba2 ndaru pengen pergi ke salon. ini gejala langka buat ndaru sih, soalnya maen gundu ma tenes udah jadi jadwal paten di hari minggu ndaru. cuma, setelah sminggu lembur, begadang, dan berkutat dengan komputer dan segala tetek bengeknya, ndaru ngrasa hari minggu kemarin harus jadi hari santai. lalu, muncullah ide pergi ke salon langganan ndaru yang terletak di pusat perbelanjaan salatiga, persis di belakang warung bakso dan sate. salon itu tergolong murah, cukup terjangkau untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. jadi, langganannya juga banyak. alhasil, ndaru juga harus antre duluan, nungguin beberapa orang yang lagi potong rambut.

eh, baru beberapa menit ndaru duduk buat nunggu giliran, seorang cewek dateng dengan paniknya. dia crita ke mbak salon kalo dia mau membonding rambutnya. alkisah, dia udah membonding tu rambut sejak jaman bbm blom naek dan ini udah yang ke4 kalinya rambutnya dibonding. cuma, gagal semua dan sekarang dia nuntut si mbak salon buat membonding rambutnya dengan sukses. cewek itu bercerita dengan semangat 100 tahun kebangkitan nasional, kek dia yang paling menderita gara2 rambutnya aneh (menurut dia) dan ga peduli suaranya yang melengking itu ngalahin suaranya 4 hair dryer salon.

pas ndaru perhatiin, (maap) penampilan cewek itu emang rada berantakan. secara, rambutnya campuran lurus ma bergelombang - kekmana coba? jadi, rambut yang udah dibonding itu mulai balik ke kriwil lagi, sementara yang bagian ujung masih tetep lurus. mbak salon yang langganan nanganin ndaru berbisik ke ndaru, “cewek itu malah aneh dengan rambut lurus ya ru?”. ndaru iyain si mbak salon, soalnya emang rambut lurus cewek itu kelihatan ga serasi ma bentuk mukanya.
kenapa sih sekarang banyak cewek yang terobesesi dengan rambut lurus? coba kita mampir ke salon2 di sekitar kita, pasti kebanyakan dari para cewek yang datengin salon selalu minta rebonding rambut. ya, kalo cocok, tapi kalo ga? kebanyakan cewek yang ndaru temuin kelihatan ‘memaksa’ diri. jatahnya rambutnya bergelombang tapi dipaksa diubah jadi lurus. dan, hasilnya juga jadi ‘maksa’. ya, emang si persoalan membonding atau mengapakan rambut tu hak masing2 orang yang punya rambut. tapi, kenapa sih kita tidak mencoba untuk menjadi apa adanya saja? tuhan tu mahapinter loh, dia serba bisa. coba kita ngaca, trus mikir dengan muka yang kek gini kenapa tuhan ngasi kita rambut seperti ini juga. semua pasti udah diitung serba teliti ma tuhan. jadinya, emang ada beberapa orang yang punya rambut lurus, tapi juga ada banyak orang yang dikasi rambut bergelombang bahkan kriwul. coba kita pikir, kekmana jadinya tuh kalo wimar witoelar rambutnya lurus kek brad pitt, kan malah aneh!
ndaru nulis ini bukan brarti mengharamkan orang yang dateng ke salon buat membonding, mengkriting, atau mengapakan rambut mereka loh. sah2 aja kita ke salon, karena emang rambut butuh dirawat dan merawat rambut juga bagus. seharusnya kehadiran salon2 bukan bikin kita merubah diri kita yang asli, tapi sebaliknya, kehadiran industri kecantikan semacam itu justru membantu kita untuk semakin menghargai apa yang kita miliki. jadi, ya ga usah terpengaruh dengan jor2an iklan tolol yang mendewikan rambut lurus, kulit putih, dan tubuh kurus sebagai ukuran kecantikan. pasti ada hal2 lain yang lebih berharga untuk dipakai sebagai ukuran kecantikan. sikap, kepribadian, dan pola pikir misalnya. dan, menurut ndaru, sikap apa adanya bisa jadi bahan ukuran kecantikan seseorang, karena dengan menjadi apa adanya kita tidak berpura-pura menjadi orang lain dan menghargai diri kita seperti adanya kita ini.

2 komentar:

Lumiere mengatakan...

nice pict...bukan soal cewenya yak [jgn salah paham dulu] tapi soal momentum waktu foto itu diambil, pas banget...

salut

si nDaru mengatakan...

Kece ya def...ndaru candid di dufan noh..moga2 yang bersangkutan ga liat hihihi